Harga Siomay 94 Ribu, Harga Kue Sisir 50 Ribu

Bukan Jakarta namanya, jika harga kebutuhan masih sama dengan harga-harga di kampung. Apalagi, seperti kata Kang Ridwan, di kawasan elitnya, harga makanan saja bisa dua kali lipat daripada di Kota Sukabumi.

Seperti hari ini, Rabu, 7 Oktober 2026, saya bersama beberapa teman ditugaskan meliput kegiatan Ketua Dekranasda Kota Sukabumi, Ibu Ranty Rachmatilah, pada acara pembukaan INACRAFT 2026 di JICC Senayan Jakarta. Kami berangkat dari Sukabumi sekitar pukul 04.00 pagi dan tiba di kawasan Senayan sekitar pukul 06.00 WIB.

Ruas-ruas jalan utama di sekitar Senayan sudah ramai oleh aktivitas warga yang berolahraga. Rata-rata mereka berlari, berjalan santai, bersepeda, atau sekadar menikmati suasana pagi sambil membawa binatang peliharaan. Saya pikir, kota sebesar Jakarta memang lumrah memiliki ruang publik luas seperti kawasan Senayan ini.

Kami berempat; saya, Kang Iqbal, Kang Ridwan, dan Teh Dinni sambil menunggu kedatangan Ibu Ranty, mencari tempat untuk sarapan. Perjalanan dari Sukabumi ke Jakarta selama dua jam lebih ternyata cukup membuat perut langsung menagih untuk segera diisi. Atau barangkali, memang perut kami belum terlatih menahan lapar pada pagi hari karena sudah terbiasa harus diisi dengan aktivitas sarapan.

Jangan samakan juga pagi hari di Jakarta dengan Sukabumi. Pukul 06.30 pagi saja, udara sudah mulai terasa menghangat. Beberapa jam ke depan, saya yakin panasnya akan semakin terasa.

Kami kemudian menuju food court JICC. Dalam pikiran saya, kuliner di tempat seperti ini sudah pasti lebih mahal daripada di Sukabumi. Di kampung halaman, dengan uang ceban atau Rp10 ribu saja masih bisa membeli bubur ayam atau nasi kuning. Di Jakarta, apalagi kawasan Senayan, uang ceban mungkin hanya cukup untuk membeli segelas kopi atau air mineral.

Karena perut sudah tidak bisa diajak bernegosiasi, kami tidak banyak pertimbangan. Masing-masing memesan makanan dan minuman. Saya memesan cappuccino dan sebungkus roti. Kang Ridwan memesan susu cokelat plus makanan ringan. Kang Iqbal memilih kopi dan makanan ringan, sementara Teh Dinni memesan mi rebus telur plus teh tarik.

Saya sempat berpikir, waduh, sepagi ini sarapan dengan mi rebus. Apa mungkin kebiasaan zaman kos-kosan masih terbawa sampai sekarang?

Sambil menikmati makanan dan minuman, obrolan kami pun berjalan ke mana-mana. Saya sempat mengatakan bahwa aktivitas olahraga pada zaman sekarang semakin meningkat sejalan dengan kemajuan teknologi. Ketiga teman saya tentu tidak terlalu merespons serius pernyataan tersebut.

Saya lanjutkan saja. Pembuatan jam tangan pintar atau smartwatch, misalnya, telah mendorong pemiliknya melakukan aktivitas yang dapat dihitung oleh benda tersebut. Jumlah langkah, jarak tempuh, denyut jantung, sampai kalori yang terbakar bisa diketahui.

Teman-teman saya tetap makan. Saya pun kembali menyeruput kopi. Namanya juga obrolan pagi, tidak semua harus mendapat tanggapan.

Hingga tibalah waktunya menghitung makanan dan minuman yang kami beli. Sebelumnya kami sempat menebak-nebak, kemungkinan harga makanan ini sekian, yang itu sekian. Ternyata tidak terlalu jauh dari perkiraan.

Mi rebus plus telur dibanderol Rp18 ribu. Ya, benar, di Sukabumi harga mi rebus telur masih berada di kisaran Rp7 ribu sampai Rp10 ribu. Apalagi jika mi dan telurnya dibeli sendiri kemudian direbus di rumah, tentu jauh lebih murah.

Walakin, ini Jakarta. Harga-harga memang sudah punya cerita sendiri.

Tidak mengapa, mahal sedikit yang penting perut terisi. Tugas meliput dan mengawal Ibu Ranty akan lebih bertenaga kalau perut tidak keroncongan.

Menjelang pukul 08.00 WIB, JICC mulai ramai oleh peserta dari berbagai daerah. Para petugas penjaga pintu masuk mulai beraksi. Tas dan barang bawaan harus melalui pengecekan dan pemeriksaan.

“Hanya yang punya ID card yang boleh masuk!” teriak seorang petugas perempuan.

Antrean pun mulai memanjang. Saya berkata kepada Kang Iqbal, melihat antrean semacam ini mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI, ketika rakyat pada masa akhir Orde Lama harus mengantre beras, minyak, dan kebutuhan dasar lainnya.

Tentu saja orang-orang yang mengantre di depan kami bukan sedang membeli beras atau minyak. Mereka hanya sedang menunggu giliran masuk ke lokasi pameran. Saya pun berpikir positif, barangkali antrean dan pemeriksaan seperti ini memang diperlukan agar pengunjung lebih tertib dan keamanan tetap terjaga.

