Makan Sop Iga dan Bakso Solo di Sagaranten

Salah satu kisah perjalanan saya, Haji Feri, Amran, dan Abaw ke Sagaranten pernah saya tulis sekitar satu bulan lalu. Untuk catatan kali ini, kisah akan saya paparkan berkaitan dengan kuliner yang kami jumpai sepanjang perjalanan.

Namun, kisah menarik tentang perjalanan ke kawasan selatan Sukabumi ini sebetulnya adalah serpihan kisah kami di masa lalu. Bagian tersebut akan saya paparkan di akhir artikel ini.

Di akhir tahun ini, kami akan lebih sering melakukan perjalanan ke Sagaranten. Haji Feri sering mengutarakan alasan sederhana mengapa kami intensif berkunjung ke Sagaranten, yaitu jalan-jalan.

Generasi baby boomers menyebutnya holan-holan, sementara di era normal baru, orang lebih sering menyebutnya healing. Perjalanan memang penting bagi manusia sebagai bentuk rekreasi setelah berjibaku dengan berbagai aktivitas selama sepekan.

Jika kita jeli, kendati terdapat kemiripan kontur alam antara jalan menuju Sagaranten dan Pelabuhanratu, ada detail yang cukup berbeda. Sepanjang jalan menuju Sagaranten, selain masih dipenuhi vegetasi alami dan hutan di bagian yang lebih dalam, terdapat pula ruang-ruang spasial sosial, pusat keramaian, pasar, dan ibu kota kecamatan, misalnya Purabaya. Arus kendaraan juga tidak terlalu sibuk jika dibandingkan dengan Jalan Pelabuhan II.

Keberadaan aktivitas sosial seperti pasar dan warung-warung sederhana yang menyajikan aneka hidangan menjadi salah satu alasan mengapa perjalanan ke Sagaranten lebih dapat saya nikmati dan ceritakan dalam beberapa artikel. Saya memang sering mengajak pembaca untuk menelisik masa lalu sebuah kawasan.

Dengan imajinasi sederhana, kita dapat membayangkan bagaimana situasi sepanjang jalan menuju Sagaranten pada tahun 1000 Masehi. Membayangkan suatu wilayah seperti ini dapat menjadi cara untuk membuat perbandingan antara masa lalu dan masa kini. Ini berarti, perubahan terjadi akibat kehadiran manusia di kawasan tersebut.

Bayangkan perjalanan menuju Sagaranten pada tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. Kita mungkin tidak akan menyaksikan keberadaan warung-warung dan pasar yang berkembang seperti sekarang. Perjalanan pada masa itu, selain melewati jalan berkelok dan agak rusak, juga bisa membuat kita penat dan sedikit pusing. Saat ini, pemerintah provinsi telah menyulap jalan menuju Sagaranten menyerupai sirkuit sederhana, dengan cat merah pada bagian bahu jalan.

Menyaksikan hal ini, saya sempat berkata kepada teman-teman bahwa kita seharusnya merasa malu, terutama pemerintah kota dan kabupaten, karena pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi terlihat begitu timpang jika dibandingkan dengan pembangunan di tingkat kota dan kabupaten.

Dengan dalih anggaran yang “itu lebih besar” dan “ini lebih kecil”, pembangunan yang dilakukan pemerintah provinsi, terutama dalam mengoptimalkan infrastruktur jalan beserta marka-markanya, terlihat lebih agresif dan masif selama dua tahun terakhir.

Dengan infrastruktur yang nyaman, kami dapat menikmati perjalanan tanpa harus sering berhenti akibat jalan rusak atau kondisi jalan yang kurang memadai. Kehadiran infrastruktur yang baik ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi baru. Ada satu hal lagi yang patut diperhatikan, ketika berhenti di rumah makan atau kedai kuliner, kami tidak disambut oleh juru parkir liar.

