Ulang Tahun Bu Ochie dan Balik ka Lembur

Wilujeng Milangkala, Bu Ochie

Bagi sebagian besar manusia, ulang tahun sering dimaknai sebagai hari untuk melakukan refleksi bahkan membangun kembali resolusi. Tak heran jika saat perayaan ulang tahun, orang-orang terdekat mengucapkan selamat, menghaturkan harapan, dan memberikan hal terbaik sebagai bentuk rasa syukur.

Sementara orang yang berulang tahun meresponsnya dengan refleksi dan resolusi agar kehidupan yang sudah dijalani, sedang dihadapi, dan akan dilalui menjadi lebih berkah serta dipenuhi kebaikan. Semua yang dilakukan manusia saat merayakan ulang tahun dirinya atau orang lain merupakan simbol bahwa hidup terus mengalir kendati penuh dinamika.

Hari ini, Tim Dokumentasi Pimpinan Kota Sukabumi merayakan milangkala Bu Ochie, pimpinan yang selalu memberikan ruang bagi para staf untuk terus bertumbuh. Kendati tidak dilakukan secara mewah, kami hanya memberikan kue dan makan bersama. Namun simbol sederhana ini merupakan bentuk pengakuan terhadap kebermanfaatan kehadiran seorang ibu yang selama ini membersamai, membimbing, dan memberikan ruang bagi orang-orang di sekitarnya untuk berkembang.

Perayaan ulang tahun memang bukan tradisi leluhur Nusantara karena bagi mereka siklus kehidupan tidak ditentukan oleh nilai subjektif berupa umur seseorang. Bagi leluhur Nusantara, siklus kehidupan atau kala/mangsa merupakan nilai universal dengan spektrum yang cukup luas, bukan hanya ditentukan oleh umur atau usia manusia yang hanya seumur jagung jika dibandingkan dengan satu siklus kehidupan dunia semata. Kendati demikian, manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peran untuk mengambil saripati dari siklus kehidupan alam ke dalam siklus hidup dirinya, meskipun hanya dalam hitungan satu tahunan.

Dalam pendekatan paralogis, kue dipandang sebagai simbol dari hasil bumi yang telah dihimpun dan diolah menjadi satu kesatuan. Tepung, telur, gula, air, dan berbagai bahan lainnya berasal dari unsur-unsur yang berbeda, namun kemudian dipadukan hingga melahirkan cita rasa baru. Karena itu, kue dalam berbagai tradisi bangsa sering menjadi simbol keberkahan, ketersediaan pangan, kecukupan hidup, dan rasa syukur atas rezeki yang diterima.

Melalui pemberian kue, orang-orang yang berada di sekitar kita sesungguhnya sedang menyampaikan doa dalam bahasa simbol. Mereka berharap agar orang yang berulang tahun senantiasa hidup dalam kecukupan. Jika ditinggikan lagi maknanya, simbol tersebut bukan hanya tentang memiliki banyak hal, melainkan tentang kemampuan untuk merasa cukup. Sebab dalam banyak ajaran kebijaksanaan, merasa cukup merupakan salah satu bentuk kekayaan yang paling tinggi.

Kue juga mengandung simbol kebersamaan. Berbagai bahan yang berbeda dapat menyatu menjadi satu bentuk yang utuh. Karena itu, kue dapat dimaknai sebagai lambang gotong royong, saling memberi, saling menerima apa adanya, dan kemampuan manusia untuk hidup berdampingan dalam berbagai perbedaan.

Di masyarakat Nusantara, kebiasaan ini identik dengan berbagai upacara kenduri dan selamatan. Orang-orang berkumpul di satu rumah atau tempat, kemudian memanjatkan pujian kepada Yang Maha Kuasa, dilanjutkan dengan makan bersama yang disiapkan oleh tuan rumah. Tidak ada keterpaksaan, melainkan kerelaan untuk saling berbagi.

Makan bersama adalah simbol penyatuan rasa. Ketika orang-orang duduk dalam satu hamparan, menikmati makanan yang sama, dan berbagi cerita dalam suasana yang sama, sesungguhnya mereka sedang memperkuat ikatan sosial yang menghubungkan satu sama lain. Atas alasan itu, melalui gelombang budaya yang dipancarkan dari masa lalu ke masa kini, perayaan ulang tahun seseorang hampir selalu diisi dengan makan bersama. Tradisi boleh berubah, tetapi makna kebersamaan yang dikandungnya tetap hidup.

Kami, Tim Dokumentasi Pimpinan, diajak makan bersama di “Balik ka Lembur”, sebuah rumah makan sederhana bercorak tradisional yang terletak di Kabupaten Sukabumi. Menu yang ditawarkan benar-benar mengingatkan pengunjung pada kehidupan masa lalu, salah satunya cobek belut. Nuansa yang terbangun di tempat ini juga benar-benar memiliki corak kampung atau lembur.

Jika dikorelasikan dengan milangkala Bu Ochie, makan bersama di Balik ka Lembur sebetulnya merupakan simbol yang sangat menarik. Dalam pendekatan paralogis, lembur atau kampung adalah ruang asal tempat seseorang pertama kali mengenal kehidupan. Di sanalah manusia belajar berbicara, mengenal kasih sayang, memahami tata krama, merasakan kebersamaan, dan membangun jati dirinya.

Karena itu, Balik ka Lembur dapat dimaknai sebagai ajakan untuk kembali kepada akar kehidupan. Kembali mengingat siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang selama ini membentuk perjalanan hidup kita.

Jika kue menjadi simbol kecukupan, dan makan bersama menjadi simbol kebersamaan, maka Balik ka Lembur menjadi simbol purwadaksi atau upaya menengok kembali asal-usul diri. Ketiganya saling terhubung dalam relasi manusia yang hidup berkecukupan, memiliki kebersamaan, dan tidak melupakan asal-usulnya. Dengan demikian, manusia akan lebih mudah menemukan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Jadi, ulang tahun adalah ruang refleksi untuk kembali menyadari siapa diri kita yang sebenarnya. Momentum untuk melihat perjalanan yang telah ditempuh, mensyukuri keberkahan yang diterima, mempererat hubungan dengan sesama, serta mengingat kembali akar yang menjadi pijakan hidup kita.

Proses inilah yang sering terlupakan ketika kita masih memandang ulang tahun hanya sebagai waktu untuk mengulang tanggal lahir dan bertambah umur.

Posting Komentar untuk "Ulang Tahun Bu Ochie dan Balik ka Lembur"