Suasana perkampungan di sore hari musim kemarau; uddara terasa hangat, jalan berbatu, persawahan menguning siap dipanen, dan pohon-pohon kelapa melambai ditiup angin yang berhembus cukup kencang.
Ufuk barat perlahan menjingga, sementara kelelawar mulai menggantikan peran burung pipit yang pulang ke peraduan. Namun anak-anak masih bergeming di pinggir kampung; dalam benak mereka, pulang ke rumah hanya akan dilakukan ketika hari benar-benar menjelang magrib.
Di jalan berbatu itu, beberapa orang muda tampak berjalan agak canggung, seolah belum terbiasa melangkah di atas bebatuan. Mereka adalah para mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Bandung yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balandongan.
Konon, selain mengabdi, mereka juga tengah mengumpulkan bahan penelitian sebagai dasar skripsi sebelum benar-benar menuntaskan masa studinya. Sejak sepekan pertama KKN, mereka kerap berjalan-jalan sore, mengenal dan mengeksplorasi lingkungan perkampungan yang masih asri, tempat vegetasi dan kehidupan manusia benar-benar menyatu dengan alam.
Sebelum menjadi bagian dari Kota Sukabumi, Balandongan memang kerap menjadi tujuan KKN mahasiswa. Kampung kami menjadi objek penelitian sekaligus mitra dialog para mahasiswa, terutama dalam mengamati kehidupan pemuda yang perlahan akan meninggalkan cara hidup rural menuju kehidupan urban.
Para mahasiswa itu berasal dari kota besar seperti Bandung. Kendati daerah asal mereka bisa saja lebih “kampung” dari Balandongan, setidaknya selama tiga hingga empat tahun mereka telah hidup di kota. Dari sanalah mereka belajar membedakan ritme, nilai, dan cara hidup kota dan kampung.
Objek penelitian para mahasiswa pun beragam. Kehidupan masyarakat kampung menjadi sorotan utama, termasuk infrastruktur dan suprastruktur sosial. Peranti keras dan lunak masyarakat seperti keberadaan pos ronda, tingkat keguyuban warga, hingga relasi sosial, tak luput dari pengamatan.
Aktivitas remaja dan pemuda turut dikaji; mulai dari kegiatan remaja masjid, karang taruna, pergaulan sehari-hari, hingga cara orang kampung hidup bersama dalam semangat gemeinschaft. Perubahan pola hidup, seperti peralihan dari jamban umum ke jamban di dalam rumah, serta pengelolaan drainase dan sanitasi lingkungan, juga menjadi bahan diskusi dan pertanyaan.
Sesungguhnya, untuk urusan infrastruktur dan suprastruktur, para mahasiswa lebih banyak melakukan konfirmasi. Data dasarnya telah disediakan oleh kantor desa. Fasilitas umum di perkampungan tidak jauh berbeda dengan di perkotaan; yang membedakan hanyalah bahan dan bentuknya.
Jika di kota masjid jarang memiliki kolam di bagian depan, di Balandongan hingga awal tahun 2000-an, hampir setiap masjid masih memilikinya. Masjid sebagai fasilitas umat juga masih berupa bangunan sederhana, tanpa kubah besar seperti di perkotaan.
Utilitas listrik dan air bersih pun sudah tersedia, meski cara pemanfaatannya berbeda. Air bersih masih ditimba langsung dari sumur, dan penggunaan pompa listrik belum dianggap perlu, meskipun listrik telah masuk sejak 1986.
Suprastruktur masyarakat Balandongan yang paling menonjol pada era 1980–1990-an adalah kegiatan kepemudaan yang mendapat sokongan langsung dari kantor desa. Terutama menjelang pemilihan umum, dukungan itu semakin terasa.
Ufuk barat perlahan menjingga, sementara kelelawar mulai menggantikan peran burung pipit yang pulang ke peraduan. Namun anak-anak masih bergeming di pinggir kampung; dalam benak mereka, pulang ke rumah hanya akan dilakukan ketika hari benar-benar menjelang magrib.
