Hayu Dahar!



Judul di atas jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sepadan dengan akronim; Markimak, Mari Kita Makan. Ungkapan ini menjadi semacam yel yang biasa diungkapkan oleh Tim Dokumentasi Pimpinan (Dokpim) menjelang makan siang atau sehabis berkegiatan.

Pada akhirnya, dari semula sebagai ungkapan candaan berubah menjadi kebiasaan. Hampir setiap hari, bagian Dokumentasi Pimpinan selalu melakukan aktivitas makan bersama yang diawali dengan masak bersama.

Tindakan tersebut semakin selaras dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh seluruh pemerintah daerah, yaitu efisiensi. Hanya saja, bukan berarti di masa normal dan belum ada kebijakan efisiensi, kita dapat semena-mena makan siang di resto atau di kafe dengan mengambil sajian menu yang mahal dan lebih terkesan berfoya-foya. Artinya, Tim Dokumentasi Pimpinan di masa efisiensi atau di masa apa pun telah terbiasa melakukan hal yang sama, yaitu ngaliwet.

Makan sendiri merupakan ciri khas makhluk hidup. Maka pepatah seperti “kita hidup bukan untuk makan, melainkan makan untuk hidup” menjadi sangat relevan dengan kondisi manusia sebagai bagian dari makhluk hidup. Termasuk yang dialami oleh Tim Dokpim.

Karena tim ini berisi manusia, maka makan bersama menjadi kebiasaan yang dipandang sebagai “semi-sunnah”. Kebersamaannya itulah yang menjadi sunnah, sementara mengisi perut di saat lapar untuk menyongsong kegiatan beberapa jam kemudian dianggap sebagai kewajiban.

Jika ditarik jauh ke belakang, makan bersama sebenarnya adalah ciri khas manusia sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di planet ini. Penemuan tembikar dan alat-alat dapur purba adalah bukti nyata—tanpa perlu ditafsirkan macam-macam lagi—bahwa wadah tersebut berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan.

Kini, karena kelangkaannya, tembikar mungkin telah menjadi barang koleksi di museum. Lantas, tembikar dan keramik turunannya dialihfungsikan menjadi karya seni untuk dikoleksi di rumah. Manusia modern memang sering membelokkan fungsi asli suatu benda demi kepuasan diri.

Sejak era Revolusi Kognitif hingga menjelang Revolusi Pertanian, leluhur manusia mengandalkan dua aktivitas penting sebagai penyangga keberadaan mereka, yaitu berburu dan meramu. Mereka hanya menghabiskan waktu sekitar tiga jam per hari untuk mengumpulkan makanan demi memberi nafkah komunitasnya yang mulai menetap di suatu kawasan secara tentatif. Namun, dalam waktu tertentu, leluhur manusia akan meninggalkan kawasan tersebut untuk mencari wilayah baru yang lebih subur.

Revolusi Kognitif menjadi masa bagi manusia untuk melatih kecerdasan dan kerja sama kelompok selama puluhan ribu tahun, hingga akhirnya mereka sampai di era Revolusi Pertanian.

Sejak saat itu, kebutuhan makanan dipasok secara komunal melalui pengelolaan lahan dan domestikasi binatang. Tidak seperti di masa berburu dan meramu, kali ini leluhur manusia harus menetap untuk mengolah lahan, menanam jenis makanan tertentu, merawat, memanen, dan mengonsumsinya bersama-sama.

Waktu luang yang tersisa di luar mencari makan lebih banyak digunakan oleh leluhur manusia untuk berdiskusi, menciptakan alat-alat sederhana, serta tetap diisi dengan momen makan bersama dari pagi, siang, hingga menjelang malam.

Waktu tidur dan istirahat mereka pun sangat panjang. Mereka biasa terbangun di tengah malam untuk melakukan aktivitas ringan, sebelum akhirnya melanjutkan tidur kembali hingga pagi hari.

Tidak jauh berbeda dengan leluhurnya, manusia modern—seperti orang-orang yang tergabung dalam Tim Dokumentasi Pimpinan—sebenarnya melakukan aktivitas yang telah tersalin dari gen leluhur mereka secara genetik.

Jika dulu leluhur manusia berburu dan meramu binatang serta tumbuh-tumbuhan, Tim Dokumentasi Pimpinan saat ini bertugas "berburu" informasi dan dokumentasi, kemudian "meramunya" menjadi rilis berita yang harus disantap dan dipublikasikan kepada khalayak.

Sama halnya dengan makanan, rilis berita yang enak dan bergizi tentu akan mendapatkan perhatian dari khalayak. Sebaliknya, informasi yang kurang matang tidak akan menjadi prioritas pilihan. Kendati demikian, sebetulnya di era disrupsi seperti sekarang, asupan informasi yang sekadar mengejar viralitaslah yang justru paling digandrungi oleh warganet.

Informasi memang ibarat makanan; data adalah bahan bakunya, sedangkan resep dan koki adalah cara memasak serta menyajikannya. Mengolah informasi dan makanan sama-sama memerlukan bahan baku yang segar, resep yang tepat dan seimbang, serta juru masak yang andal. Dengan begitu, selain tersaji dengan cepat, informasi dan makanan tersebut dapat dihidangkan secara menarik sekaligus menggugah selera siapa saja untuk mengonsumsinya.

Namun, untuk urusan mengonsumsi makanan seperti yang terungkap dalam frasa “hayu dahar!”, bagi saya dan teman-teman di Dokumentasi Pimpinan, masalahnya tidak terletak pada sajian atau pilihan menunya. Melainkan, kapan saat yang tepat makanan yang sudah dihidangkan itu siap disikat tanpa ampun.

Makanan jenis apa pun, yang penting memenuhi syarat halal, akan langsung dikonsumsi tanpa diawali basa-basi mengenai siapa yang membuat sambalnya, siapa yang menyiapkan nasinya, atau siapa yang memasak lauk-pauknya. Prinsip kami sederhana: empat sehat, lima seubeuh (kenyang).

Posting Komentar untuk "Hayu Dahar!"