Seize the Day: Yang Fana adalah Waktu

Subbagian Dokumentasi Pimpinan (Dokpim) memiliki semacam tradisi sederhana namun berkesan: memberikan penghargaan kepada siswa dan mahasiswa magang atau menjalani praktik kerja lapangan (PKL). Bentuknya tidak muluk-muluk, biasanya hanya makan bersama atau ‘ngopi’ santai sehari sebelum masa magang mereka berakhir.

Kemarin, kami mengajak dua mahasiswa magang (Kenny dan Desnira) mengunjungi “Analog”, salah satu kedai kopi yang sudah cukup lama eksis di Kota Sukabumi, bahkan sejak budaya kedai kopi mulai menjadi tren di kota ini. Pilihan tempat itu bukan tanpa alasan. Salah seorang mahasiswa yang menyelesaikan magangnya, Kenny, merupakan anak dari pengelola Analog, Om Kiki. Beberapa waktu lalu saya sempat berkata kepadanya, “Tolong sampaikan salam saya kepada bapak kamu, saya temannya.”

Begitu tiba di Analog, suasana lama seakan kembali hidup. Saya langsung menyapa Mang Erlan dan berbincang tentang masa-masa ketika kedai ini sering menjadi ruang diskusi. Dari obrolan soal film, hal-hal remeh temeh kehidupan, hingga isu kebijakan pemerintah, semuanya pernah mengalir di tempat itu. Terakhir kali saya datang ke Analog adalah sebelum pandemi Covid-19.

Tim Dokpim yang dipimpin Bu Ochie pun segera melakukan “petualangan kecil” di dalam kedai. Kami memotret berbagai sudut yang dianggap unik. Seperti kebanyakan kedai kopi kontemporer, Analog menghiasi dinding-dindingnya dengan kalimat sederhana namun menggelitik pikiran.

Kang Agus kemudian mengirimkan hasil jepretan kamera ponselnya ke grup WhatsApp. Dalam foto itu tertulis sebuah kalimat: “Yang Fana adalah Waktu, Kopi Abadi.” Kalimat tersebut jelas mengingatkan pada larik puisi Sapardi Djoko Damono, salah satu sastrawan besar Indonesia:

Yang fana adalah waktu, Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi.

Dalam puisi itu, SDD seperti mengajak kita berpikir terbalik. Selama ini kita menganggap waktulah yang abadi, sementara manusialah yang fana. Namun melalui puisinya, waktu justru ditempatkan sebagai sesuatu yang rapuh dan berlalu, sedangkan manusia menjadi abadi melalui kenangan, cinta, dan jejak yang ditinggalkannya.

Walakin, entah melalui logika terbalik atau pemahaman yang lebih sederhana, baik puisi SDD maupun tulisan di dinding Analog pada akhirnya sama-sama mengingatkan kita tentang kefanaan. Waktu, manusia, bahkan secangkir kopi, semuanya akan berlalu. Tulisan di dinding itu sekadar ingin memberi kesan bahwa usia akan terus diranggaskan oleh waktu. Karena itu, sesekali hidup perlu diisi dengan jeda, menikmati percakapan, kehangatan, dan secangkir kopi.


Membaca larik puisi SDD dan tulisan di dinding kedai itu membuat ingatan saya jatuh ke tahun 2006, ketika lagu Seize the Day dari Avenged Sevenfold sering saya dengarkan. Lagu itu secara sederhana berbicara tentang keterbatasan manusia terhadap waktu. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu sebelum kita menyesalinya berlalu begitu saja. “Seize the day or die regretting the time you lost” – waktu tidak bisa diputar kembali.

Waktu memang tidak pernah bisa diputar kembali. Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis puisi kecil tentang jiwa yang tersesat di belantara ruang dan waktu:

entah sudah berapa lama
sang jiwa terpendar di belantara
kehidupan semesta yang fana
akrab dengan suara-suara

kita sepenuhnya tak pernah meminta
tentang siapa dan harus menjadi apa
kita sepenuhnya mengikuti jalan cerita
Sang maha kreasi yang tak pernah alfa


Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, sering kali kita lupa bertanya, apa makna perjalanan ini, dan ke mana sesungguhnya arah hidup kita? Kegelisahan semacam itu ternyata sudah lama direnungkan para filsuf Stoik sejak zaman Yunani kuno. Mereka mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam, menerima apa yang tidak bisa diubah, dan mengendalikan apa yang masih berada dalam kuasa kita.

Epictetus menyebut adanya logos, akal kosmik yang mengatur semesta. Menurutnya, kebahagiaan lahir ketika manusia mampu menerima peran yang diberikan kehidupan, sebagaimana seorang aktor memainkan naskah dalam sebuah drama.

Kita semua telah menempuh jalan panjang dan berliku. Kadang hidup terasa kokoh, namun tak jarang rapuh. Kita jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi. Stoikisme memandang semua itu bukan penderitaan, melainkan latihan jiwa. Marcus Aurelius menulis bahwa hidup manusia hanyalah sekejap, hakikatnya adalah perubahan, dan persepsi kita sering kali menipu.

Dari sana lahir konsep amor fati, mencintai takdir. Bukan pasrah tanpa daya, tetapi menerima hidup dengan lapang sambil tetap memilih sikap terbaik di tengah keadaan yang tidak selalu bisa kita kendalikan.

Dalam perjalanan itu, jiwa perlahan menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dikejar ternyata hanyalah ilusi. Kekayaan, jabatan, popularitas, semuanya bisa lenyap kapan saja. Epictetus mengingatkan, ketika kebahagiaan digantungkan pada hal-hal eksternal, manusia akan menjadi budak dari keinginannya sendiri.

Stoikisme mengajarkan bahwa satu-satunya yang benar-benar milik kita hanyalah pikiran dan sikap. Di situlah letak kebebasan sejati: tidak diperbudak pujian, tidak goyah oleh hinaan, dan tidak terikat pada pengakuan manusia.

Setiap jiwa akan kembali kepada Sang Abadi. Kematian bukanlah akhir yang perlu ditakuti, melainkan bagian alami dari kehidupan. Seneca mengatakan bahwa kematian hanyalah kembalinya manusia ke tempat asalnya. Ketakutan terhadap kematian lahir dari ego yang ingin bertahan selamanya, padahal sebelum lahir kita pun pernah berada dalam ketiadaan.

Justru karena hidup ini fana, setiap momen menjadi berharga. Waktu yang terbatas mengajarkan kita menghargai kebersamaan, percakapan, dan kehadiran orang-orang di sekitar kita. Demikian pula dengan para siswa dan mahasiswa yang menyelesaikan magang di Dokpim. Mereka datang dan pergi. Waktu terus berjalan tanpa pernah mau menunggu.

Satu generasi selesai, lalu tumbuh generasi baru. Seperti daun-daun yang mengering dan jatuh ke tanah, menjadi humus, lalu melahirkan tunas-tunas baru di sela-selanya. Begitulah kehidupan terus bergerak silih berganti, tumbuh dan gugur, datang dan pergi.

Dan mungkin benar, yang fana memang waktu. Tetapi selama manusia masih meninggalkan jejak kebaikan, kenangan, dan makna dalam hidup, ada sesuatu yang tetap hidup melampaui waktu itu sendiri.

Posting Komentar untuk "Seize the Day: Yang Fana adalah Waktu"