Di jalan berbatu itu, beberapa orang muda tampak berjalan agak canggung, seolah belum terbiasa melangkah di atas bebatuan. Mereka adalah para mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Bandung yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balandongan.
Konon, selain mengabdi, mereka juga tengah mengumpulkan bahan penelitian sebagai dasar skripsi sebelum benar-benar menuntaskan masa studinya. Sejak sepekan pertama KKN, mereka kerap berjalan-jalan sore, mengenal dan mengeksplorasi lingkungan perkampungan yang masih asri, tempat vegetasi dan kehidupan manusia benar-benar menyatu dengan alam.
Sebelum menjadi bagian dari Kota Sukabumi, Balandongan memang kerap menjadi tujuan KKN mahasiswa. Kampung kami menjadi objek penelitian sekaligus mitra dialog para mahasiswa, terutama dalam mengamati kehidupan pemuda yang perlahan akan meninggalkan cara hidup rural menuju kehidupan urban.
Para mahasiswa itu berasal dari kota besar seperti Bandung. Kendati daerah asal mereka bisa saja lebih “kampung” dari Balandongan, setidaknya selama tiga hingga empat tahun mereka telah hidup di kota. Dari sanalah mereka belajar membedakan ritme, nilai, dan cara hidup kota dan kampung.
Objek penelitian para mahasiswa pun beragam. Kehidupan masyarakat kampung menjadi sorotan utama, termasuk infrastruktur dan suprastruktur sosial. Peranti keras dan lunak masyarakat seperti keberadaan pos ronda, tingkat keguyuban warga, hingga relasi sosial, tak luput dari pengamatan.
Aktivitas remaja dan pemuda turut dikaji; mulai dari kegiatan remaja masjid, karang taruna, pergaulan sehari-hari, hingga cara orang kampung hidup bersama dalam semangat gemeinschaft. Perubahan pola hidup, seperti peralihan dari jamban umum ke jamban di dalam rumah, serta pengelolaan drainase dan sanitasi lingkungan, juga menjadi bahan diskusi dan pertanyaan.
Sesungguhnya, untuk urusan infrastruktur dan suprastruktur, para mahasiswa lebih banyak melakukan konfirmasi. Data dasarnya telah disediakan oleh kantor desa. Fasilitas umum di perkampungan tidak jauh berbeda dengan di perkotaan; yang membedakan hanyalah bahan dan bentuknya.
Jika di kota masjid jarang memiliki kolam di bagian depan, di Balandongan hingga awal tahun 2000-an, hampir setiap masjid masih memilikinya. Masjid sebagai fasilitas umat juga masih berupa bangunan sederhana, tanpa kubah besar seperti di perkotaan.
Utilitas listrik dan air bersih pun sudah tersedia, meski cara pemanfaatannya berbeda. Air bersih masih ditimba langsung dari sumur, dan penggunaan pompa listrik belum dianggap perlu, meskipun listrik telah masuk sejak 1986.
Suprastruktur masyarakat Balandongan yang paling menonjol pada era 1980–1990-an adalah kegiatan kepemudaan yang mendapat sokongan langsung dari kantor desa. Terutama menjelang pemilihan umum, dukungan itu semakin terasa.
Aparatur desa dibantu orang-orang dari kota memberikan perhatian penuh pada aktivitas pemuda, dari penyediaan kaus tim sepak bola, bola voli, hingga berbagai perlengkapan lain yang secara anggaran sebenarnya sulit diwujudkan.
Para mahasiswa pun terlibat langsung, hadir dalam pengajian remaja masjid, diberi ruang untuk berbicara dan menyampaikan maksud serta tujuan KKN mereka. Terbangun keakraban antara mahasiswa yang memahami teori sosial dengan masyarakat kampung yang menjalani praktik sosial sehari-hari.
Teori-teori tentang kehidupan perkampungan yang mereka pelajari di bangku kuliah ternyata tidak jauh berbeda dengan realitas di lapangan. Wajar, karena teori sosial memang lahir dari pengalaman empiris para ilmuwan sebelumnya. Para mahasiswa pada dasarnya hanya mengonfirmasi relevansi teori dengan kenyataan yang mereka temui.
