BlackBerry, Nexian, Kepompong, dan Pemilu 2009



Pemilihan Umum tahun 2009 menjadi salah satu pesta demokrasi paling bersejarah di Indonesia. Keistimewaannya terletak pada cara pemberian suara yang sah, yaitu dengan mencentang (mencontreng) surat suara. Hal ini terbilang tidak lumrah karena pada pemilu-pemilu sebelumnya, masyarakat terbiasa mencoblos surat suara menggunakan paku. Perubahan aturan ini memengaruhi pergantian teknis dan menjadi lompatan besar dalam tata kelola pemungutan suara yang membutuhkan persiapan matang dari penyelenggara.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) di daerah, termasuk KPU Kota Sukabumi, harus berpikir keras merancang strategi sosialisasi dan simulasi yang efektif. Tujuannya agar setiap pemilih, dari kalangan muda hingga lanjut usia, benar-benar memahami tata cara pemilihan sehingga tidak ada suara yang terbuang hanya karena kesalahan teknis. Ada kekhawatiran besar bagi kelompok rentan, terutama pemilih berusia di atas 50 tahun, yang dianggap paling berpotensi keliru dalam memberikan suara. Stigma bahwa orang tua sulit beradaptasi dengan perubahan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

Sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam pesta demokrasi 2009 tersebut, saya berada di bagian Divisi Sosialisasi. Bersama Kang Hamzah (almarhum), Kang Jiwenk, dan teman-teman staf di KPU, kami merasakan betul bagaimana gencarnya sosialisasi dilakukan. Bukan hanya dengan alat peraga statis seperti poster dan spanduk, tetapi juga simulasi langsung oleh para petugas di lapangan, mulai dari PPS (Panitia Pemungutan Suara) di tingkat kelurahan hingga PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di tingkat kecamatan.


Saya dan kang Jiwenk (tahun 2009)

Salah satu tantangan terbesar adalah menerjemahkan aturan memilih dengan cara dicentang ke dalam bentuk desain grafis yang mudah dipahami. Kang Jiwenk, yang bertanggung jawab di bagian ini, harus bekerja keras merancang cetakan hingga format digital yang komunikatif. Kabar baiknya, KPU Kota Sukabumi pada tahun 2009, bahkan jauh hari sebelumnya, telah memiliki situs resmi yang dapat diakses oleh pemilih. Tentu, akses ini masih terbatas bagi pemilih perkotaan yang sudah melek internet. Namun, langkah tersebut tetap menjadi terobosan di zaman itu.

Tujuh belas tahun lalu, rasanya sangat berbeda dengan sekarang. Digitalisasi belum secanggih saat ini. Kecepatan internet masih baru menyentuh 1 sampai 3 Mbps dengan penyedia utama Speedy milik Telkom. Bandwidth yang terbatas itu pun harus dibagi-bagi ke puluhan perangkat, mulai dari komputer dan laptop hingga gawai seperti BlackBerry. Ponsel-ponsel generasi baru mulai dilengkapi dengan Wi-Fi, tetapi fitur ini baru merambah perkantoran dan dunia pendidikan di wilayah urban perkotaan.

Sementara itu, masyarakat di perkampungan mayoritas masih mengandalkan jaringan internet GPRS dan HSDPA (3G) dengan kecepatan yang sangat kecil. Tentu, hal ini berbanding terbalik dengan efektivitas sosialisasi melalui alat peraga digital yang harus mulai lebih cepat dilakukan. Video yang kita anggap sepele sekarang, pada masa itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang dengan koneksi terbatas. Kondisi inilah yang membuat pendekatan konvensional tetap menjadi andalan utama dalam menjangkau pemilih hingga ke pelosok.

Tahun 2009 bukan hanya bersejarah dalam politik, tetapi juga menjadi momentum penting dalam pertumbuhan teknologi informatika. BlackBerry menjadi salah satu ponsel yang benar-benar menjadi incaran mayoritas manusia. Di sisi lain, tahun ini menjadi awal mula merangkaknya sistem operasi iOS dan Android sekaligus fase krusial bagi sistem operasi Symbian yang mulai ditinggalkan. Ponsel-ponsel buatan Tiongkok mulai merangsek pasar dengan fitur papan ketik QWERTY yang meniru BlackBerry.

