Senjakala menjelang bulan Ramadan pada tahun 80–90-an adalah kisah yang membuat orang-orang pada masa itu masih larut dalam kenangan tentangnya hingga hari ini.
Entah mengapa, di masa itu, masyarakat terasa lebih peka perasaannya terhadap kehadiran bulan puasa yang mereka pandang begitu sakral, bahkan melampaui sekadar pemahaman dalil dan hadis.
Mungkin saja, dalam kesederhanaannya, masyarakat ketika itu justru lebih religius dalam penghayatan dibanding mereka yang hari ini merasa lebih dekat dengan sumber ajaran itu sendiri.
Dengan asumsi sederhana dari pengalaman yang saya alami, kekuatan pribumisasi Islam sebuah penyatuan nilai-nilai universal Islam dengan tradisi setempat, menjadi faktor penguat ikatan batin antara manusia, alam, dan fenomena sosial yang terus berulang dari waktu ke waktu.
Puasa hadir bersama kisah, bersama tradisi, bersama suasana yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Ramadan dirasakan bahkan sebelum ia benar-benar tiba.
Apalagi saat musim kemarau. Balutan gemawan tipis berserakan di azimut langit yang sebentar lagi larut dalam pelukan malam yang perlahan mendingin. Angin membelai tubuh, seolah membawa pesan sunyi, bulan akan segera berganti dengan apa yang selalu kalian nanti.
Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, Ramadan memang bulan yang dirindukan. Kisah tentangnya terus diceritakan, menjadi rangkaian alur hidup yang menetap dalam diri masyarakat menjadi pemantik kerinduan pada masa lalu, rindu berkumpul dengan keluarga, rindu suara tawa yang kini hanya tinggal gema, rindu pada mereka yang satu per satu telah mendahului kita.
Teras-teras rumah di Balandongan dengan arsitektur sederhana, semi permanen, dan sebagian kecil masih berupa rumah panggung, jika dipotret dengan kamera paling sederhana sekalipun akan memancarkan kesan kebahagiaan yang utuh.
Anak-anak bermain di halaman, jalan berbatu dilalui muda-mudi yang lalu-lalang menikmati senja, para orang tua berbincang tentang kerja siang tadi.
Itulah realisme sosial yang jauh dari kegelisahan berlebihan, jauh dari kecemasan yang hari ini sering kita warisi.
Beberapa hari menjelang Ramadan adalah cerita tentang keberkahan yang akan datang dan keberkahan tak pernah pantas disambut dengan bermuram durja.
Areal persawahan di sebelah barat, timur, dan selatan kampung menjadi puzzle lanskap yang terpasang sempurna, membingkai desa yang jauh dari kebisingan dan orkestra mesin yang memekakkan telinga.
Akustik lingkungannya adalah semilir angin, gemericik air di selokan, kicau burung, dan teriakan anak-anak yang terdengar samar dari kejauhan. Alam seperti memberi tanda beberapa hari lagi puasa akan tiba, saat manusia menundukkan diri, menafakuri sore, dan merawat keindahan agar tidak lekang oleh zaman.
Beberapa petak sawah yang telah dipanen, menjelang matahari turun ke peraduan, masih diisi anak-anak yang bermain sepak bola. Mereka berlarian, ada yang benar-benar bermain bola, ada pula yang sekadar berguling dan salto di atas tumpukan jerami yang empuk bak matras.
Mereka menirukan gerakan atlet senam Olimpiade yang sesekali mereka saksikan dalam acara Dari Gelanggang ke Gelanggang di TVRI. Imajinasi dan kesederhanaan menyatu tanpa sekat.
Sebagai epilog, senja menjelang Ramadan itu selalu datang dengan cara yang sama, namun tak pernah terasa biasa. Dari masjid mulai menggema lantunan puji-pujian. Pepohonan seperti menunduk khidmat, langit barat menguning lalu perlahan memerah, udara hangat berubah sejuk, dan cahaya meredup dengan anggun.
Perkampungan yang semula riuh berangsur hening bukan karena kehilangan suara, melainkan karena seluruh denyut kehidupan bersiap menyambut sesuatu yang suci.
Hingga akhirnya bedug ditabuh, disusul kumandang azan yang memecah senyap, menggema di antara sawah dan rumah-rumah sederhana.
Di momen itu, waktu seperti berhenti sejenak. Senja seolah menjadi ruang sakral tempat kenangan, harapan, dan doa bertemu.
Ramadan belum sepenuhnya tiba, tetapi jiwanya sudah lebih dulu hadir; mengikat kampung, manusia, dan langit dalam satu suasana yang khusyuk dan tak tergantikan.
