Rapat Koordinasi antara KPK, Kementerian ATR/BPN, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemarin berlangsung cukup padat. Banyak hal dibahas mengenai penertiban aset negara, perlindungan lahan, hingga komitmen mempertahankan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Di hadapan para kepala daerah, Kang Dedi Mulyadi kembali mengingatkan bahwa lahan pertanian tidak boleh dipandang semata sebagai aset ekonomi, melainkan sebagai penyangga kehidupan yang harus dijaga bersama.
Pesan itu masih terngiang ketika saya meninggalkan Gedung BPSDM Jabar, Cimahi. Perjalanan menuju Kota Sukabumi bukan perjalanan yang singkat. Jalanan dipadati kendaraan, terutama saat jam istirahat pabrik, sesekali harus melambat karena kepadatan lalu lintas. Beruntung, kami mengikuti iring-iringan mobil Patwal dan kendaraan dinas Wali Kota Sukabumi sehingga kemacetan yang tidak terlalu parah dapat dihindari. Setelah satu setengah jam duduk di dalam mobil rasa lapar mulai sulit diajak berkompromi.
Memasuki wilayah Sukaraja, kami berhenti di sebuah rumah makan. Tidak perlu berpikir untuk menentukan pilihan menu, Saya, Mang Agus, dan Arnez mengikuti apa saja yang dipesan oleh Pak Wali. Gurame bakar menjadi menu yang langsung beliau pesan. Bagi orang Sunda, gurame bakar hampir selalu menjadi pilihan aman ketika ingin menikmati makan siang yang benar-benar mengenyangkan.
Tak lama kemudian, beberapa porsi gurame bakar berwarna kecokelatan dengan aroma khas bumbu cobek tersaji di meja. Asap tipis masih mengepul. Sambal, lalapan segar, dan beberapa bakul nasi hangat melengkapi hidangan itu. Sejenak rasa lelah selama perjalanan seolah menghilang hanya karena aroma makanan yang menggoda.
Mang Agus tampaknya sudah tidak sabar. Tanpa banyak berbincang, ia langsung mengambil bakul nasi, mencabik bagian ikan, mencampurnya dengan sambal, lalu menyantapnya dengan lahap. Sesekali ia mengangguk pelan. Saya hanya tersenyum melihat caranya menikmati makan siang. Mungkin memang begitulah nikmatnya makanan setelah menempuh perjalanan panjang. Tidak ada yang tersisa selain rasa syukur karena masih bisa menikmati rezeki sederhana itu.
Melihat Mang Agus dan teman-teman lainnya menikmati gurame bakar, saya justru teringat kembali pada pembahasan di ruang rapat beberapa jam sebelumnya. Seekor gurame yang kini tersaji di atas meja ternyata menyimpan cerita panjang. Ikan itu tidak tumbuh dalam hitungan hari. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memeliharanya hingga layak dikonsumsi. Ada peternak yang setiap hari memberi pakan, menjaga kualitas air, dan merawatnya dengan penuh kesabaran.
Begitu pula dengan sepiring nasi yang kami makan. Di baliknya ada sawah yang harus tetap ada, petani yang bekerja sejak subuh, irigasi yang terus mengalir, serta lahan pertanian yang tidak boleh habis oleh pembangunan yang tidak terkendali. Ketika pemerintah berbicara mengenai LP2B, hakikatnya yang sedang dijaga bukan hanya hamparan sawah, melainkan keberlangsungan makanan yang setiap hari hadir di meja makan.
Barangkali kita sering menganggap makan siang sebagai rutinitas biasa. Padahal, setiap suapan adalah hasil kerja banyak orang dan hasil dari ekosistem yang saling berkaitan. Jika sawah terus menyusut, kolam-kolam ikan berubah menjadi bangunan, dan sumber air semakin rusak, bukan tidak mungkin suatu saat makanan yang hari ini terasa biasa akan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh.
Perjalanan kemarin mengajarkan satu hal sederhana. Rapat koordinasi boleh berlangsung berjam-jam dengan berbagai istilah teknis tentang tata ruang dan perlindungan lahan. Namun makna sesungguhnya baru terasa ketika kami duduk di depan seporsi gurame bakar. Saat itulah saya memahami bahwa seluruh kebijakan itu pada akhirnya bermuara pada kebutuhan paling dasar manusia, yaitu memastikan setiap orang tetap dapat menikmati pangan yang cukup, aman, dan berkelanjutan.
Mungkin karena itulah gurame bakar siang itu terasa berbeda. Bukan semata-mata karena bumbunya yang meresap atau dagingnya yang lembut, melainkan karena saya menyadari bahwa di balik seekor ikan dan sepiring nasi terdapat kerja keras petani, pembudidaya ikan, alam yang tetap terjaga, serta kebijakan yang berpihak pada masa depan.
