Tim Dokpim punya cara untuk menghindari rasa penat setelah menghadapi rutinitas kerja. Jika sebelumnya kami sesekali berkunjung ke pusat jajanan untuk menikmati kopi dan camilan setelah jam kerja, di masa pengetatan anggaran ini kami lebih sering membeli kopi dalam kemasan literan.
Sebelumnya sempat ada ide dari salah seorang jurnalis untuk memberi kami kopi cup. Namun, niat itu kami urungkan dengan alasan sederhana, kopi cup yang dibanderol dengan harga sangat terjangkau biasanya memiliki racikan yang kurang “greget”.
Siapa pun memang berhak menikmati kopi dengan berbagai jenisnya. Ada kopi sachet, kopi racikan, atau, kalau kembali ke masa lalu, kopi giling bermerek Nam Hong.
Paman saya, sejak saya masih kecil sampai beliau berhenti ngopi karena alasan medis, merupakan pelanggan kopi Nam Hong, kopi dalam kemasan dengan gambar ayam jago.
Kebiasaan itu berlangsung pada era 1980-an hingga 1990-an. Saat itu saya belum tahu-menahu tentang kopi dan alasan mengapa merek tersebut begitu digemari masyarakat.
Baru ketika remaja, saya mulai mencicipi nikmatnya kopi sachetan, saat masih duduk di bangku SLTA. Apa yang dialami paman kemudian menjadi pengalaman baru bagi saya. Sejak saat itu saya mulai kecanduan kopi. Sesekali saya bahkan membeli Nam Hong cap ayam jago, seperti yang biasa dilakukan paman.
Pada masa lalu, sebelum muncul inovasi kopi plus gula dalam satu kemasan, kita harus meracik kopi dengan gula terlebih dahulu jika ingin minum kopi manis. Kebiasaannya sederhana; kopi dicampur dengan gula pasir. Menyeduh kopi dengan gula aren, pada masa itu dan di beberapa daerah, masih dipandang sebagai sesuatu yang aneh.
Pikiran orang saat itu belum banyak bersentuhan dengan persoalan kesehatan yang sekarang begitu akrab dibicarakan manusia modern, seperti diabetes melitus atau penyakit gula. Kopi ya kopi, gula ya gula. Urusan minum kopi belum seramai sekarang dengan berbagai pertimbangan.
Apa yang menjadi kebiasaan Tim Dokumentasi Pimpinan saat ini kemudian menjadi pemantik bagi saya untuk mengisahkan perjalanan kopi dan warung atau kedai-kedai kopi yang ada di Kota Sukabumi secara singkat. Sebab, artikel tentang hal ini pernah saya tulis sekitar sepuluh tahun lalu.
Ada orang yang hanya ingin menikmati kopi tanpa perlu kepo tentang segala hal. Ada pula yang justru menjadikan kopi sebagai alasan untuk mengetahui situasi kota beberapa tahun sebelumnya.
Misalnya, bagaimana suasana Kota Sukabumi pada awal 2010-an ketika kopi masih banyak ditawarkan oleh pedagang asongan yang membawa termos berisi air panas untuk menyeduh kopi.
Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai mengapa kemudian menjamur berbagai warung dan kedai kopi di Sukabumi. Perubahan itu menarik karena orang-orang yang sebelumnya cukup menikmati kopi sachetan perlahan mulai memilih kopi racikan yang dijual oleh kedai-kedai kopi.
Sekitar tahun 2013, setelah ramalan kiamat atau Armagedon versi bangsa Maya yang ramai dibicarakan, kemudian tidak terbukti. Belakangan diketahui bahwa bangsa Maya sebenarnya tidak sedang meramalkan akhir dunia. Mereka hanya menyebut berakhirnya salah satu siklus kalender mereka.
Informasi tersebut melahirkan berbagai penafsiran. Salah satunya menghubungkan kalender Maya dengan keyakinan tentang kiamat dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya termasuk orang yang saat itu tidak terlalu ambil pusing dengan penafsiran tersebut.
Dari berbagai hadis yang pernah saya baca, kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang membaca laa ilaaha illallah. Artinya, selama planet ini masih dihuni manusia yang sadar kepada Tuhannya, urusan kiamat bukan sesuatu yang perlu diramal-ramal.
Saat itu saya diundang Mang Amran untuk ngaso di salah satu kedai kopi yang baru berdiri, Seecul di Jalan R. Syamsudin. Dari sana saya mulai berkenalan dengan orang-orang baru, meskipun ada beberapa orang yang sebelumnya sudah saya kenal, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Media sosial saat itu juga sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Jika sebelumnya Twitter lebih banyak digunakan untuk iseng mencari teman dan bertwit ria dengan paragraf singkat, pada masa itu Twitter mulai digunakan untuk berbagai hal, mulai dari pemasaran hingga protes netizen terhadap kebijakan publik pemerintah pusat maupun daerah.
