Evaluasi Komprehensif The Diplomatic Forum

Rabu (6/5) sore, Bagian Prokopim, Umum, dan Bappeda diundang untuk mengikuti evaluasi kegiatan di salah satu kafe. Saya menulis judul artikel ini "Evaluasi Komprehensif The Diplomatic Forum", namun membayangkan bagaimana orang Sunda pada umumnya melafalkannya: "Epaluasi Komprehensip Deu Diplimatik Porum". Ada semacam seloroh bahwa rata-rata orang Sunda tidak dapat melafalkan huruf "F" secara verbal, seperti saat mengucapkan "Fitnah" menjadi "pitnah".

Saya memandang pelafalan huruf F menjadi P bagi orang Sunda adalah hal wajar karena secara historis, lidah orang Sunda terbiasa dengan P. Jika ditelusuri secara linguistik, jarang sekali kata-kata dalam Bahasa Sunda yang diawali huruf F kecuali kata serapan dari bahasa asing. Kenyataan ini bersinggungan dengan evolusi komunikasi orang Sunda sebagai masyarakat ngahuma yang tidak terbiasa melafalkan kata berjenis frikatif labiodental. Maka dari itu, mereka akan mengucapkan bunyi yang lebih mudah dan biasa diwariskan secara turun-temurun.

Ada semacam kelaziman kata serapan dari Bahasa Arab, Portugis, dan Belanda yang berawalan F diadaptasi menjadi P oleh masyarakat Sunda melalui proses substitusi fonem. Jadilah di Tatar Sunda, pelafalan seperti "Foto" menjadi "Poto" atau "Evaluasi" menjadi "Epaluasi" adalah hal lumrah, bukan kesalahan besar.

Beberapa paragraf di atas hanyalah pengantar untuk artikel ini. Intinya, evaluasi tersebut menghasilkan satu rekomendasi penting: agar siapa pun yang di kemudian hari terlibat dalam kegiatan bertaraf internasional harus menguasai Bahasa Inggris dasar. Rekomendasi ini seperti mengingatkan kembali pelajaran Bahasa Inggris yang pernah diajarkan di bangku sekolah.

The Diplomatic Forum sendiri adalah kegiatan yang digagas oleh Pemerintah Kota Sukabumi pada 21-22 April 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-112 Kota Sukabumi. Acara ini melibatkan sekitar 14 duta besar dari negara-negara sahabat, dan karena pemerintah kota belum memiliki standar baku untuk menyelenggarakan event multilateral semacam ini, evaluasi penting dilakukan. Paling tidak, kita dapat mengukur sumber daya, mengidentifikasi masalah, dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ibu Ranty, Ketua Dekranasda Kota Sukabumi yang memimpin langsung evaluasi. Dalam pengantarnya, ia menyebutkan bahwa evaluasi ini penting agar kita dapat melakukan refleksi dan meningkatkan kualitas dalam mengemas kegiatan. Saya sebenarnya sudah memahami bagaimana cara Ibu Ranty dalam mengevaluasi sejak pertemuan dengan Bagian Prokopim di Rumah Dinas beberapa bulan setelah pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota.

Saat itu, Bu Ranty mempersilakan kami satu per satu untuk menyampaikan saran, masukan, unek-unek, hingga perkenalan diri. Maka, dalam evaluasi apa pun, beliau akan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menyampaikan pandangannya. Secara komunikasi, ini adalah cara yang baik untuk membentuk sikap egaliter di mana setiap orang diberi hak yang sama untuk berbicara.

Sebelum evaluasi benar-benar dimulai, tepat pukul 15.00 WIB, Pak Haji Imran selaku Asda III membuka pertemuan sambil menunggu kehadiran Ibu Ranty. Para peserta rapat masih berdatangan satu per satu, yang berarti rapat evaluasi belum resmi dimulai.

Mengingat Pak Haji Imran adalah orang yang mudah beradaptasi dan fleksibel, dengan seloroh khasnya ia mengatakan, "Anggap saja ini latihan atau gladi evaluasi, sebelum Ibu Wali datang!" Maka para Kasubag pun diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil evaluasi masing-masing terlebih dahulu.

Saat sesi gladi itulah Pak Rizan menyampaikan evaluasi dengan cara yang berbeda dari Bu Ochi dan Pak Adit. Ia hanya berkata singkat, "Kalau bagian umum sih hanya menyampaikan tiga kata: baik-baik saja." Saya memahami bahwa Pak Rizan memang mengerti konteks "gladi evaluasi" ini. Sama seperti dalam latihan upacara, kita sering mendengar kalimat: "Free Memory!"

Saat evaluasi resmi berlangsung, pendapat setiap peserta rata-rata menyoal bidang yang digeluti selama pelaksanaan The Diplomatic Forum. Dokpim, misalnya, fokus pada proses rilis, kurasi foto dokumentasi, pembuatan desain terlalu “mepet”, pengambilan sesi pemotretan, dokumentasi para dubes, hingga kebutuhan penambahan peralatan.

Subbagian Protokol menyoroti kegiatan keprotokolan, terutama saat mengatur di mana dan ke mana para dubes harus ditempatkan. Dari sinilah kendala paling mendasar mulai terkuak, misalnya: saat kita tidak menguasai bahasa asing dasar, lalu tiba-tiba berhadapan dengan orang asing, kita akan kikuk sambil berpikir, "Apa yang harus diucapkan?" Sebagai solusi, salah seorang peserta mengusulkan agar Pemerintah Kota Sukabumi mulai memetakan orang-orang yang mampu menuturkan Bahasa Inggris.

Hal tersebut mungkin berbanding lurus dengan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, maka di tataran pemkot mungkin perlu dikembangkan program Bahasa Inggris bagi Penutur Lokal.

Secara keseluruhan, evaluasi ini bermuara pada penegasan bahwa pelaksanaan kegiatan, meskipun bukan satu-satunya faktor, sering berkorelasi dengan ketersediaan anggaran. Pak Asep, Perwakilan dari Bappeda menyebutkan bahwa kegiatan semacam ini akan berlanjut hanya jika benar-benar memiliki output positif. Artinya, setiap kegiatan harus dievaluasi untuk memastikan hasil akhirnya memenuhi parameter kualitas, bukan hanya "selesai" secara administratif. Hal ini menyangkut fungsionalitas, ketahanan, dan nilai manfaat bagi target sasaran, terutama masyarakat.

Posting Komentar untuk "Evaluasi Komprehensif The Diplomatic Forum"