Dan, demi melihat Mang Agus menyantapnya dengan lahap, saya semakin yakin bahwa menjaga lahan pertanian merupakan cara kita menjaga agar kenikmatan makan siang seperti itu tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Pesan itu masih terngiang ketika saya meninggalkan Gedung BPSDM Jabar, Cimahi. Perjalanan menuju Kota Sukabumi bukan perjalanan yang singkat. Jalanan dipadati kendaraan, terutama saat jam istirahat pabrik, sesekali harus melambat karena kepadatan lalu lintas. Beruntung, kami mengikuti iring-iringan mobil Patwal dan kendaraan dinas Wali Kota Sukabumi sehingga kemacetan yang tidak terlalu parah dapat dihindari. Setelah satu setengah jam duduk di dalam mobil rasa lapar mulai sulit diajak berkompromi.
Memasuki wilayah Sukaraja, kami berhenti di sebuah rumah makan. Tidak perlu berpikir untuk menentukan pilihan menu, Saya, Mang Agus, dan Arnez mengikuti apa saja yang dipesan oleh Pak Wali. Gurame bakar menjadi menu yang langsung beliau pesan. Bagi orang Sunda, gurame bakar hampir selalu menjadi pilihan aman ketika ingin menikmati makan siang yang benar-benar mengenyangkan.
Tak lama kemudian, beberapa porsi gurame bakar berwarna kecokelatan dengan aroma khas bumbu cobek tersaji di meja. Asap tipis masih mengepul. Sambal, lalapan segar, dan beberapa bakul nasi hangat melengkapi hidangan itu. Sejenak rasa lelah selama perjalanan seolah menghilang hanya karena aroma makanan yang menggoda.
Mang Agus tampaknya sudah tidak sabar. Tanpa banyak berbincang, ia langsung mengambil bakul nasi, mencabik bagian ikan, mencampurnya dengan sambal, lalu menyantapnya dengan lahap. Sesekali ia mengangguk pelan. Saya hanya tersenyum melihat caranya menikmati makan siang. Mungkin memang begitulah nikmatnya makanan setelah menempuh perjalanan panjang. Tidak ada yang tersisa selain rasa syukur karena masih bisa menikmati rezeki sederhana itu.
Melihat Mang Agus dan teman-teman lainnya menikmati gurame bakar, saya justru teringat kembali pada pembahasan di ruang rapat beberapa jam sebelumnya. Seekor gurame yang kini tersaji di atas meja ternyata menyimpan cerita panjang. Ikan itu tidak tumbuh dalam hitungan hari. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memeliharanya hingga layak dikonsumsi. Ada peternak yang setiap hari memberi pakan, menjaga kualitas air, dan merawatnya dengan penuh kesabaran.
Begitu pula dengan sepiring nasi yang kami makan. Di baliknya ada sawah yang harus tetap ada, petani yang bekerja sejak subuh, irigasi yang terus mengalir, serta lahan pertanian yang tidak boleh habis oleh pembangunan yang tidak terkendali. Ketika pemerintah berbicara mengenai LP2B, hakikatnya yang sedang dijaga bukan hanya hamparan sawah, melainkan keberlangsungan makanan yang setiap hari hadir di meja makan.
Barangkali kita sering menganggap makan siang sebagai rutinitas biasa. Padahal, setiap suapan adalah hasil kerja banyak orang dan hasil dari ekosistem yang saling berkaitan. Jika sawah terus menyusut, kolam-kolam ikan berubah menjadi bangunan, dan sumber air semakin rusak, bukan tidak mungkin suatu saat makanan yang hari ini terasa biasa akan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh.
Perjalanan kemarin mengajarkan satu hal sederhana. Rapat koordinasi boleh berlangsung berjam-jam dengan berbagai istilah teknis tentang tata ruang dan perlindungan lahan. Namun makna sesungguhnya baru terasa ketika kami duduk di depan seporsi gurame bakar. Saat itulah saya memahami bahwa seluruh kebijakan itu pada akhirnya bermuara pada kebutuhan paling dasar manusia, yaitu memastikan setiap orang tetap dapat menikmati pangan yang cukup, aman, dan berkelanjutan.
Mungkin karena itulah gurame bakar siang itu terasa berbeda. Bukan semata-mata karena bumbunya yang meresap atau dagingnya yang lembut, melainkan karena saya menyadari bahwa di balik seekor ikan dan sepiring nasi terdapat kerja keras petani, pembudidaya ikan, alam yang tetap terjaga, serta kebijakan yang berpihak pada masa depan.
Dan, demi melihat Mang Agus menyantapnya dengan lahap, saya semakin yakin bahwa menjaga lahan pertanian merupakan cara kita menjaga agar kenikmatan makan siang seperti itu tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Posting Komentar untuk "Saya dan Mang Agus Makan Gurame Bakar"