Sejak kecil, saya tidak pernah bersentuhan langsung dengan kultur Eropa. Saya hidup di lingkungan perdesaan yang nyaris tidak memiliki hubungan apa pun dengan alam pikir Barat, kecuali mungkin melalui beberapa entitas infrastruktur yang tersisa dari masa kolonial, seperti jalur jalan yang membentang dari Cikondang hingga Cikundul. Di luar itu, dunia saya sepenuhnya adalah alam dan tradisi lokal.
Jika mengacu pada teori empirisme dalam psikologi bahwa pertumbuhan mental manusia sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungannya, maka kondisi saya akan menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa seorang anak kampung yang jauh dari hiruk-pikuk budaya Barat bisa tiba-tiba terpikat dengan kultur Eropa saat duduk di bangku SMP, tanpa pernah bersentuhan langsung dengan lingkungannya?
Terus terang, saya mengenal Eropa hanya melalui imajinasi dari bacaan tentang tokoh-tokoh besar seperti Einstein, Newton, Nietzsche, dan Napoleon yang saya temukan dalam ensiklopedia serta buku-buku di perpustakaan sekolah.
Dari kisah dan deskripsi lingkungan yang dipaparkan, saya langsung mengimajinasikan Eropa pada era Pencerahan. Jiwa saya saat itu seolah memberontak, ingin memasuki sebuah portal yang dapat mengantarkan saya ke masa lalu, misalnya, ke kota Ulm, tempat Einstein dilahirkan.
Saya bukan tipikal orang yang hanya percaya pada satu pandangan tunggal; terhadap perkembangan hidup manusia, saya lebih menyukai konvergensi antara nativisme dan empirisme. Dengan cara inilah saya menemukan jawaban mengapa ada desakan kuat untuk bersentuhan dengan kultur Eropa klasik, bukan dengan budaya kontemporernya.
Anugerah besar yang diberikan Allah Swt kepada saya adalah kemampuan bersentuhan dengan bacaan, baik Latin maupun Arab, sejak usia sangat dini, bahkan sebelum tiga tahun. Di usia empat tahun, saya sudah bisa melahap koran, majalah, buku, atau sobekan kertas apa pun yang mengandung aksara.
Judit Polgar
Persentuhan pertama saya dengan kultur Eropa justru terjadi melalui nama-nama di halaman olahraga media cetak. Tahun 80-an, ada koran yang selalu menyajikan notasi catur yang belum bisa saya praktikkan, meski di usia lima tahun saya akhirnya diajarkan bermain catur oleh orangtua. Saya mengingat nama-nama pecatur seperti Judit Polgar, Karpov, Kasparov, hingga pemain awal abad ke-20 dari kolom analisa permainan klasik.
Perkembangan berikutnya terjadi saat duduk di kelas tiga SMP. Diri saya kembali "terhenyak" ketika pelajaran Seni Musik oleh Pak Ujang Rosyidin memaksa saya masuk kembali ke alam masa lalu Eropa.
Salah satu bab dalam buku mengulas sejarah musik, dan pikiran saya semakin fokus saat Pak Ujang mengenalkan notasi balok serta komposer besar seperti Beethoven, Vivaldi, hingga Chopin. Nama Chopin langsung mengingatkan saya pada majalah yang saya baca saat kelas empat SD, yang menyebutkan bahwa cetakan tangan sang pianis asal Prancis itu diabadikan di salah satu museum di Paris.
School of Athens:Karya Raphael
Sebelumnya, di kelas satu dan dua, saya juga sudah diperkenalkan oleh guru seni saya, Pak Kusnadi, pada perkembangan seni rupa, mulai dari penemuan lukisan di Gua Lascaux hingga seni rupa modern. Tak heran jika di usia itu saya sudah mengenal sosok Da Vinci, Rafael Santi, Donatello, Raden Saleh, Dali, Picasso, hingga Basuki Abdullah. Namun, saat itu karya-karya hebat mereka hanya dapat saya tatap melalui gambar ilustrasi pada buku pelajaran seni.
Di sinilah jiwa saya meronta-ronta karena keinginan kuat untuk mendengar langsung seperti apa suara dari karya komposer musik klasik tersebut. Jika untuk lukisan saya bisa melihat wujudnya melalui ilustrasi, lantas untuk mendengarkan Four Seasons karya Vivaldi, saya harus ke mana?
Di tengah keterbatasan itu, saya percaya alam akan menemukan jalannya sendiri. Benar saja, pada tahun 1997 saat duduk di kelas dua SMA, industri musik kita mulai terbuka. Berbagai iklan penjualan kaset klasik muncul di televisi, dan sebuah iklan SLI 001 Indosat menampilkan petikan gitar mirip Canon in D karya Pachelbel.
Jiwa yang meronta itu akhirnya sedikit mereda setelah saya membeli kaset Vivaldi: The Four Seasons dan Concerto in D Major. Kejadian itu disusul dengan peluncuran stasiun radio Classic FM di Jakarta yang hanya memutar lagu-lagu klasik.
Hampir setiap hari selama tahun 1997, saya benar-benar fokus mendengarkan frekuensi tersebut. Dan jika hari ini saya harus memilih komposisi mana yang paling saya cintai, jawabannya tetaplah The Four Seasons, Symphony No. 40, Moonlight Sonata, dan Nocturne.


Posting Komentar untuk "Four Seasons"