GPM Itu Gerakan Pangan Murah, Tapi Plesetannya Bisa Bermacam-Macam

Photo: Mang Agus

Orang Indonesia memang ahli dalam banyak hal, terutama dalam memelintir akronim. Sejak dekade 1980-an, berbagai plesetan singkatan telah menjadi bagian dari budaya populer, bahkan diabadikan dalam lagu. Salah satu contohnya adalah grup musik orkes Melayu PMR, yang dimotori oleh Jhony Iskandar. Nama grup ini merupakan kependekan dari Pengantar Minum Racun.

PMR juga pernah menciptakan lagu berjudul DUIT, yang judulnya diplesetkan menjadi Doa, Usaha, Iman, dan Takwa. Bahasa slang memang semakin marak di kalangan komunitas remaja urban saat itu. Masih dari PMR, ada lagu berjudul Istilah Bercinta yang memuat beragam permainan kata. 

Dalam kamus bercinta ala PMR, misalnya, ada istilah rolex alias risiko orang jelek, cileduk alias cinta lewat dukun, romantis alias rokok, makan, gratis, serta jeki untuk menggambarkan ejekan yang membuat seseorang sampai merasa keki.

Bagi pencinta dangdut Melayu dan sebagian masyarakat kita, istilah-istilah semacam itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan. Semuanya sekadar selorohan, permainan kata yang mengundang tawa. 

Namun, dalam kajian linguistik, kemunculan istilah baru merupakan fenomena yang menarik untuk ditelaah. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merekam kreativitas, kebiasaan, dan perubahan cara masyarakat memandang dunia.

Generasi X dan Y pun mengalami hal serupa. Pada dekade 1990-an, muncul berbagai plesetan seperti najis yang dimaknai sebagai najan jauh ingat selalu, jahat sebagai jatuh hati, hingga cilukba sebagai dicium, dipeluk, dan diraba. 

Memasuki dekade 2010-an, permainan kata semacam itu bersentuhan dengan ungkapan berbahasa Inggris, seperti ILU, IMU, dan IKU: I Love You, I Miss You, dan I Kiss You.

Jika ditengok dari sudut pandang generasi sekarang, sebagian istilah tersebut mungkin terdengar kampungan atau, dalam bahasa Gen Z, kurang jelas. Generasi yang tumbuh bersama internet dan arus informasi cepat ini cenderung terbiasa dengan ungkapan yang ringkas, langsung, dan mudah dipahami. 

Tentu saja, ini bukan berarti setiap anggota Gen Z memiliki cara berbahasa yang sama. Setiap generasi mempunyai pengalaman, lingkungan, dan selera humor yang ikut membentuk cara mereka menggunakan bahasa.

Walakin, plesetan akronim tidak selalu lahir dari perencanaan matang. Sering kali, ia muncul secara spontan, dipicu oleh situasi sederhana atau percakapan sehari-hari. Seperti pagi tadi, ketika Pemerintah Kota Sukabumi kembali menggelar GPM, akronim dari Gerakan Pangan Murah. 

Itulah kepanjangan resminya. Namun, setelah Kang Pebri mengirimkan pesan berisi kata moyan di sebuah grup WhatsApp, secara spontan saya memelintir GPM menjadi Gerakan Pagi-pagi Moyan. Di grup WhatsApp yang lain, Bu Ochie punya tafsir berbeda, GPM adalah  Gerakan Pagi-pagi Makan.

Begitulah cara kerja humor dalam percakapan sehari-hari. Sebuah akronim yang semula memiliki makna administratif dapat memperoleh arti baru ketika masuk ke lingkungan sosial yang berbeda. 

GPM tidak lagi hanya menunjuk program pemerintah untuk menyediakan bahan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi bahan permainan kata yang tumbuh dari keakraban antarpengguna grup percakapan. Maknanya bergeser, meskipun kepanjangan resminya tidak berubah.

