Kisah ini terjadi beberapa bulan lalu, sekitar April 2026, ketika saya dan Tim Dokpim bersama Tim Protokol pulang ke Kota Sukabumi dengan menaiki kereta api. Sebelumnya, kami meliput kegiatan Musrenbang tingkat Jawa Barat Tahun 2027 yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Sukabumi, Pak Ayep Zaki.
Kendati agak terlambat saya publikasikan di situs web pribadi, paling tidak kisah ini telah saya catat sesaat setelah tiba di rumah. Tim Dokpim yang bertugas saat itu adalah saya dan Kang Iqbal, sementara Tim Protokol diwakili Kang Bolang dan Om Virman.
Sebelumnya memang sudah direncanakan bahwa kami akan pulang dari Bandung ke Kota Sukabumi dengan memanfaatkan kereta api. Saat itu sudah tersedia jurusan dari Cipatat langsung ke Sukabumi dengan ongkos yang cukup terjangkau.
Dari lokasi kegiatan, Gedung Pakuan Bandung, kami menuju Stasiun, kemudian tiba di Padalarang. Untuk menghindari rasa penat, kami saling menawarkan diri untuk ngopi di salah satu kedai dekat stasiun sebelum jam keberangkatan kereta api.
Warung-warung sederhana memang berjajar rapi di sekitar stasiun dengan ciri khasnya masing-masing. Entah karena alasan apa, secara spontan kami memasuki salah satu warung. Kebetulan di dalam warung ada dua perempuan yang sedang berkaraoke.
Semakin kentara saja ciri khas warung dekat stasiun, yang dalam penuturan orang-orang selalu identik dengan "kesenangan malam".
Kami pergi ke warung setelah membeli tiket terlebih dahulu. Masuknya kami ke warung tersebut sama sekali bukan karena ada perempuan yang sedang berkaraoke. Alasan pemilihan warung hanya karena letaknya berdekatan langsung dengan gerbang stasiun.
Melihat kedatangan kami sebagai orang-orang baru, dua perempuan itu menjadi lebih canggung saat bernyanyi. Padahal, kedatangan kami hanya untuk ngopi. Mereka hanya menyanyikan beberapa lagu sebelum kemudian keluar dari warung.
Salah seorang perempuan duduk di depan pos penjagaan. Tidak lama kemudian terdengar riuh berupa siulan dari para tukang ojek ketika seorang lelaki bule mengenakan kaus Persib menghampiri perempuan tersebut.
Saya tidak tahu persis alasan mereka bersuit-suitan ketika lelaki bule itu menghampiri perempuan tadi. Apakah karena kejadian semacam itu jarang terjadi, atau atas dasar alasan lain, entahlah.
Situasi sore di stasiun saat itu, kurang lebih satu bulan sebelum Persib menjadi juara BRI Super League 2026, juga sangat pantas membuat kita melihat banyak atribut dan ornamen Persib menghiasi kawasan stasiun. Termasuk kaus yang dikenakan lelaki bule tadi.
Jika dibandingkan dengan tiga dekade lalu, sebelum Ignasius Jonan melakukan pembenahan perkeretaapian di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, kawasan stasiun kerap identik dengan kondisi kumuh. Banyak bangunan liar berdiri di sekitarnya, sampah berserakan, kemudian menjamurnya prostitusi laten.
Reformasi perkeretaapian pada masa Jonan mengubah total wajah kereta api beserta tempat persinggahannya. Stasiun menjelma menjadi kawasan yang jauh lebih nyaman dan bersih; bangunan-bangunan lama direhabilitasi dan dicat dengan warna yang lebih cerah.
Belum lagi fasilitas serta pelayanan di atas kereta yang semakin membaik, seolah dikelola dengan standar korporasi yang kompetitif.Padahal, kereta api merupakan alat transportasi yang sepenuhnya dikelola oleh negara. Sejak transformasi itu, orang-orang menjadi lebih betah dan menjadikannya sebagai moda transportasi utama. Termasuk kami.
Waktu tempuh dari Bandung ke Padalarang sekitar 30 menit. Dari Stasiun Padalarang kami harus menaiki angkutan umum jurusan Cipatat.
Malam hari setelah magrib, jalanan di sekitar Stasiun Padalarang benar-benar ramai. Kami berjalan memburu angkutan umum dengan jarak kurang lebih satu kilometer karena tidak ingin kemalaman dan kereta api jurusan Cipatat-Sukabumi keburu berangkat.
Untuk kedua kalinya setelah beberapa tahun lalu, tepatnya pada tahun 1990-an, saya kembali menikmati angkutan umum Cipatat. Melewati jalan berdebu, suasananya seperti kembali pada jalan yang sering kita lalui di Tagog Apu.
Angkutan umum penuh sesak oleh penumpang yang memiliki tujuan sama yaitu Stasiun Cipatat.
Sopir angkot memang sudah terbiasa dengan kondisi semacam itu. Ia dapat memperkirakan kapan waktu tiba di stasiun. Berkali-kali ia bertutur, "Tidak akan telat, saya pastikan itu!"