Untuk masuk ke lokasi acara, ternyata memang tidak hanya dengan ID card. Pengunjung juga dapat membeli tiket yang dijual penyelenggara seharga Rp35 ribu. Daripada harus bergantian menggunakan ID card, teknik penghematan yang justru tidak efektif jika digunakan oleh banyak orang, saya berkata kepada Teh Dinni, “Sudah saja beli tiket, yuk.”

Kami pun masuk ke lokasi pameran. Pandangan saya langsung tertuju pada berbagai kriya dan hasil industri kreatif para perajin dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari batik, kerajinan kayu, anyaman, produk fesyen, wastra, hingga berbagai hasil kreativitas lainnya dipamerkan dan dijual.

Seperti biasa, harga yang dibanderol di hari pertama sebuah pameran biasanya memang agak tinggi dibandingkan harga jual normal. Namun, bagi saya, datang ke pameran seperti ini bukan semata-mata soal membeli barang. Melihat produk-produk yang dibuat para perajin dari berbagai daerah sudah menjadi pengalaman tersendiri.

Sebelum meliput kegiatan pembukaan, kami menyempatkan diri melihat-lihat ribuan produk yang dipasarkan. Saya pikir, membawa uang satu karung pun belum tentu bisa membeli seluruh produk yang ada.

Dalam benak saya justru terbersit pertanyaan, bagaimana jika Kota Sukabumi menggelar acara serupa dalam skala yang lebih kecil dengan melibatkan para perajin lokal? Tidak perlu langsung sebesar INACRAFT. Cukup menjadi tempat bertemunya perajin, pelaku UMKM, pemerintah, dan masyarakat.

Dulu, pameran produk lokal semacam itu pernah digelar dan menjadi salah satu agenda yang menarik. Mungkin gagasan seperti itu bisa kembali dipikirkan dengan konsep yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Acara pembukaan tidak terlalu lama. Setelah sambutan dari Ibu Selvi Gibran, acara dilanjutkan dengan konferensi pers bersama para jurnalis. Sementara itu, peserta lain dari berbagai daerah asyik berswafoto dan berfoto bersama di panggung.

Setelah rangkaian acara selesai, Ibu Ranty menyempatkan berkunjung ke stan Dekranasda Kota Sukabumi. Sepanjang perjalanan, kami kembali melihat-lihat berbagai produk dan sesekali berbelanja.

Nah, untuk urusan yang satu ini saya tidak akan berpanjang lebar. Menjelang pulang, kami memasuki tenant bertuliskan makanan khas Kamboja. Ada kue sisir, siomay, dan beberapa makanan lainnya.

Di sinilah klimaks cerita hari ini terjadi.

Ibu Ranty membeli kue sisir. Karena penasaran, saya ingin tahu apa sebenarnya kue sisir itu. Ternyata roti yang diisi mentega, keju, abon, dan berbagai isian lainnya. Kalau di Sukabumi, mungkin kita lebih sederhana menyebutnya roti isi.

Dua belah roti yang didesain mirip sisir itu dibanderol dengan harga Rp50 ribu.

Bayangkan! Di Mapple Bakery Sukabumi, dengan uang gocip, kita masih bisa membeli beberapa jenis makanan. Tetapi sekali lagi, ini Jakarta. Jangan gunakan ukuran harga Sukabumi untuk menghitung harga makanan di kawasan seperti ini.

Belum selesai soal kue sisir, Teh Dinni tiba-tiba berkata, “Duh, lapar, pengen siomay.”

Dengan nada berseloroh saya katakan sambil tertawa, “Beli saja siomay di sini. Rp25 ribu per tiga buah!”

Mendengar itu, Teh Dinni tidak langsung percaya. Ia hanya penasaran. Mungkin karena lapar, Teh Dinni langsung memburu lapak siomay.

Beberapa saat kemudian, dia datang dan berkata: “Anjayyy... satu porsi cuma empat biji. Berapa, Cing, harganya?”

Jawabannya ternyata Rp94 ribu. Empat biji siomay. Sembilan puluh empat ribu rupiah??? Ckckckc.

Teh Dinni hanya bisa menghela napas. Saya pun tertawa. Bukan karena Teh Dinni batal makan siomay, tetapi karena sejak pagi sebenarnya Jakarta sudah memberikan beberapa tanda kepada kami.

Mi rebus telur Rp18 ribu. Kue sisir Rp50 ribu. Dan sebagai penutup, siomay Rp94 ribu.

Ya, begitulah Jakarta. Bukan Jakarta namanya jika harga kebutuhan masih sama dengan harga-harga di kampung.

Namun, justru dari perjalanan semacam inilah selalu ada cerita yang bisa dibawa pulang. Kami tidak hanya membawa pengalaman melihat karya para perajin dari berbagai daerah, tetapi juga membawa satu pelajaran sederhana: harga makanan sangat bergantung pada tempat, suasana, dan siapa yang menjualnya.

Dan untuk hari ini, saya kira tidak perlu mencari oleh-oleh yang terlalu istimewa. Cukup ingat saja: kue sisir Rp50 ribu, siomay Rp94 ribu.

Heuheuheu.

Posting Komentar untuk "Harga Siomay 94 Ribu, Harga Kue Sisir 50 Ribu"