Sepanjang Jalan Kenangan: SDN Cipanengah

Bagi sebagian orang, sekolah hanyalah bangunan tempat belajar. Namun bagi para alumninya, sekolah adalah ruang tempat kenangan tumbuh, persahabatan dibentuk, dan masa depan mulai dibayangkan. Begitu pula dengan SDN Cipanengah, sebuah sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan masyarakat Lembursitu dan sekitarnya serta meninggalkan jejak yang tidak mudah terhapus oleh waktu.

Sepengetahuan saya, pada rentang tahun 1980–1990-an ketika Lembursitu masih menjadi bagian wilayah Kabupaten Sukabumi, SDN Cipanengah merupakan salah satu sekolah dasar yang memiliki posisi penting di kawasan ini. Bahkan keberadaannya dapat dikatakan sebagai sekolah induk yang menjadi rujukan berbagai kegiatan pendidikan tingkat kecamatan. Pada masa itu ada dua satuan pendidikan yang berdampingan, yakni SDN Cipanengah I dan SDN Cipanengah II.

Banyak kegiatan akademik maupun nonakademik dipusatkan di sekolah ini. Perlombaan antar-sekolah, kegiatan olahraga, hingga pertemuan guru sering kali mengambil tempat di SDN Cipanengah. Tidak berlebihan jika sekolah ini dahulu menjadi salah satu simpul kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Jika menelisik lebih jauh pada jejak sejarahnya, lembaga pendidikan di Cipanengah diduga memiliki akar yang lebih panjang. Pada masa kolonial Belanda, pendidikan dasar untuk masyarakat pribumi berkembang melalui model sekolah rakyat atau Vervolgschool yang kemudian dalam perkembangan tertentu bertransformasi menjadi Sekolah Lanjutan.

Meskipun perlu penelitian arsip lebih lanjut untuk memastikan kesinambungan langsung bangunannya, ingatan kolektif masyarakat masih menyimpan keyakinan bahwa lokasi tersebut telah lama menjadi pusat pendidikan dasar.

Pendidikan dasar pada masa itu tidak sesederhana yang sering dibayangkan sekarang. Kurikulum sekolah rakyat mengenalkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, serta pengetahuan dasar lain yang menjadi fondasi mobilitas sosial masyarakat. Dari sekolah-sekolah seperti inilah lahir generasi yang kemudian menempuh pendidikan lebih tinggi dan bekerja di berbagai bidang.

Memasuki era pembangunan nasional pada masa Orde Baru, pendidikan ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama pembangunan manusia. Program wajib belajar pendidikan dasar mulai diperluas sehingga pemerintah melakukan pembangunan dan rehabilitasi sekolah di berbagai daerah. SDN Cipanengah menjadi bagian dari gelombang kebijakan tersebut.

Pertumbuhan jumlah penduduk usia sekolah membuat kebutuhan ruang kelas dan tenaga pendidik meningkat. Pemerintah tidak hanya membangun gedung, tetapi juga memperluas sistem penyediaan guru. Di Sukabumi berdiri Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Sekolah Guru Olahraga (SGO), dan Pendidikan Guru Agama (PGA) yang bertugas memenuhi kebutuhan tenaga pengajar.

Walaupun demikian, persoalan distribusi guru tetap menjadi tantangan. Banyak wilayah perdesaan masih mengalami keterbatasan jumlah pendidik. Namun posisi Baros dan Lembursitu yang relatif dekat dengan pusat Kota Sukabumi membuat kondisi pendidikan dasar di kawasan ini berkembang lebih cepat dibanding sejumlah wilayah yang lebih terpencil.

Perubahan tersebut perlahan membawa dampak nyata. Angka melek huruf meningkat dan akses pendidikan dasar menjadi semakin terbuka. Generasi yang tumbuh pada dekade 1980–1990-an mulai mengalami perubahan sosial yang cukup besar dibanding generasi sebelumnya.

Di tengah perubahan itu, SDN Cipanengah tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak warga. Tidak sedikit alumninya yang kemudian menjadi guru, pegawai pemerintah, pelaku usaha, tenaga kesehatan, hingga tokoh masyarakat. Sekolah ini menjadi salah satu ruang awal tempat cita-cita dirancang.

Perubahan besar kembali terjadi ketika Lembursitu masuk ke wilayah Pemerintah Kotamadya Sukabumi. Penataan layanan publik, termasuk pendidikan, mulai dilakukan dengan orientasi yang berbeda. Pemerintah kota saat itu berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan sarana, manajemen sekolah, dan pembangunan pusat-pusat pendidikan baru.

Sekitar awal dekade 2000-an, muncul gagasan pengembangan sekolah unggulan yang pada masanya dikenal melalui konsep sekolah mandiri dan penguatan sekolah model. Dalam konteks ini, berkembang kebijakan pendirian sekolah dengan pendekatan baru di berbagai wilayah.

SDN Cipanengah yang sebelumnya berada di Jalan Pelabuhan II kemudian dipindahkan ke lokasi baru pada tahun 2004, berdekatan dengan kawasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Perpindahan ini menandai babak baru perjalanan sekolah sekaligus mengubah lanskap ruang yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari ingatan masyarakat.

Bagi para alumni, perpindahan sekolah tidak hanya berarti berpindah bangunan. Ada kenangan yang ikut tertinggal seperti halaman tempat upacara, ruang kelas yang penuh coretan masa kecil, suara lonceng sekolah, hingga jalan pulang yang setiap hari dilalui. Bangunan lama memang dapat hilang, tetapi pengalaman yang pernah tumbuh di dalamnya tidak ikut lenyap.

Kini, bangunan lama SDN Cipanengah telah benar-benar berubah. Pada lokasi tersebut berdiri Gedung KORPRI yang dibangun pada masa kepemimpinan Muslikh Abdussyukur. Waktu memang terus bergerak dan ruang terus berganti fungsi. Namun bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari SDN Cipanengah, tempat itu akan selalu menjadi sebuah jalan kenangan, tempat masa kecil pernah singgah dan membentuk siapa diri mereka hari ini.

Posting Komentar untuk "Sepanjang Jalan Kenangan: SDN Cipanengah"