Dalam beberapa peta virtual dan percakapan masyarakat umum, kawasan Cikembar, Cikembang, dan Bojonglopang sering dikategorikan dan disebut sebagai wilayah Sukabumi Selatan. Penyebutan ini mungkin didasarkan pada pembagian peta tata ruang wilayah Sukabumi yang membagi area administrasi menjadi empat bagian besar, yakni utara, selatan, timur, dan barat.
Secara geografis dan pemetaan topografi, ketiga kawasan tersebut sebenarnya berada pada posisi sentral atau bagian tengah wilayah Kabupaten Sukabumi. Jika kita menggunakan pendekatan sejarah masa lalu, area ini masuk ke dalam kategori pedalaman Sukabumi. Fakta geografis ini sangat logis, mengingat Kabupaten Sukabumi adalah kabupaten terluas di Pulau Jawa.
Untuk benar-benar mencapai pesisir Sukabumi Selatan secara de facto, seperti kawasan Surade atau Ujung Genteng, perjalanan darat masih harus dilanjutkan sejauh ratusan kilometer ke arah selatan menembus kontur jalan yang berkelok.
Selepas menghadiri dan merilis kegiatan serah terima jabatan Komandan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana di Cikembar, saya memutuskan untuk mengambil rute pulang melalui arah selatan. Perjalanan ini melewati jalur Cibatu atau jalan cagak, dilanjutkan menuju kawasan Pangleseran, hingga akhirnya kembali masuk ke jalan utama, yakni Jalan Pelabuhan II.
Secara geografis dan pemetaan topografi, ketiga kawasan tersebut sebenarnya berada pada posisi sentral atau bagian tengah wilayah Kabupaten Sukabumi. Jika kita menggunakan pendekatan sejarah masa lalu, area ini masuk ke dalam kategori pedalaman Sukabumi. Fakta geografis ini sangat logis, mengingat Kabupaten Sukabumi adalah kabupaten terluas di Pulau Jawa.
Untuk benar-benar mencapai pesisir Sukabumi Selatan secara de facto, seperti kawasan Surade atau Ujung Genteng, perjalanan darat masih harus dilanjutkan sejauh ratusan kilometer ke arah selatan menembus kontur jalan yang berkelok.
Selepas menghadiri dan merilis kegiatan serah terima jabatan Komandan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana di Cikembar, saya memutuskan untuk mengambil rute pulang melalui arah selatan. Perjalanan ini melewati jalur Cibatu atau jalan cagak, dilanjutkan menuju kawasan Pangleseran, hingga akhirnya kembali masuk ke jalan utama, yakni Jalan Pelabuhan II.
Kawasan Cikembar
Pemilihan jalur alternatif ini bukan hanya untuk menghindari kepadatan lalu lintas, juga untuk melakukan observasi langsung terhadap kondisi bentang alam terkini. Jalur ini secara gamblang memperlihatkan potensi sumber daya alam yang masif, sekaligus memberikan fakta visual tentang bagaimana wilayah ini telah dieksploitasi dalam skala besar.
Aktivitas pabrikasi oleh perusahaan domestik maupun luar sangat mendominasi pemandangan. Sumber daya alam berupa bukit-bukit batu kapur atau karst telah ditambang secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri semen. Dampak dari pengerukan ini terlihat jelas pada perubahan morfologi perbukitan yang dipapas habis hingga gundul dan menyisakan lapisan tanah serta batuan berwarna kecokelatan.
Kondisi eksploitasi industri saat ini akan memberikan kontras yang sangat tajam jika kita membandingkannya dengan situasi tiga hingga lima dekade lalu, tepatnya pada era 1970 hingga 1990-an. Pada masa ini, jajaran perbukitan di wilayah Cikembar hingga Bojonglopang masih mempertahankan fungsi ekologisnya secara optimal.
Lanskap perbukitan belum terganggu oleh polusi dari cerobong asap pabrik, dan deru mesin berat belum mendominasi suara lingkungan. Bentang alam ini bertindak sebagai pengatur iklim mikro yang menjaga suhu udara tetap stabil dan ketersediaan air tanah tetap terjaga bagi masyarakat sekitar.
Jika kita menarik garis waktu lebih jauh ke masa purba, ratusan ribu tahun lalu, kawasan pedalaman Sukabumi ini menyimpan sejarah ekologis yang jauh lebih kompleks. Secara geologis, bukit-bukit kapur yang ada di wilayah ini merupakan bukti bahwa area tersebut dulunya adalah dasar laut dangkal yang terangkat akibat aktivitas tektonik lempeng bumi. Setelah proses pengangkatan tersebut, wilayah ini berevolusi menjadi daratan yang didominasi oleh tutupan vegetasi alami yang sangat rapat.
Hutan-hutan purba di pedalaman Sukabumi memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Tanpa adanya intervensi aktivitas manusia dan industri, ekosistem purba ini dibentuk oleh pohon-pohon raksasa dengan kanopi tebal yang menciptakan lingkungan lembap di bawahnya. Hutan hujan tropis pedalaman ini menjadi habitat dan penyangga utama ekosistem tatar Pasundan, tempat di mana berbagai flora dan fauna endemik berkembang biak secara alami dalam siklus rantai makanan yang seimbang.
Rekam jejak mengenai kekayaan ekologi dan bentang alam pedalaman Jawa Barat tidak hanya menjadi asumsi historis, tetapi telah dicatat dan didokumentasikan secara rinci oleh para pelancong, naturalis, dan peneliti dari Eropa pada rentang abad ke-17 hingga awal abad ke-20 Masehi.
Pada masa itu, dokumentasi melalui perangkat fotografi belum berkembang pesat dan resolusinya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, para peneliti mengandalkan deskripsi tertulis yang sangat detail untuk menggambarkan kondisi lingkungan pedalaman kepada masyarakat Eropa.
Melalui catatan-catatan tertulis inilah kita bisa mendapatkan gambaran yang akurat mengenai rupa lingkungan masa lalu, yang saat ini sulit dibandingkan secara visual karena teknologi fotografi masa kini cenderung memanipulasi warna dan detail alam.

