Dalam khazanah kebijaksanaan Nusantara, misalnya di Jawa dikenal ungkapan janma tan kena kinira, yang berarti manusia tidak dapat diperkirakan, dihitung, atau ditebak secara pasti.
Sementara dalam kearifan Sunda terdapat ungkapan jalma teu cicing dina hiji martabat, yang mengandung makna bahwa manusia tidak akan selamanya berada dalam satu keadaan, satu kedudukan, atau satu tingkat kehidupan. Kedua ungkapan ini lahir dari pengamatan panjang para leluhur terhadap dinamika kehidupan manusia yang selalu berubah.
Sering kali seseorang menilai orang lain hanya berdasarkan keadaan saat ini. Orang yang hari ini miskin dianggap akan selamanya miskin. Orang yang saat ini gagal dianggap tidak akan pernah berhasil. Sebaliknya, orang yang sedang berada di puncak kejayaan sering dianggap akan terus berjaya.
Padahal sejarah kehidupan manusia menunjukkan hal yang berbeda. Banyak orang yang dahulu diremehkan kemudian menjadi pribadi yang dihormati. Banyak pula yang dahulu dipuja karena kedudukan dan kekayaannya, kemudian mengalami kemunduran. Kehidupan bergerak dinamis, dan manusia berada di dalam arus perubahan itu.
Karena itulah, kebiasaan menghakimi orang lain sesungguhnya berangkat dari keterbatasan cara pandang manusia. Kita hanya melihat satu bagian kecil dari perjalanan hidup seseorang, tetapi sering kali merasa telah mengetahui keseluruhan kisahnya.
Kita melihat satu kesalahan, lalu menyimpulkan wataknya. Kita melihat satu kegagalan, lalu menganggap masa depannya telah selesai. Padahal manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan belajar, memperbaiki diri, berubah, dan berkembang.
Ungkapan janma tan kena kinira mengajarkan kerendahan hati intelektual. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi pada diri seseorang beberapa tahun ke depan.
Orang yang hari ini sederhana bisa menjadi pemimpin besar. Orang yang hari ini kurang berpendidikan bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Bahkan seseorang yang pernah melakukan kesalahan pun dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi manfaat bagi sesamanya.
Demikian pula dalam ungkapan Sunda jalma teu cicing dina hiji martabat mengingatkan bahwa kehidupan selalu bergerak. Martabat, kedudukan, pengetahuan, kekayaan, bahkan karakter seseorang dapat mengalami perubahan.
Tidak ada jaminan bahwa kondisi hari ini akan sama dengan kondisi esok hari. Maka, kebijaksanaan menuntut kita untuk tidak terburu-buru memberikan cap atau label kepada orang lain.
Sikap yang lebih bijak adalah berusaha melihat sisi baik dalam diri setiap manusia. Menilai dengan prasangka yang baik bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan, melainkan memberikan ruang bagi kemungkinan perubahan.
Ketika kita memandang orang lain dengan penghargaan dan harapan yang baik, kita sedang mengakui bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk bertumbuh menjadi lebih baik daripada keadaan sekarang.
Manusia memang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Hidup adalah perjalanan yang penuh kemungkinan. Karena itu, daripada sibuk menghakimi, lebih baik kita belajar memahami. Daripada merendahkan, lebih baik menghargai.
Dan daripada merasa paling tahu tentang kehidupan seseorang, lebih baik menyadari bahwa setiap manusia menyimpan potensi yang belum tentu dapat kita ukur hari ini.

Posting Komentar untuk "Janma Tan Kena Kinira, Manusia Tidak Dapat Diprediksi"