Saya beruntung menjadi salah satu orang yang sempat mencicipi kedai kopi pada masa formatif atau awal berdirinya kedai-kedai kopi di Sukabumi. Pada masa yang sama, para aktivis media sosial juga bermunculan, ketika berbagai platform belum mengenal monetisasi seperti sekarang.
Salah satu media sosial yang saya kenal saat itu adalah Sukabumi Today yang didirikan Kang Gerry. Kolom komentarnya sering menjadi tempat berkumpulnya banyak akun. Yang menarik, para komentator itu terkadang sebenarnya sedang berada di tempat yang sama.
Bagi netizen lain, antara satu akun dan akun lainnya mungkin terlihat berada di tempat berjauhan. Bahkan, bisa saja mereka dianggap sedang bermusuhan karena saling berbalas komentar. Padahal, orang-orangnya mungkin sedang duduk berdekatan, menikmati kopi, lalu tertawa bersama setelah selesai menulis komentar.
Hal semacam itu memang menarik. Dunia maya ternyata tidak selalu membuat orang berjauhan. Kadang justru dari sanalah orang-orang yang sebelumnya hanya saling mengenal melalui akun media sosial kemudian bertemu secara langsung.
Di masa awal kebangkitan para aktivis media sosial itu, berbagai hal dibicarakan di tempat yang sama sambil menikmati secangkir kopi dengan harga sekitar Rp6.000 per gelas. Dibandingkan kopi sachetan, tentu relatif lebih mahal. Namun, kedai seperti Seecul menawarkan sesuatu yang saat itu cukup penting: Wi-Fi gratis.
Wi-Fi menjadi semacam suplemen tambahan bagi para peselancar dunia maya. Orang datang untuk minum kopi, tetapi kemudian membuka laptop, memainkan ponsel, membaca linimasa, menulis status, membalas komentar, lalu terlibat dalam percakapan yang kadang lebih panjang daripada waktu yang diperlukan untuk menghabiskan kopinya.
Di kedai kopi seperti itu, saya melihat bagaimana kehidupan dunia maya dan dunia nyata bertemu. Orang yang sebelumnya hanya dikenal melalui nama akun akhirnya duduk di meja yang sama. Kopi menjadi teman ngobrol, sementara internet membuat percakapan bisa menjalar ke mana-mana.
Saat itu, ngopi sambil ngepo menjadi kebiasaan baru. Sikap ingin tahu terhadap segala hal tumbuh bersamaan dengan semakin mudahnya orang mendapatkan informasi. Siapa sedang bersama siapa, siapa menulis apa, siapa sedang membicarakan apa, semuanya bisa diketahui hanya dengan membuka ponsel.
Undang-Undang ITE kemudian hadir di tengah kehidupan digital yang semakin ramai. Ada kebutuhan untuk mengatur perilaku orang-orang yang mulai terbiasa serba posting, serba publish, serba berkomentar, dan ingin semuanya berlangsung cepat. Dunia maya yang awalnya terasa seperti tempat bermain perlahan menjadi ruang yang memiliki konsekuensi nyata.
Sekarang, ngopi dan ngepo sudah seperti dua kegiatan yang berbeda. Kopi berkembang menjadi urusan yang jauh lebih serius. Ada kopi arabika, robusta, berbagai metode seduh, barista, manual brew, sampai orang yang bisa menjelaskan rasa kopi dengan istilah yang dulu mungkin tidak pernah kami dengar.
Sementara itu, media sosial telah berubah menjadi panggung besar dan belantara informasi. Apa pun bisa muncul dalam hitungan detik. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada ketika kami pertama kali mengenal Twitter dan kedai-kedai kopi dengan Wi-Fi gratis.
Tetapi ada satu hal yang tidak banyak berubah, manusia tetap suka ingin tahu kehidupan manusia lainnya.
Dulu, untuk ngepo, kita harus duduk bersama, mendengar percakapan orang, atau membaca koran dan majalah. Sekarang cukup membuka ponsel. Orang lain bahkan sering kali membagikan sendiri kehidupan pribadinya. Kita tinggal melihat, membaca, lalu kadang ikut berkomentar.
Karena itu, mungkin sekarang kita perlu belajar ngopi tanpa ngepo. Duduk di kedai, pesan kopi, lalu berbicara dengan orang di depan kita tanpa harus sibuk melihat apa yang sedang dilakukan orang lain di media sosial. Menikmati kopi tanpa merasa harus mengetahui semua hal yang terjadi di luar meja kita.
Saya percaya, secangkir kopi memang tidak perlu diberi beban terlalu banyak. Ia cukup menjadi kopi; pahit, manis, panas, atau dingin. Selebihnya terserah kita, apakah ingin menghabiskannya sambil ngobrol, melamun, membaca, atau sekadar menikmati waktu.
