Sejarah Bangsa Yahudi (Jilid I)

Sebagai orang yang bukan berlatar belakang sejarawan, saya mungkin termasuk salah satu yang memiliki rasa penasaran untuk menulis—atau paling tidak menyusun—sejarah peradaban umat manusia. Perkenalan saya dengan Yudaisme atau entitas keyahudian telah terjadi sejak kecil. Di madrasah diniyah dan di majelis pengajian, pelajaran sejarah atau tarikh Islam banyak menyoal kisah perjalanan kaum Yahudi, mulai dari era Eksodus (Keluaran) pada zaman Nabi Musa a.s. hingga kemunculan klan mereka di Madinah.

Kisah bangsa Yahudi senantiasa disampaikan secara berimbang di dalam tarikh tersebut. Artinya, para ustaz dan ajengan di kampung menyampaikan sejarah secara objektif. Di satu sisi, banyak dari kalangan Bani Israil, seperti para nabi beserta pengikutnya, merupakan hamba yang saleh. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula dari mereka yang menjadi pembangkang dan menodai ajaran-ajaran ketauhidan yang dibawa oleh para nabi dan rasul.

Realitas tersebut selaras dengan apa yang diuraikan di dalam buku Sejarah Bangsa Yahudi Jilid I ini. Penulisnya mengisahkan dua sisi bangsa Yahudi sebagai manusia yang memiliki dua kepribadian: baik dan buruk. Jadi, apa yang disampaikan oleh para ajengan di kampung saat saya masih kecil memang relevan dengan catatan peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Harus diakui, sejak peristiwa politik awal abad ke-20, ketika diaspora Yahudi kembali menempati Yerusalem, disempurnakan oleh aneksasi Israel terhadap wilayah remi Palestina, mulai muncul pandangan stereotip dari dunia Islam terhadap mereka. Hal ini serupa dengan pandangan para tetangga Yahudi di masa lampau terhadap rekam jejak mereka, yang seolah-olah dipandang gemar mengambil tanah milik bangsa lain.

Posting Komentar untuk "Sejarah Bangsa Yahudi (Jilid I)"