Sangat percaya diri, seolah-olah sudah tahu betul apa yang akan terjadi. Kendati sebetulnya ucapan sang sopir mungkin hanya untuk meyakinkan para penumpang yang sudah mulai gelisah karena jalanan agak macet.
Entah karena sugesti dari rasa percaya diri sang sopir atau memang perhitungannya tepat, angkot tiba di stasiun persis 10 menit sebelum keberangkatan kereta. Kami berhamburan menuju stasiun. Dan benar-benar tiba.
Kami masuk ke dalam kereta dengan lega. Penumpang penuh. Mungkin berbeda dengan kelas eksekutif, di kelas ekonomi kami dapat dengan gratis melihat pemandangan para penumpang menikmati sebungkus cilok, makanan ringan, wangi parfum, bau keringat, apek pakaian, keluhan, serta gelak tawa yang berbaur menjadi satu.
Di ruang publik semacam itu, acap kali apa yang tidak pernah kita alami justru menjadi sebuah realitas yang tidak dapat dihindari.
Kereta melaju dari pelan menjadi kencang. Ada penumpang yang duduk dan ada pula yang berdiri. Namun, dari satu stasiun ke stasiun lainnya, banyak penumpang turun dan hanya sedikit yang naik.
Pada akhirnya, seluruh penumpang yang menuju Sukabumi dapat duduk dengan santai tanpa perlu berdesak-desakan. Kami bahkan bisa tersenyum kepada orang yang baru saja kita lihat beberapa saat sebelumnya.
Hidup datang dan pergi seperti para penumpang yang berada di dalam sebuah kereta. Ada yang naik ketika perjalanan kita baru dimulai. Ada yang turun ketika perjalanan belum selesai. Ada yang bersama-sama sampai ke tujuan.
Saya memandang, ada tiga realitas hubungan di dalam kereta api seperti dalam hidup ini yaitu; orang yang hanya menemani di awal, orang yang pergi di tengah jalan, dan mereka yang bertahan hingga akhir.
Seperti kami yang akhirnya harus turun dari kereta setelah tiba di Stasiun Kota Sukabumi. Kami kembali berbaur dengan penumpang lainnya, tanpa saling bertanya. Mungkin sesekali hanya saling menatap tanpa perlu bertanya atau berkata, meskipun sekadar sapaan ringan: Hai...
Kendati agak terlambat saya publikasikan di situs web pribadi, paling tidak kisah ini telah saya catat sesaat setelah tiba di rumah. Tim Dokpim yang bertugas saat itu adalah saya dan Kang Iqbal, sementara Tim Protokol diwakili Kang Bolang dan Om Virman.
Sebelumnya memang sudah direncanakan bahwa kami akan pulang dari Bandung ke Kota Sukabumi dengan memanfaatkan kereta api. Saat itu sudah tersedia jurusan dari Cipatat langsung ke Sukabumi dengan ongkos yang cukup terjangkau.
Dari lokasi kegiatan, Gedung Pakuan Bandung, kami menuju Stasiun, kemudian tiba di Padalarang. Untuk menghindari rasa penat, kami saling menawarkan diri untuk ngopi di salah satu kedai dekat stasiun sebelum jam keberangkatan kereta api.
Warung-warung sederhana memang berjajar rapi di sekitar stasiun dengan ciri khasnya masing-masing. Entah karena alasan apa, secara spontan kami memasuki salah satu warung. Kebetulan di dalam warung ada dua perempuan yang sedang berkaraoke.
Semakin kentara saja ciri khas warung dekat stasiun, yang dalam penuturan orang-orang selalu identik dengan "kesenangan malam".
Kami pergi ke warung setelah membeli tiket terlebih dahulu. Masuknya kami ke warung tersebut sama sekali bukan karena ada perempuan yang sedang berkaraoke. Alasan pemilihan warung hanya karena letaknya berdekatan langsung dengan gerbang stasiun.
Melihat kedatangan kami sebagai orang-orang baru, dua perempuan itu menjadi lebih canggung saat bernyanyi. Padahal, kedatangan kami hanya untuk ngopi. Mereka hanya menyanyikan beberapa lagu sebelum kemudian keluar dari warung.
Salah seorang perempuan duduk di depan pos penjagaan. Tidak lama kemudian terdengar riuh berupa siulan dari para tukang ojek ketika seorang lelaki bule mengenakan kaus Persib menghampiri perempuan tersebut.
Saya tidak tahu persis alasan mereka bersuit-suitan ketika lelaki bule itu menghampiri perempuan tadi. Apakah karena kejadian semacam itu jarang terjadi, atau atas dasar alasan lain, entahlah.
Kami memilih fokus pada kopi yang sudah diseduh.Dalam pikiran muncul kembali imajinasi tiga atau empat tahun lalu, sebelum saya mendapat serangan jantung. Saat itu, ngopi rasanya lebih nikmat sambil merokok. Namun, pikiran itu segera saya buang jauh-jauh karena sudah hampir satu setengah tahun saya benar-benar mencoba berhenti merokok.