Sebelumnya sempat ada ide dari salah seorang jurnalis untuk memberi kami kopi cup. Namun, niat itu kami urungkan dengan alasan sederhana, kopi cup yang dibanderol dengan harga sangat terjangkau biasanya memiliki racikan yang kurang “greget”.
Siapa pun memang berhak menikmati kopi dengan berbagai jenisnya. Ada kopi sachet, kopi racikan, atau, kalau kembali ke masa lalu, kopi giling bermerek Nam Hong.
Paman saya, sejak saya masih kecil sampai beliau berhenti ngopi karena alasan medis, merupakan pelanggan kopi Nam Hong, kopi dalam kemasan dengan gambar ayam jago.
Kebiasaan itu berlangsung pada era 1980-an hingga 1990-an. Saat itu saya belum tahu-menahu tentang kopi dan alasan mengapa merek tersebut begitu digemari masyarakat.
Baru ketika remaja, saya mulai mencicipi nikmatnya kopi sachetan, saat masih duduk di bangku SLTA. Apa yang dialami paman kemudian menjadi pengalaman baru bagi saya. Sejak saat itu saya mulai kecanduan kopi. Sesekali saya bahkan membeli Nam Hong cap ayam jago, seperti yang biasa dilakukan paman.
Pada masa lalu, sebelum muncul inovasi kopi plus gula dalam satu kemasan, kita harus meracik kopi dengan gula terlebih dahulu jika ingin minum kopi manis. Kebiasaannya sederhana; kopi dicampur dengan gula pasir. Menyeduh kopi dengan gula aren, pada masa itu dan di beberapa daerah, masih dipandang sebagai sesuatu yang aneh.
Pikiran orang saat itu belum banyak bersentuhan dengan persoalan kesehatan yang sekarang begitu akrab dibicarakan manusia modern, seperti diabetes melitus atau penyakit gula. Kopi ya kopi, gula ya gula. Urusan minum kopi belum seramai sekarang dengan berbagai pertimbangan.
Apa yang menjadi kebiasaan Tim Dokumentasi Pimpinan saat ini kemudian menjadi pemantik bagi saya untuk mengisahkan perjalanan kopi dan warung atau kedai-kedai kopi yang ada di Kota Sukabumi secara singkat. Sebab, artikel tentang hal ini pernah saya tulis sekitar sepuluh tahun lalu.
Ada orang yang hanya ingin menikmati kopi tanpa perlu kepo tentang segala hal. Ada pula yang justru menjadikan kopi sebagai alasan untuk mengetahui situasi kota beberapa tahun sebelumnya.
Misalnya, bagaimana suasana Kota Sukabumi pada awal 2010-an ketika kopi masih banyak ditawarkan oleh pedagang asongan yang membawa termos berisi air panas untuk menyeduh kopi.
Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai mengapa kemudian menjamur berbagai warung dan kedai kopi di Sukabumi. Perubahan itu menarik karena orang-orang yang sebelumnya cukup menikmati kopi sachetan perlahan mulai memilih kopi racikan yang dijual oleh kedai-kedai kopi.
Sekitar tahun 2013, setelah ramalan kiamat atau Armagedon versi bangsa Maya yang ramai dibicarakan, kemudian tidak terbukti. Belakangan diketahui bahwa bangsa Maya sebenarnya tidak sedang meramalkan akhir dunia. Mereka hanya menyebut berakhirnya salah satu siklus kalender mereka.
Informasi tersebut melahirkan berbagai penafsiran. Salah satunya menghubungkan kalender Maya dengan keyakinan tentang kiamat dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya termasuk orang yang saat itu tidak terlalu ambil pusing dengan penafsiran tersebut.
Dari berbagai hadis yang pernah saya baca, kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang membaca laa ilaaha illallah. Artinya, selama planet ini masih dihuni manusia yang sadar kepada Tuhannya, urusan kiamat bukan sesuatu yang perlu diramal-ramal.
Saat itu saya diundang Mang Amran untuk ngaso di salah satu kedai kopi yang baru berdiri, Seecul di Jalan R. Syamsudin. Dari sana saya mulai berkenalan dengan orang-orang baru, meskipun ada beberapa orang yang sebelumnya sudah saya kenal, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Media sosial saat itu juga sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Jika sebelumnya Twitter lebih banyak digunakan untuk iseng mencari teman dan bertwit ria dengan paragraf singkat, pada masa itu Twitter mulai digunakan untuk berbagai hal, mulai dari pemasaran hingga protes netizen terhadap kebijakan publik pemerintah pusat maupun daerah.
