Kelompok rahasia yang kita kenal sampai sekarang biasanya adalah Iluminati. Selain sering dibahas oleh para penganut teori konspirasi, simbol-simbol kelompok ini seolah benar-benar sengaja dimunculkan atau bahkan tidak lagi dirahasiakan.
Maka sebenarnya, kelompok rahasia seperti Iluminati yang sering “dibocorkan” keberadaannya itu sejatinya bukan rahasia lagi.
Sebuah kelompok merahasiakan eksistensinya salah satunya karena keberadaannya dianggap menjadi ancaman bagi kelompok lain yang telah mapan atau ber-status quo.
Untuk menyembunyikan diri agar kelompok yang masih kecil ini tidak tergerus oleh kelompok dominan, mereka menempatkan diri di ruang sempit klandestin, sambil terus mengatur siasat agar kelak menjadi besar dan memiliki pengaruh terhadap kehidupan.
Pada era Yunani Kuno, Pythagoras beserta kelompoknya termasuk kategori ini. Mereka selalu bergerak sembunyi-sembunyi dalam menyebarkan ajarannya karena kerap menjadi incaran penguasa dan dipandang meracuni masyarakat.
Rasulullah pun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun di Mekah untuk menghindari konfrontasi langsung dengan para petinggi Quraisy saat itu.
Di dunia Islam pada abad ke-10 Masehi berdiri kelompok “Persaudaraan Suci” yang kita kenal sebagai Ikhwanus Shafa.
Kelompok ini terdiri dari para cendekiawan dan filsuf Muslim abad pertengahan, bergerak secara rahasia dan tersembunyi karena memiliki pemikiran serta pemahaman yang berbeda dengan penguasa pada masanya.
Mereka memadukan ajaran Islam, Neo-Platonisme, dan pemikiran Pythagoras. Mereka mengajarkan matematika, logika, astronomi, musik, hingga teologi.
Pada perkembangan berikutnya, kelompok ini seolah menghilang begitu saja. Namun, saya berasumsi bahwa kelompok ini justru melakukan transformasi ke dunia Barat pada era Aufklärung.
Beberapa alinea di atas adalah awalan menuju inti pembahasan. Di ruang sebelah Dokumentasi Pimpinan terdapat sebuah sofa yang empuk dan cukup besar.
Tidak terlalu bersih sebenarnya, karena entah sudah berapa puluh “pantat” pernah mendudukinya.
Jangan coba-coba duduk di atasnya menjelang siang, sebab kekuatan sofa ini terletak pada kulitnya yang, ketika diduduki, memberi pengaruh kantuk kepada siapa saja yang singgah.
Padahal, di ruangan satunya juga terdapat sofa. Namun, pengaruh dan daya dorong rasa kantuknya tidak sebesar sofa di ruang sebelah itu.
Sofa, secara etimologis, berasal dari kata suffah, bagian yang lebih tinggi beberapa sentimeter dari lantai.
Dalam tradisi keislaman, istilah ini berkaitan erat dengan kelompok yang pernah ada pada zaman Rasulullah, yaitu Ikhwanus Suffah/persaudaraan serambi, dalam terma Yunani dapat disejajarkan dengan kelompok Stoa dalam tradisi filsafat.
Entah karena secara etimologis memang demikian, sofa di era sekarang dibuat senyaman mungkin, selaras dengan tujuan didirikannya Ikhwanus Suffah, hidup selaras dengan alam, menampilkan sikap zuhud atau bersahaja, tanpa mengesampingkan konsentrasi.
Sofa di ruang sebelah Dokpim memiliki daya tarik tersendiri. Siapa saja yang duduk di atasnya, dalam hitungan beberapa menit, dapat berpindah ke alam impian.
Tanpa perlu waswas apakah posisi tidurnya akan diabadikan oleh kamera orang iseng atau tidak, mereka yang terlelap di sofa ini sama sekali tidak memperdulikannya.
Saya tidak tahu apakah di ruang lain terdapat sofa-sofa semacam itu. Sekadar mengusulkan, siapa pun yang pernah tertidur di sofa tersebut sebaiknya segera membentuk kelompok rahasia bernama Ikhwanus Sofa, yang memfokuskan diri pada pembahasan dunia mimpi.