Situasi sore di stasiun saat itu, kurang lebih satu bulan sebelum Persib menjadi juara BRI Super League 2026, juga sangat pantas membuat kita melihat banyak atribut dan ornamen Persib menghiasi kawasan stasiun. Termasuk kaus yang dikenakan lelaki bule tadi.
Jika dibandingkan dengan tiga dekade lalu, sebelum Ignasius Jonan melakukan pembenahan perkeretaapian di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, kawasan stasiun kerap identik dengan kondisi kumuh. Banyak bangunan liar berdiri di sekitarnya, sampah berserakan, kemudian menjamurnya prostitusi laten.
Reformasi perkeretaapian pada masa Jonan mengubah total wajah kereta api beserta tempat persinggahannya. Stasiun menjelma menjadi kawasan yang jauh lebih nyaman dan bersih; bangunan-bangunan lama direhabilitasi dan dicat dengan warna yang lebih cerah.
Belum lagi fasilitas serta pelayanan di atas kereta yang semakin membaik, seolah dikelola dengan standar korporasi yang kompetitif.Padahal, kereta api merupakan alat transportasi yang sepenuhnya dikelola oleh negara. Sejak transformasi itu, orang-orang menjadi lebih betah dan menjadikannya sebagai moda transportasi utama. Termasuk kami.
Waktu tempuh dari Bandung ke Padalarang sekitar 30 menit. Dari Stasiun Padalarang kami harus menaiki angkutan umum jurusan Cipatat.
Malam hari setelah magrib, jalanan di sekitar Stasiun Padalarang benar-benar ramai. Kami berjalan memburu angkutan umum dengan jarak kurang lebih satu kilometer karena tidak ingin kemalaman dan kereta api jurusan Cipatat-Sukabumi keburu berangkat.
Untuk kedua kalinya setelah beberapa tahun lalu, tepatnya pada tahun 1990-an, saya kembali menikmati angkutan umum Cipatat. Melewati jalan berdebu, suasananya seperti kembali pada jalan yang sering kita lalui di Tagog Apu.
Angkutan umum penuh sesak oleh penumpang yang memiliki tujuan sama yaitu Stasiun Cipatat.
Sopir angkot memang sudah terbiasa dengan kondisi semacam itu. Ia dapat memperkirakan kapan waktu tiba di stasiun. Berkali-kali ia bertutur, "Tidak akan telat, saya pastikan itu!"
Sangat percaya diri, seolah-olah sudah tahu betul apa yang akan terjadi. Kendati sebetulnya ucapan sang sopir mungkin hanya untuk meyakinkan para penumpang yang sudah mulai gelisah karena jalanan agak macet.
Entah karena sugesti dari rasa percaya diri sang sopir atau memang perhitungannya tepat, angkot tiba di stasiun persis 10 menit sebelum keberangkatan kereta. Kami berhamburan menuju stasiun. Dan benar-benar tiba.
Kami masuk ke dalam kereta dengan lega. Penumpang penuh. Mungkin berbeda dengan kelas eksekutif, di kelas ekonomi kami dapat dengan gratis melihat pemandangan para penumpang menikmati sebungkus cilok, makanan ringan, wangi parfum, bau keringat, apek pakaian, keluhan, serta gelak tawa yang berbaur menjadi satu.
Di ruang publik semacam itu, acap kali apa yang tidak pernah kita alami justru menjadi sebuah realitas yang tidak dapat dihindari.
Kereta melaju dari pelan menjadi kencang. Ada penumpang yang duduk dan ada pula yang berdiri. Namun, dari satu stasiun ke stasiun lainnya, banyak penumpang turun dan hanya sedikit yang naik.
Pada akhirnya, seluruh penumpang yang menuju Sukabumi dapat duduk dengan santai tanpa perlu berdesak-desakan. Kami bahkan bisa tersenyum kepada orang yang baru saja kita lihat beberapa saat sebelumnya.
Begitulah hidup mengajarkan kepada kita.Dalam hidup, kita dapat tiba-tiba saling mengenal ketika berpapasan. Namun, tanpa banyak keraguan, kita kemudian berpisah kembali. Bahkan kepada orang-orang lama dan yang kita sayangi pun demikian. Kita atau mereka dapat saling meninggalkan, entah karena waktu atau alasan tertentu.
Hidup datang dan pergi seperti para penumpang yang berada di dalam sebuah kereta. Ada yang naik ketika perjalanan kita baru dimulai. Ada yang turun ketika perjalanan belum selesai. Ada yang bersama-sama sampai ke tujuan.
Saya memandang, ada tiga realitas hubungan di dalam kereta api seperti dalam hidup ini yaitu; orang yang hanya menemani di awal, orang yang pergi di tengah jalan, dan mereka yang bertahan hingga akhir.
Seperti kami yang akhirnya harus turun dari kereta setelah tiba di Stasiun Kota Sukabumi. Kami kembali berbaur dengan penumpang lainnya, tanpa saling bertanya. Mungkin sesekali hanya saling menatap tanpa perlu bertanya atau berkata, meskipun sekadar sapaan ringan: Hai...

Posting Komentar untuk "Kami Pulang Naik Kereta Api dari Cipatat ke Sukabumi"