Antara Menjelaskan Tuhan dan Mengalami Tuhan

"Al-Ghazali, Aquinas, dan Plotinus tidak pernah memamerkan pengalaman spiritualnya sebagai konten. Aquinas justru berhenti bicara, Al-Ghazali menarik diri dari publik sebelum menulis refleksi matang, serta Plotinus sulit sekali menjelaskan dan cenderung hati-hati.."

Seminggu lalu, seorang teman mengabarkan bahwa media sosial sedang diramaikan oleh fenomena orang-orang yang gemar menjelaskan “spiritualitas” secara terbuka. Mereka tampil sangat berani, bahkan tak jarang terlihat sengaja berseberangan dengan pandangan arus utama demi terlihat berbeda.

Menanggapi hal tersebut, jawaban saya singkat, kita harus mampu membedakan antara orang yang masih menjelaskan Tuhan dengan orang yang telah mengalami Tuhan.

Seseorang yang mengupas spiritualitas namun masih membatasi "Yang Tak Terbatas" dengan sekat-sekat pikiran dan pandangannya, sejatinya masih berada di ranah manusiawi yang terbatas.

Jika kita mau jujur dan mendalami literatur klasik, kita akan menemukan contoh nyata dari manusia-manusia yang benar-benar telah melampaui teori dan mengalami perjumpaan langsung dengan Sang Maha Kuasa.

Saya teringat pada Thomas Aquinas, seorang teolog besar yang menulis Summa Theologica. Saya pernah membaca buku monumental tersebut yang terdiri dari tiga jilid (satu jilidnya saja bisa mencapai 800 halaman) yang mencoba memadukan wahyu dengan logika Aristotelian. Namun, di akhir hayatnya, Aquinas memutuskan untuk berhenti menulis. Jilid keempat dilanjutkan oleh para pengikutnya dengan tajuk; Supplementum.

Peristiwa ini serupa dengan apa yang dialami oleh Al-Ghazali. Setelah menempuh perjalanan intelektual yang luar biasa, mereka sampai pada titik "pengalaman spiritual" yang membuat kata-kata menjadi tidak berarti. Aquinas bahkan menyebut seluruh karya raksasanya itu tak lebih dari sekadar "tumpukan jerami" setelah ia mengalami penglihatan mistik.

Hal ini sangat kontras dengan fenomena saat ini. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku telah mencapai tingkat spiritualitas tinggi justru mengumbarnya di media sosial dan sibuk menjelaskan detailnya kepada publik? Para pendahulu kita justru memilih lebih banyak diam setelah benar-benar "mengenal" Tuhan.

Dalam Summa Theologica, Aquinas menghabiskan ratusan halaman untuk menjelaskan relasi internal Tuhan secara logis. Namun, dalam pengalaman mistik, manusia akan berhadapan langsung dengan "Keheningan Ilahi" (The Godhead). Pada tingkat tertinggi ini, segala personifikasi, angka, dan perbedaan melebur ke dalam Kesatuan Tunggal yang tak terbagi.

Saat Aquinas menyebut karyanya sebagai "jerami", ia menyadari bahwa bahasa manusia, termasuk logika Aristotelian, sangatlah terbatas. Dalam Monoteisme Murni yang absolut, Tuhan adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa).

Pengalaman mistik sering kali bersifat apophatic, di mana seseorang hanya bisa mengatakan apa yang Tuhan "bukan", daripada mendefinisikan "apa" itu Tuhan. Di titik ini, konsep angka menjadi tidak relevan karena Tuhan melampaui segala batasan matematis.

Sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali, fase akhir para pemikir besar sering kali adalah kembali ke Prinsip Pertama (The One). Jika Aquinas "meninggalkan" struktur skolastiknya, itu karena ia telah beralih dari sekadar teologi yang menjelaskan Tuhan menuju spiritualitas yang mengalami Tuhan. Dalam pengalaman itu, tidak ada lagi sekat-sekat definisi.

Secara historis, Aquinas memang tidak pernah secara formal menolak doktrin yang pernah ia tulis. Ia hanya memilih untuk terdiam. Keheningan itulah yang menjadi ruang tafsir bagi kita, apakah ia tetap percaya namun tak sanggup lagi berkata-kata, ataukah ia telah melihat sebuah Kebenaran yang jauh lebih sederhana dan tunggal daripada ribuan halaman yang pernah ia susun?

Mungkin, selama kita masih berada di ranah "orang yang gemar menjelaskan Tuhan", kita akan terus dikelilingi oleh gelombang orang-orang dengan frekuensi serupa. Namun, bagi mereka yang telah "mengalami", keheningan adalah bahasa yang paling jujur.

Posting Komentar untuk "Antara Menjelaskan Tuhan dan Mengalami Tuhan"