Dalam perspektif budaya populer, gejala semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk kreativitas sehari-hari, bahkan sebagai praktik pop art dalam pengertian yang longgar. Masyarakat menciptakan humor dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. 

Karya atau ungkapan semacam ini tidak selalu membutuhkan perencanaan, panggung, ataupun umur panjang. Ia hadir untuk merespons suasana, mencairkan percakapan, lalu mungkin menghilang ketika perhatian orang beralih ke hal lain. Nilainya justru terletak pada spontanitas dan kemampuannya membangun kedekatan sosial.

Lihat saja akronim MBG. Program Makan Bergizi Gratis yang mulai dikenal luas dalam percakapan publik kemudian melahirkan berbagai plesetan, termasuk Mas Bahlil Ganteng, yang sempat beredar di media sosial. 

Perubahan makna semacam itu memperlihatkan bagaimana sebuah istilah resmi dapat memasuki wilayah humor dan menjadi bagian dari percakapan populer. Di era media sosial, sebuah plesetan bahkan dapat menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan formal tentang istilah yang diplesetkannya.

Realitas sosial hari ini memang semakin dipengaruhi oleh apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Sesuatu yang semula hanya menjadi bahan candaan di sebuah grup dapat meluas menjadi tren ketika dibagikan, ditiru, dan dimodifikasi oleh banyak orang. 

Akan tetapi, hubungan antara realitas sosial dan tren digital tidak berlangsung satu arah. Media sosial mengangkat fenomena dari masyarakat, sementara masyarakat juga mengadopsi, mengubah, bahkan menciptakan fenomena baru melalui media sosial.

Di tengah perubahan yang begitu cepat, bukan hanya isu yang berganti. Cara kita menafsirkan realitas pun ikut berubah. Bahasa yang kemarin terasa lucu bisa jadi hari ini dianggap usang. Istilah yang bagi satu generasi terasa akrab mungkin terdengar asing bagi generasi lainnya. 

Karena itu, memahami bahasa bukan semata-mata perkara mengetahui arti kata, melainkan juga memahami konteks sosial yang melahirkan dan menghidupkannya.

Gen Z, misalnya, tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang berbeda dari generasi X dan Y. Mereka memiliki pengalaman digital yang turut membentuk cara berinteraksi, bercanda, dan mengekspresikan perasaan. Perbedaan itu sesekali melahirkan kebingungan lintas generasi. 

Gen Z mungkin terheran-heran ketika mendengar istilah cilukba yang diplesetkan menjadi dicium, dipeluk, dan diraba. Sebaliknya, generasi X dan Y bisa saja kebingungan ketika mendengar istilah ghosting, sebutan bagi seseorang yang tiba-tiba menghilang dari komunikasi tanpa penjelasan.

Padahal, jika ditarik ke dunia musik, generasi yang tumbuh bersama PMR sebenarnya sudah mengenal tema serupa. Dalam lagu Kamu Pergi Tanpa Pesan, misalnya, kepergian seseorang tanpa kabar menjadi sumber kegundahan. 

Istilahnya mungkin berbeda, tetapi pengalaman emosional yang dibicarakan tidak jauh berbeda. Sebelum ghosting menjadi istilah populer, orang sudah lebih dahulu mengenal rasanya ditinggalkan tanpa penjelasan.

Dan, GPM tetaplah Gerakan Pangan Murah ketika kita berbicara tentang program pemerintah. Namun, di tangan orang-orang yang gemar bermain kata, ia bisa berubah menjadi Gerakan Pagi-pagi Moyan atau Gerakan Pagi-pagi Makan. 

Akronim resmi bekerja untuk menjelaskan sesuatu, sedangkan akronim plesetan bekerja untuk menghidupkan suasana. Keduanya memperlihatkan bahwa bahasa benar-benar bergerak bersama manusia, mengikuti perubahan zaman, dan sesekali membuat kita tertawa.

Posting Komentar untuk "GPM Itu Gerakan Pangan Murah, Tapi Plesetannya Bisa Bermacam-Macam"