Saya beruntung menjadi salah satu orang yang sempat mencicipi kedai kopi pada masa formatif atau awal berdirinya kedai-kedai kopi di Sukabumi. Pada masa yang sama, para aktivis media sosial juga bermunculan, ketika berbagai platform belum mengenal monetisasi seperti sekarang.
Salah satu media sosial yang saya kenal saat itu adalah Sukabumi Today yang didirikan Kang Gerry. Kolom komentarnya sering menjadi tempat berkumpulnya banyak akun. Yang menarik, para komentator itu terkadang sebenarnya sedang berada di tempat yang sama.
Bagi netizen lain, antara satu akun dan akun lainnya mungkin terlihat berada di tempat berjauhan. Bahkan, bisa saja mereka dianggap sedang bermusuhan karena saling berbalas komentar. Padahal, orang-orangnya mungkin sedang duduk berdekatan, menikmati kopi, lalu tertawa bersama setelah selesai menulis komentar.
Hal semacam itu memang menarik. Dunia maya ternyata tidak selalu membuat orang berjauhan. Kadang justru dari sanalah orang-orang yang sebelumnya hanya saling mengenal melalui akun media sosial kemudian bertemu secara langsung.
Di masa awal kebangkitan para aktivis media sosial itu, berbagai hal dibicarakan di tempat yang sama sambil menikmati secangkir kopi dengan harga sekitar Rp6.000 per gelas. Dibandingkan kopi sachetan, tentu relatif lebih mahal. Namun, kedai seperti Seecul menawarkan sesuatu yang saat itu cukup penting: Wi-Fi gratis.
Wi-Fi menjadi semacam suplemen tambahan bagi para peselancar dunia maya. Orang datang untuk minum kopi, tetapi kemudian membuka laptop, memainkan ponsel, membaca linimasa, menulis status, membalas komentar, lalu terlibat dalam percakapan yang kadang lebih panjang daripada waktu yang diperlukan untuk menghabiskan kopinya.
Di kedai kopi seperti itu, saya melihat bagaimana kehidupan dunia maya dan dunia nyata bertemu. Orang yang sebelumnya hanya dikenal melalui nama akun akhirnya duduk di meja yang sama. Kopi menjadi teman ngobrol, sementara internet membuat percakapan bisa menjalar ke mana-mana.
Saat itu, ngopi sambil ngepo menjadi kebiasaan baru. Sikap ingin tahu terhadap segala hal tumbuh bersamaan dengan semakin mudahnya orang mendapatkan informasi. Siapa sedang bersama siapa, siapa menulis apa, siapa sedang membicarakan apa, semuanya bisa diketahui hanya dengan membuka ponsel.
Undang-Undang ITE kemudian hadir di tengah kehidupan digital yang semakin ramai. Ada kebutuhan untuk mengatur perilaku orang-orang yang mulai terbiasa serba posting, serba publish, serba berkomentar, dan ingin semuanya berlangsung cepat. Dunia maya yang awalnya terasa seperti tempat bermain perlahan menjadi ruang yang memiliki konsekuensi nyata.
Sekarang, ngopi dan ngepo sudah seperti dua kegiatan yang berbeda. Kopi berkembang menjadi urusan yang jauh lebih serius. Ada kopi arabika, robusta, berbagai metode seduh, barista, manual brew, sampai orang yang bisa menjelaskan rasa kopi dengan istilah yang dulu mungkin tidak pernah kami dengar.
Sementara itu, media sosial telah berubah menjadi panggung besar dan belantara informasi. Apa pun bisa muncul dalam hitungan detik. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada ketika kami pertama kali mengenal Twitter dan kedai-kedai kopi dengan Wi-Fi gratis.
Tetapi ada satu hal yang tidak banyak berubah, manusia tetap suka ingin tahu kehidupan manusia lainnya.
Dulu, untuk ngepo, kita harus duduk bersama, mendengar percakapan orang, atau membaca koran dan majalah. Sekarang cukup membuka ponsel. Orang lain bahkan sering kali membagikan sendiri kehidupan pribadinya. Kita tinggal melihat, membaca, lalu kadang ikut berkomentar.
Karena itu, mungkin sekarang kita perlu belajar ngopi tanpa ngepo. Duduk di kedai, pesan kopi, lalu berbicara dengan orang di depan kita tanpa harus sibuk melihat apa yang sedang dilakukan orang lain di media sosial. Menikmati kopi tanpa merasa harus mengetahui semua hal yang terjadi di luar meja kita.
Saya percaya, secangkir kopi memang tidak perlu diberi beban terlalu banyak. Ia cukup menjadi kopi; pahit, manis, panas, atau dingin. Selebihnya terserah kita, apakah ingin menghabiskannya sambil ngobrol, melamun, membaca, atau sekadar menikmati waktu.

Posting Komentar untuk "Ngopi Tanpa Ngepo"