Situasi ini mungkin sangat kontras dengan kondisi di pusat kota. Setiap kali berhenti dan memarkir kendaraan, kita selalu bersinggungan dengan urusan parkir, seolah-olah menggunakan lahan milik orang lain yang harus dibayar. Orang bisa saja merasa enggan mengunjungi suatu kota hanya karena situasi seperti ini, terlebih jika biaya parkir yang dikenakan tidak masuk akal, sebagaimana pernah terjadi di sejumlah tempat wisata.

Empat puluh tahun lalu, kita mungkin akan sulit menemukan kedai bakso di sepanjang jalan menuju Sagaranten. Jika ada, mungkin hanya satu atau dua pedagang bakso keliling.

Namun, setelah infrastruktur berkembang, kita dapat dengan mudah menemukan kedai bakso atau warung kuliner dengan tempat parkir yang cukup leluasa. Seperti hari kemarin, kami berhenti di salah satu kedai Bakso Solo untuk mengisi perut sambil beristirahat sejenak.

Bukan hanya kedai bakso, dari Jubleg, Nyalindung, Purabaya, Cidadap, hingga Sagaranten, berdiri berbagai warung nasi dan penjual buah-buahan. Kita dapat memilih beragam jenis masakan dan olahan yang ditawarkan.

Seperti hari kemarin, dalam perjalanan pulang, kami menikmati sop iga sapi. Menurut Haji Feri dan Abaw, hidangan ini merupakan salah satu sop terenak di daerah tersebut. Bagi saya, apalagi dalam kondisi lapar, tentu saja sop atau jenis kuliner apa pun akan terasa sangat enak.

Itulah jenis aktivitas sosial yang perlahan mulai terbentuk di sepanjang jalan menuju Sagaranten. Kendati demikian, saya yakin jika kita memasuki wilayah pedalaman yang jauh dari pinggir jalan, kita masih akan menyaksikan pemandangan yang menyisakan banyak cerita masa lalu sebuah kampung; rumah panggung, jalan berbatu, mandi di selokan, dan cara-cara sederhana dalam menghadapi kehidupan. Sesekali, memang perlu bagi kita untuk mengeksplorasi wilayah pedalaman Sukabumi.

Geliat pembangunan Sagaranten memang baru terasa pada awal 1980-an hingga 1990-an. Hal ini ditandai oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan dan pentingnya membangun sumber daya manusia untuk kemajuan daerahnya sendiri. Pada masa formatif tersebut, Amran bertutur bahwa dirinya permain bermain band di Sagaranten pada tahun 1990-an.

Kita jangan membayangkan bahwa masyarakat Sagaranten pada masa awal pembangunan sumber daya manusia sudah mengenal band-band Barat secara luas. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mungkin akrab dengan musik tersebut. Penampilan band yang membawakan lagu-lagu Guns N' Roses (GNR) sudah tentu berpotensi mendapatkan resistensi dari para pemuda di perkampungan yang telinganya lebih akrab dengan alunan musik dangdut.

Dengan demikian, di lingkungan penikmat musik dangdut, band remaja yang membawakan musik rock harus siap berhadapan dengan umpatan. Amran dan band-nya memang tampil dalam acara perpisahan sekolah.

Sebagai bintang tamu dari kota yang membawa budaya urban ke tengah-tengah penggemar berat dangdut, penampilan mereka tentu berpotensi mengundang umpatan. Ya, situasinya mirip dengan musik-musik Barat yang pernah disebut sebagai musik ngak-ngik-ngok oleh Bung Karno pada tahun 1960-an. Beruntung, Amran dan band-nya tidak sampai dilempari.

Walakin, saat ini, orang-orang Sagaranten sudah tidak jauh berbeda dengan masyarakat di Belpast. Ketika kita memutar lagu-lagu rock Barat dengan volume keras, mereka mungkin akan memahaminya sebagai musik yang keren.

Jika waktu dapat diputar kembali, mungkin pada masa lalu Amran dan band-nya akan memilih membawakan lagu dangdut Jubaedah milik Mansyur S. daripada memilih lagu-lagu GNR.

Posting Komentar untuk "Makan Sop Iga dan Bakso Solo di Sagaranten"