Salah satu literatur paling komprehensif dan penting dalam sejarah ilmu pengetahuan alam yang mencatat pedalaman Jawa Barat ditulis oleh ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace. Dalam karya monumentalnya yang terbit pada tahun 1869, The Malay Archipelago, Wallace merangkum hasil penjelajahannya di berbagai wilayah Nusantara.
Wallace secara khusus menaruh perhatian pada kekayaan botani di pedalaman Pulau Jawa. Ia melakukan ekspedisi pendakian ke Gunung Pangrango dan Gunung Gede di utara Sukabumi pada tahun 1861. Ekspedisi ini merupakan observasi taksonomi yang teliti untuk memetakan distribusi spesies tumbuhan berdasarkan ketinggian dan suhu, yang kelak menjadi dasar penting bagi ilmu biogeografi dunia.
Dalam catatan pendakiannya, Wallace mendeskripsikan secara sistematis perubahan zona vegetasi yang ia temui. Saat mendaki dari ketinggian sekitar 5.000 kaki di atas permukaan laut, ia mulai memasuki area hutan perawan yang belum terjamah aktivitas penebangan. Pada ketinggian antara 2.000 hingga 5.000 kaki, ia mencatat adanya transisi yang sangat jelas antara flora tropis dataran rendah dan flora beriklim sedang.
Kawasan ini merupakan titik di mana kemewahan dan keanekaragaman hayati tropis mencapai tingkat perkembangan maksimalnya. Hutan dan jurang di sepanjang jalur pendakian menampilkan struktur vegetasi yang sangat padat dan kompleks.

Di zona ini, Wallace menyoroti keberadaan pohon-pohon pakis raksasa yang mendominasi area jurang yang dalam. Pohon pakis purba ini tumbuh subur dari dasar jurang hingga ke tebing-tebing atas, dengan tinggi yang mencapai hingga lima puluh kaki.
Bagi Wallace, di antara semua bentuk vegetasi tropis yang ia teliti di Nusantara, pakis raksasa ini merupakan spesies yang paling mencolok secara visual dan memiliki struktur biologi yang unik. Lebih lanjut, ia juga mengamati kanopi hutan yang dipenuhi oleh tanaman dari keluarga pisang liar dan jahe-jahean yang memiliki bunga berukuran besar.
Kelembapan udara yang tinggi di lereng gunung tersebut juga memicu pertumbuhan epifit yang masif. Setiap batang kayu dan dahan pepohonan tertutup rapat oleh lapisan lumut tebal, tumbuhan paku, dan berbagai jenis anggrek hutan yang menjuntai saling berjalinan membentuk jaring ekologis yang rapat.
Puncak penemuan botani Wallace dalam ekspedisi tersebut terjadi ketika ia mencapai zona iklim pegunungan di ketinggian sekitar 9.000 kaki. Di lokasi yang dingin dan terisolasi ini, ia menemukan spesies bunga yang sangat spesifik, yakni Primula imperialis, yang kerap dijuluki sebagai Bunga Sejuta.
Wallace mendeskripsikan tanaman ini memiliki karakteristik morfologi berupa batang yang tinggi dan kokoh, mencapai lebih dari tiga kaki. Tumbuhan ini memiliki daun berbentuk roset yang panjang di bagian dasarnya. Keunikan utama dari bunga ini adalah pola mekarnya yang membentuk beberapa lingkaran bersusun di sepanjang batangnya, berbeda dengan spesies sejenis yang umumnya hanya mekar dalam satu kelompok di bagian puncak.
Wallace memberikan catatan tegas bahwa Primula imperialis merupakan spesies endemik yang sangat langka dan tidak ditemukan di wilayah pegunungan lain di seluruh dunia pada masa itu, selain di puncak gunung terisolasi di pedalaman Jawa Barat tersebut.
Catatan dan deskripsi terperinci dari Alfred Russel Wallace ini merupakan bukti empiris tentang betapa kayanya keanekaragaman hayati pedalaman Sukabumi. Ekosistem pegunungan di utara dan perbukitan di bagian tengah dulunya merupakan satu kesatuan lanskap penyangga kehidupan.
Fakta sejarah ini memberikan perspektif yang jelas saat kita melihat kerusakan masif pada bukit-bukit karst di Sukabumi bagian tengah saat ini akibat eksploitasi industri. Catatan sejarah ini harus menjadi pengingat bahwa wilayah ini pernah memiliki ekosistem kelas dunia yang diakui oleh ilmuwan internasional. Oleh karena itu, di tengah laju eksploitasi dan modernisasi saat ini, penting bagi kita semua untuk kembali membaca sejarah dan mari bersama-sama menghadirkan kembali imaji masa lalu tentang keindahan alam Sukabumi ini.


Posting Komentar untuk "Sukabumi Selatan, Menghirup Pusara Keindahan Alam yang Tertidur"