Informasi yang akurat dan dialog yang terbuka tentu memperkaya penelitian mereka. Semakin banyak data yang digali dari warga dan pemuda, semakin valid pula kajian tentang paguyuban dan kohesi sosial masyarakat Balandongan, terhindar dari kesan mengada-ada atau sekadar cocokologi.
Bayangkan, jika pada dekade 1980–1990-an jumlah lulusan perguruan tinggi mencapai sekitar 250 ribu orang per tahun, dan meningkat hingga 1,8 juta lulusan pada 2025, berapa juta halaman dokumen penelitian yang sebenarnya telah dihasilkan.
Big data sesungguhnya telah lama diproduksi oleh perguruan tinggi di negeri ini. Sayangnya, kita kerap kurang cakap mengolahnya menjadi dasar pengambilan keputusan yang bernas, termasuk memanfaatkan hasil riset mahasiswa yang tersebar di berbagai daerah.
Pada masa itu, KKN di Balandongan biasanya berlangsung sekitar satu bulan. Setelahnya, para mahasiswa pergi, meninggalkan kesan mendalam bagi kampung dan warganya.
Namun memasuki milenium kedua, mahasiswa dari Bandung dan kota besar lainnya semakin jarang melakukan KKN di Balandongan. Salah satu sebabnya barangkali karena kampung ini telah bertransformasi menjadi wilayah perkotaan, tak lagi sepenuhnya memenuhi imaji “desa” yang dulu menjadi ruang belajar, sebuah lebenswelt, dan cermin sosial bagi orang-orang kota.
Para mahasiswa pun terlibat langsung, hadir dalam pengajian remaja masjid, diberi ruang untuk berbicara dan menyampaikan maksud serta tujuan KKN mereka. Terbangun keakraban antara mahasiswa yang memahami teori sosial dengan masyarakat kampung yang menjalani praktik sosial sehari-hari.
Teori-teori tentang kehidupan perkampungan yang mereka pelajari di bangku kuliah ternyata tidak jauh berbeda dengan realitas di lapangan. Wajar, karena teori sosial memang lahir dari pengalaman empiris para ilmuwan sebelumnya. Para mahasiswa pada dasarnya hanya mengonfirmasi relevansi teori dengan kenyataan yang mereka temui.
Informasi yang akurat dan dialog yang terbuka tentu memperkaya penelitian mereka. Semakin banyak data yang digali dari warga dan pemuda, semakin valid pula kajian tentang paguyuban dan kohesi sosial masyarakat Balandongan, terhindar dari kesan mengada-ada atau sekadar cocokologi.
Bayangkan, jika pada dekade 1980–1990-an jumlah lulusan perguruan tinggi mencapai sekitar 250 ribu orang per tahun, dan meningkat hingga 1,8 juta lulusan pada 2025, berapa juta halaman dokumen penelitian yang sebenarnya telah dihasilkan.
Big data sesungguhnya telah lama diproduksi oleh perguruan tinggi di negeri ini. Sayangnya, kita kerap kurang cakap mengolahnya menjadi dasar pengambilan keputusan yang bernas, termasuk memanfaatkan hasil riset mahasiswa yang tersebar di berbagai daerah.
Pada masa itu, KKN di Balandongan biasanya berlangsung sekitar satu bulan. Setelahnya, para mahasiswa pergi, meninggalkan kesan mendalam bagi kampung dan warganya.
Namun memasuki milenium kedua, mahasiswa dari Bandung dan kota besar lainnya semakin jarang melakukan KKN di Balandongan. Salah satu sebabnya barangkali karena kampung ini telah bertransformasi menjadi wilayah perkotaan, tak lagi sepenuhnya memenuhi imaji “desa” yang dulu menjadi ruang belajar, sebuah lebenswelt, dan cermin sosial bagi orang-orang kota.

Posting Komentar untuk "Senja Itu: Sejumput Kisah Masa Lalu Aku dan Kampung Halamanku (Bagian 30)"