Maka sebenarnya, kelompok rahasia seperti Iluminati yang sering “dibocorkan” keberadaannya itu sejatinya bukan rahasia lagi.
Sebuah kelompok merahasiakan eksistensinya salah satunya karena keberadaannya dianggap menjadi ancaman bagi kelompok lain yang telah mapan atau ber-status quo.
Untuk menyembunyikan diri agar kelompok yang masih kecil ini tidak tergerus oleh kelompok dominan, mereka menempatkan diri di ruang sempit klandestin, sambil terus mengatur siasat agar kelak menjadi besar dan memiliki pengaruh terhadap kehidupan.
Pada era Yunani Kuno, Pythagoras beserta kelompoknya termasuk kategori ini. Mereka selalu bergerak sembunyi-sembunyi dalam menyebarkan ajarannya karena kerap menjadi incaran penguasa dan dipandang meracuni masyarakat.
Rasulullah pun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun di Mekah untuk menghindari konfrontasi langsung dengan para petinggi Quraisy saat itu.
Di dunia Islam pada abad ke-10 Masehi berdiri kelompok “Persaudaraan Suci” yang kita kenal sebagai Ikhwanus Shafa.
Kelompok ini terdiri dari para cendekiawan dan filsuf Muslim abad pertengahan, bergerak secara rahasia dan tersembunyi karena memiliki pemikiran serta pemahaman yang berbeda dengan penguasa pada masanya.
Mereka memadukan ajaran Islam, Neo-Platonisme, dan pemikiran Pythagoras. Mereka mengajarkan matematika, logika, astronomi, musik, hingga teologi.
Pada perkembangan berikutnya, kelompok ini seolah menghilang begitu saja. Namun, saya berasumsi bahwa kelompok ini justru melakukan transformasi ke dunia Barat pada era Aufklärung.
Beberapa alinea di atas adalah awalan menuju inti pembahasan. Di ruang sebelah Dokumentasi Pimpinan terdapat sebuah sofa yang empuk dan cukup besar.
Tidak terlalu bersih sebenarnya, karena entah sudah berapa puluh “pantat” pernah mendudukinya.
Jangan coba-coba duduk di atasnya menjelang siang, sebab kekuatan sofa ini terletak pada kulitnya yang, ketika diduduki, memberi pengaruh kantuk kepada siapa saja yang singgah.
Padahal, di ruangan satunya juga terdapat sofa. Namun, pengaruh dan daya dorong rasa kantuknya tidak sebesar sofa di ruang sebelah itu.
Sofa, secara etimologis, berasal dari kata suffah, bagian yang lebih tinggi beberapa sentimeter dari lantai.
Dalam tradisi keislaman, istilah ini berkaitan erat dengan kelompok yang pernah ada pada zaman Rasulullah, yaitu Ikhwanus Suffah/persaudaraan serambi, dalam terma Yunani dapat disejajarkan dengan kelompok Stoa dalam tradisi filsafat.
Entah karena secara etimologis memang demikian, sofa di era sekarang dibuat senyaman mungkin, selaras dengan tujuan didirikannya Ikhwanus Suffah, hidup selaras dengan alam, menampilkan sikap zuhud atau bersahaja, tanpa mengesampingkan konsentrasi.
Sofa di ruang sebelah Dokpim memiliki daya tarik tersendiri. Siapa saja yang duduk di atasnya, dalam hitungan beberapa menit, dapat berpindah ke alam impian.
Tanpa perlu waswas apakah posisi tidurnya akan diabadikan oleh kamera orang iseng atau tidak, mereka yang terlelap di sofa ini sama sekali tidak memperdulikannya.
Saya tidak tahu apakah di ruang lain terdapat sofa-sofa semacam itu. Sekadar mengusulkan, siapa pun yang pernah tertidur di sofa tersebut sebaiknya segera membentuk kelompok rahasia bernama Ikhwanus Sofa, yang memfokuskan diri pada pembahasan dunia mimpi.

Posting Komentar untuk "Ikhwanus Sofa"