Entah mengapa, di masa itu, masyarakat terasa lebih peka perasaannya terhadap kehadiran bulan puasa yang mereka pandang begitu sakral, bahkan melampaui sekadar pemahaman dalil dan hadis.
Mungkin saja, dalam kesederhanaannya, masyarakat ketika itu justru lebih religius dalam penghayatan dibanding mereka yang hari ini merasa lebih dekat dengan sumber ajaran itu sendiri.
Dengan asumsi sederhana dari pengalaman yang saya alami, kekuatan pribumisasi Islam sebuah penyatuan nilai-nilai universal Islam dengan tradisi setempat, menjadi faktor penguat ikatan batin antara manusia, alam, dan fenomena sosial yang terus berulang dari waktu ke waktu.
Puasa hadir bersama kisah, bersama tradisi, bersama suasana yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Ramadan dirasakan bahkan sebelum ia benar-benar tiba.
Apalagi saat musim kemarau. Balutan gemawan tipis berserakan di azimut langit yang sebentar lagi larut dalam pelukan malam yang perlahan mendingin. Angin membelai tubuh, seolah membawa pesan sunyi, bulan akan segera berganti dengan apa yang selalu kalian nanti.
Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, Ramadan memang bulan yang dirindukan. Kisah tentangnya terus diceritakan, menjadi rangkaian alur hidup yang menetap dalam diri masyarakat menjadi pemantik kerinduan pada masa lalu, rindu berkumpul dengan keluarga, rindu suara tawa yang kini hanya tinggal gema, rindu pada mereka yang satu per satu telah mendahului kita.
Teras-teras rumah di Balandongan dengan arsitektur sederhana, semi permanen, dan sebagian kecil masih berupa rumah panggung, jika dipotret dengan kamera paling sederhana sekalipun akan memancarkan kesan kebahagiaan yang utuh.
Anak-anak bermain di halaman, jalan berbatu dilalui muda-mudi yang lalu-lalang menikmati senja, para orang tua berbincang tentang kerja siang tadi.
Itulah realisme sosial yang jauh dari kegelisahan berlebihan, jauh dari kecemasan yang hari ini sering kita warisi.
Beberapa hari menjelang Ramadan adalah cerita tentang keberkahan yang akan datang dan keberkahan tak pernah pantas disambut dengan bermuram durja.
Areal persawahan di sebelah barat, timur, dan selatan kampung menjadi puzzle lanskap yang terpasang sempurna, membingkai desa yang jauh dari kebisingan dan orkestra mesin yang memekakkan telinga.
Akustik lingkungannya adalah semilir angin, gemericik air di selokan, kicau burung, dan teriakan anak-anak yang terdengar samar dari kejauhan. Alam seperti memberi tanda beberapa hari lagi puasa akan tiba, saat manusia menundukkan diri, menafakuri sore, dan merawat keindahan agar tidak lekang oleh zaman.
Beberapa petak sawah yang telah dipanen, menjelang matahari turun ke peraduan, masih diisi anak-anak yang bermain sepak bola. Mereka berlarian, ada yang benar-benar bermain bola, ada pula yang sekadar berguling dan salto di atas tumpukan jerami yang empuk bak matras.
Mereka menirukan gerakan atlet senam Olimpiade yang sesekali mereka saksikan dalam acara Dari Gelanggang ke Gelanggang di TVRI. Imajinasi dan kesederhanaan menyatu tanpa sekat.
Sebagai epilog, senja menjelang Ramadan itu selalu datang dengan cara yang sama, namun tak pernah terasa biasa. Dari masjid mulai menggema lantunan puji-pujian. Pepohonan seperti menunduk khidmat, langit barat menguning lalu perlahan memerah, udara hangat berubah sejuk, dan cahaya meredup dengan anggun.
Perkampungan yang semula riuh berangsur hening bukan karena kehilangan suara, melainkan karena seluruh denyut kehidupan bersiap menyambut sesuatu yang suci.
Hingga akhirnya bedug ditabuh, disusul kumandang azan yang memecah senyap, menggema di antara sawah dan rumah-rumah sederhana.
Di momen itu, waktu seperti berhenti sejenak. Senja seolah menjadi ruang sakral tempat kenangan, harapan, dan doa bertemu.
Ramadan belum sepenuhnya tiba, tetapi jiwanya sudah lebih dulu hadir; mengikat kampung, manusia, dan langit dalam satu suasana yang khusyuk dan tak tergantikan.

Posting Komentar untuk "Senja Itu: Sejumput Kisah Masa Lalu Aku dan Kampung Halamanku (Bagian 31)"