Revolusi ini membuka ruang penting, orang-orang mulai beralih dari media konvensional ke media digital. YouTube mulai ramai dibicarakan, meskipun pemilik ponsel harus rela kehilangan pulsa ribuan rupiah hanya demi menonton satu buah lagu singkat. Masyarakat yang telah memiliki akses internet unlimited seperti Speedy tentu tidak perlu khawatir untuk mengunduh lagu. Meskipun kecepatan unduhan masih lambat, secara telaten pengguna bisa mengunduh sepuluh lagu per hari, tentu saja dari situs web ilegal yang marak saat itu.

Untuk memiliki ponsel BlackBerry ori, seseorang harus merogoh kocek dalam-dalam; harga berkisar antara dua hingga lima jutaan rupiah. Tidak sedikit orang yang mengalihkan pilihan pada ponsel-ponsel mirip BlackBerry, setidaknya yang memiliki papan ketik QWERTY. Fenomena ini melahirkan istilah-istilah lucu seperti “NexianBerry” yang akan saya ceritakan dalam artikel ini.

Saya masih ingat betul, sekitar bulan Maret 2009, saya bersama Kang Hamzah (almarhum) dan Kang Jiwenk pergi ke Bandung untuk mengikuti sosialisasi pemilu di KPU Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini sekaligus kami jadikan momentum untuk melihat-lihat berbagai barang elektronik yang dijual di salah satu swalayan terkenal di Bandung.

Awalnya, Kang Hamzah berniat membeli BlackBerry. Namun karena harganya masih terbilang mahal, mendiang mengurungkan niatnya dan memilih membeli ponsel Nexian. Saya sempat berseloroh, “Itu NexianBerry.” Saya juga berkata kepada Kang Hamzah, “Bedanya tipis, BlackBerry satu kartu, NexianBerry dua kartu.” Dan selayaknya pembeli baru, ponsel itu langsung dipasangi kartu dan dipakai saat itu juga.

Saat pulang dari Bandung, jalan Padalarang belum separah sekarang. Kemacetan tidak terlalu parah, sehingga kami bisa terus-menerus membahas soal “NexianBerry” tersebut. Dari radio-tape mobil, terdengar lagu Kepompong yang dinyanyikan oleh Sindentosca berulang-ulang. Lagu yang dirilis pada tahun 2008 ini benar-benar menemani perjalanan kami dari Bandung hingga Sukabumi. Kang Hamzah sendiri pernah bertutur sambil mengemudikan mobil, “Lagu ini disukai oleh anak-anakku.”


Mengulang kembali kisah pada masa itu menjadi satu alasan mengapa kenangan ini terasa begitu istimewa. Kendati Kang Hamzah telah lebih dahulu meninggalkan saya dan Kang Jiwenk menuju keabadian, namun persahabatan kami tetap terikat erat, seperti lirik dalam lagu Kepompong:

“Persahabatan bagai kepompong // Hal yang tak mudah berubah jadi indah.”

Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa orang yang pernah membersamai kisah hidup kita harus berpisah untuk selamanya. Namun, persahabatan yang tulus tetap tumbuh dan selalu mengoyak setiap sekat penghalang. Waktu dan jarak tidak pernah mampu memudarkan ikatan yang sudah terbangun melalui kerja keras, tawa, dan perjalanan panjang bersama.

Semua kisah yang saya tulis ini, mulai dari aturan mencoblos ke mencentang, peran KPU Kota Sukabumi, fenomena BlackBerry dan Nexian, hingga lagu Kepompong tetap utuh dan tersimpan dalam ingatan ini. Kita memang diciptakan untuk menajaga ingatan dan merawat masa lalu agar dapat dibaca sebagai pertanda oleh generasi berikutnya.

Posting Komentar untuk "BlackBerry, Nexian, Kepompong, dan Pemilu 2009"