JALUR LINGKAR SELATAN, KOTA SUKABUMI

Ciri utama era di gelombang ke-tiga, menurut Toffler adalah semakin mudahnya orang memanfaatkan barang-barang yang erat dengan teknologi. Teknomania ditandai dengan tiga ciri pola hidup; pilih, beli, lalu buang. Kenyataan ini besar sekali mempengaruhi kehidupan, penguasaan terhadap alat dan barang akan menjadi dorongan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tingkat kebutuhan manusia, seperti pandangan Maslow , di zaman ketika kebutuhan terhadap penguasaan teknologi begitu tinggi akan berubah beberapa derajat dari kebutuhan-kebutuhan yang dulu dianggap bukan merupakan kebutuhan utama, bahkan tidak terpikirkan sebelumnya.

Peningkatan kebutuhan akan kepemilikan suatu barang ini akan berbanding lurus dengan tingkat distribusi suatu barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kemajuan teknologi akan dan harus selalu berbanding lurus dengan peningkatan infra-struktur. Bahasa order baru barang kali masih bisa digunakan; pemerataan pembangunan! Dalam literatur kaum Sosialisasi dikenal dengan lomapatan besar ke depan!

Era orde baru berakhir di awal tahun 2000an. Reformasi membawa perubahan besar , deras, bisa disebut sebagai serbuan badai besar. Krisis moneter seharusnya mempengaruhi tingkat kebutuhan manusia, logikanya seperti ini; krisis moneter seharusnya menyadarkan manusia, betapa sikap hemat penting dikedepankan. Namun, kenyataan ini bertolak belakang, tingkat konsumsi manusia terhadap rasa haus memiliki suatu barang di era krismon malah semakin tinggi.

Orang yang pada awalnya menganggap memiliki sepeda motor adalah sebuah kemegahan menjadi hal biasa. Tingkat kepemilikan terhadap kendaraan roda dua ini meningkat tajam. Jawaban dari kenyataan ini adalah; Pemerintah harus bisa menciptakan fasilitas transportasi, memperbaiki infra struktur.

Tahun 2002, diwacanakan akan dibangun sebuah jalan besar bernama Lingkar Selatan. Wacana semakin meluber, kecuali dibangun Jalur Lingkar Selatan, tidak jauh di tempat itu akan dibangun juga sebuah terminal type A. Delapan tahun berjalan, Jalur Lingkar Selatan telah dibangun, bahkan lahan untukterminal pun telah disiapkan. Di tahun 2010, Jalur lingkar selatan baru menghubungkan Jalan Baros- Jalan Pelabuan II. Tetapi pengaruhnya begitu besar, nilai jula tanah melambung beratus kali lipat dari NJOP sebenarnya.

Sepanjang jalan, telah didirikan pusat-pusat kuliner.

Di Tahun 2012, pembangunan Jalur Lingkar Selatan dilanjutkan, pembangunan terminal pun dilanjutkan juga. Perubahan ini tentu saja membawa dampak besar terhadap perubahan budaya masyarakat. Lahan-lahan pertanian yang dulu kurang diperhatikan kini menjadi pusat perhatian, terutama areal pesawahan sepanjang pinggir jalan. Pergeseran budaya agraris ke perdagangan. Ya, ini seirama dengan ciri utama di era gelombang ke-tiga, kebutuhan terhadap memiliki suatu barang meningkat tajam. Orang lebih senang menjual sawah kemudian dibelikan suatu barang, alat pemuas kebutuhan, ditukar dengan kendaraan, lalu mereka mencobanya di atas Jalur Lingkar Selatan, cita rasa baru!

Dampak positifnya pun tidak terbendung. Perubahan dari nilai-nilai agraris ke budaya perkotaan telah membuka cakrawala baru masyarakat dalam menginterpretasikan sesuatu. Pemikiran dan pola pikir telah begitu cair, fanatisme kampungan telah bisa ditawarkan. Mereka secara perlahan telah memahami, bahwa kehidupan ini sedang mengarah ke sebuah kampung dunia (Global-Village), mau tidak mau mereka harus bisa menempatkan diri dan mengikutinya.[ ]

KANG WARSA

Posting Komentar untuk "JALUR LINGKAR SELATAN, KOTA SUKABUMI"