Jl. Pelabuan II, Kadulawang, depan Kantor Kelurahan Situmekar (Tahun 2015)
Jalan Pelabuhan II, sebelum kehadiran Jalan Lingkar Selatan, merupakan jalur panjang yang menghubungkan pusat Kota Sukabumi hingga Cikembar. Pada masa itu, Begeg masih menjadi salah satu wilayah perbatasan kota, ditandai dengan keberadaan tugu batas kota. Saat ini, tugu batas kota dari tembok ini masih dapat dijumpai di sejumlah lokasi, salah satunya di Jalan Leles (sebelah utara Ciseureuh), yang menjadi penanda batas sebelah barat daya antara Kota dan Kabupaten Sukabumi.
Namun, batas kota sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang wilayah administratif. Ia juga menjadi semacam garis imajiner yang membedakan karakter sosial dan kultural masyarakat. Dari Begeg, Sindangsari, Cipanengah, hingga ujung selatan Jalan Pelabuhan II, terbentang kawasan yang pada masa itu masih didominasi persawahan dan masyarakat dengan kultur agraris.
Masyarakat yang tinggal di sebelah selatan Kota Sukabumi, terutama di perkampungan yang dilalui Jalan Pelabuhan II, lazim disebut sebagai orang “Lebak”. Bahkan, angkutan kota jurusan Lembursitu, Cikembar, dan Cikembang kerap disebut sebagai angkutan perkotaan Lebakan.
Secara harfiah, lebak berarti wilayah yang berada di bagian bawah atau dataran rendah. Sebutan itu terasa masuk akal jika dilihat dari perspektif pusat keramaian Kota Sukabumi, kawasan tersebut memang berada di sebelah selatan dan lebih rendah dari pusat kota. Namun, seperti halnya setiap penamaan ruang yang lahir dari perspektif manusia, sebutan “Lebak” tidak selalu memiliki batas yang sama.
Bagi orang-orang di Lembursitu hingga Cikembar, misalnya, wilayah Warungkiara sampai Pelabuhanratu bisa saja disebut sebagai “Lebak”. Sebaliknya, bagi masyarakat Warungkiara, orang-orang dari Lembursitu hingga Cikembar tidak dapat disebut sebagai orang Lebak.
Sampai akhir dekade 1990-an, sepanjang Jalan Pelabuhan II masih menghadirkan wajah rural perdesaan yang perlahan berpadu dengan infrastruktur perkotaan. Bagaimanapun, Jalan Pelabuhan II merupakan jalur penting sejak masa kolonial. Salah satu pemandangan yang menarik pada masa itu adalah deretan tiang dan kabel telepon yang membentang di sepanjang jalan.
Bagi anak-anak yang tumbuh pada masa tersebut, kabel-kabel itu mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari lanskap jalan. Namun jika dipandang lebih jauh, keberadaannya menjadi simbol sederhana bahwa komunikasi antara kota dan desa mulai terhubung. Sebagian besar jaringan tersebut digunakan oleh kantor-kantor pemerintahan.
Bagi sebagian besar orang Lebak, tiang dan kabel telepon merupakan pemandangan yang sudah biasa. Hal ini berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan Kota dan Kabupaten Sukabumi di bagian tengah, terutama wilayah yang belum dilalui jalan utama seperti Jl. Pelabuan II. Mereka relatif jarang bersentuhan dengan infrastruktur semacam itu.
Walakin, memasuki penghujung dekade 1990-an, masyarakat di kawasan tersebut mulai berada pada fase perubahan. Mereka seperti sedang bersiap memasuki kehidupan perkotaan. Wacana perluasan wilayah Pemerintah Daerah Tingkat II Kota Sukabumi pun semakin menguat pada pertengahan dekade 1990-an.
Sejumlah kawasan Lebak yang dilalui Jalan Pelabuhan II seperti; Warungkalapa, Salagedang, Lembursitu, Selakaso, hingga Pasar Saptu menjadi wilayah potensial yang kemudian masuk ke dalam wilayah Kota Sukabumi.
Perubahan administratif tersebut secara perlahan turut mengubah cara orang memandang kawasan itu. Sebutan “Lebak” mulai kehilangan kekuatannya. Sejak sekitar pertengahan 1990-an, istilah tersebut perlahan bergeser ke arah barat, terutama untuk menyebut kawasan yang masih berada di wilayah Kabupaten Sukabumi.
Peralihan Lembursitu menjadi bagian dari Kota Sukabumi membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap ruang di sepanjang Jalan Pelabuhan II. Pinggir jalan yang sebelumnya berupa bentangan sawah, dalam kurun waktu sekitar satu dekade, 1995–2005, berubah wajah dengan cepat.
Kota, dengan segala aktivitas perdagangannya, perlahan hadir di antara ruang-ruang yang sebelumnya didominasi sawah dan perkampungan. Bangunan-bangunan baru bermunculan, bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sekaligus menjadi ruang ekonomi. Barang yang diperjualbelikan pun semakin beragam, warung-warung tidak lagi hanya menyediakan makanan dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berbagai kebutuhan sekunder dan tersier.
Dalam kurun satu dekade itu pula, Pangleseran, sebuah kawasan yang masih menjadi bagian dari wilayah “Lebak” mulai menunjukkan karakter yang tidak jauh berbeda dengan kawasan yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari Kota Sukabumi. Kawasan di sekitar pertigaan jalan menuju Babakan tersebut sebelumnya dikenal sebagai lokasi pasar tumpah. Masyarakat datang dan berjualan di ruang terbuka, menciptakan denyut ekonomi yang khas.
Namun, memasuki sekitar tahun 2002, tanda-tanda lahirnya pusat perekonomian baru mulai terlihat. Masyarakat di kawasan ini perlahan memiliki tempat berbelanja sendiri tanpa harus selalu menuju Pasar Gudang, Pasar Pelita, atau Pasar Pasundan yang berada di pusat kota.
Lapang Pangleseran kemudian memasuki babak baru. Ruang yang dahulu menjadi tempat bermain sepak bola perlahan berubah fungsi menjadi kawasan perdagangan. Pasar dibangun, ruko-ruko bermunculan, dan wajah kawasan berubah sedikit demi sedikit.
Seingat saya, hingga sekitar tahun 2001, saya dan teman-teman masih biasa bermain bola di Lapang Pangleseran. Kala itu, meskipun perubahan sudah mulai terlihat, suasana pasar tumpah yang kemudian dipindahkan ke pasar baru masih jauh lebih dominan.
Memang, pengaruh kota begitu kuat. Kota mengikis sosio kultural perdesaan secara perlahan melalui perubahan ruang, kebiasaan, dan cara orang menyebut tempat. Bersamaan dengan berubahnya Jalan Pelabuhan II, memudarnya sawah, tumbuhnya pertokoan, dan bergesernya pusat aktivitas ekonomi, istilah “Lebak” pun perlahan memudar.
Kini, mungkin sudah jarang terdengar suara calo atau sopir angkot yang berteriak, “Lebak... Lebak... Lebak!” Padahal, bagi mereka yang pernah tumbuh di sana, Lebak adalah penanda sebuah ruang, sebuah zaman, dan sebuah kenangan yang perlahan berubah menjadi urban.

Posting Komentar untuk "Sepanjang Jalan Kenangan: Lebak"