Lorde dan Team: Ajakan untuk Kembali ke Identitas dan Lokalitas



Usai hiruk-pikuk Pilkada 2013 yang berujung pada sidang gugatan di Mahkamah Konstitusi, babak berikutnya bagi Kota Sukabumi adalah menghadapi Pileg dan Pilpres 2014. Sebagai bagian dari Tim Media Center KPU Kota Sukabumi, saya terlibat langsung dalam seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu dari awal hingga akhir. Sebagai penyelenggara, tentu ada harapan besar agar pesta demokrasi 2014 berjalan sukses, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara substantif.

Tahun 2013–2014 menjadi periode yang cukup melelahkan. Ritme kerja berjalan maraton, sering kali hingga larut malam. Sebagai tenaga profesional dengan garis koordinasi langsung kepada komisioner dan kesekretariatan, bekerja nyaris tanpa jeda menjadi keniscayaan. Di titik tertentu, bekerja di KPU terasa seperti harus selalu siap selama 24 jam.

Namun tulisan ini bukan akan mengulas tentang teknis kerja di KPU. Ada pengalaman lain, di luar ruang kantor, yang justru meninggalkan kesan lebih panjang. Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, sepulang kerja saya singgah di sebuah minimarket. Di layar televisi kecil dekat kasir, terpampang sebuah video klip: Lorde membawakan lagu berjudul Team.

Karena penasaran, saya bertanya kepada petugas minimarket, “Suka Lorde?” Ia balik bertanya, “Lorde apa, Pak?”

O, saya pikir, barangkali video itu hanya bagian dari putaran acak. Saya pun tidak melanjutkan percakapan. Lorde sendiri saya kenal beberapa bulan sebelumnya lewat daftar putar Radio Komunitas yang saya kelola, radio yang lebih sering memutar musik pop dan rock alternatif dibandingkan arus utama.

Ketertarikan saya pada Lorde bukan semata pada genre musiknya, melainkan pada kekuatan lirik Team yang terasa selaras dengan situasi masyarakat yang kian bergerak ke arah urban. Lagu ini ditulis Lorde sebagai semacam “surat cinta” untuk teman-temannya dan kota kelahirannya di Selandia Baru.

Pada 2013, video klip arus utama terutama Hip Hop, tengah dipenuhi glamor, kemewahan, dan fantasi hidup elit. Lorde justru merespons kegelisahan itu dengan Team, lagu yang tidak terobsesi pada pesta di pulau pribadi, perhiasan mahal, atau kekayaan berlebih sebagaimana lazim tampil dalam video klip hip hop masa itu.

Ia menulis: “We live in cities you’ll never see on screen.” Lirik ini menegaskan bahwa dunia nyata, kota kecil yang membosankan, tidak glamor, dan jauh dari sorotan kamera tetaplah bernilai, meskipun tak pernah tampil di layar televisi. Saat itu, istilah “viral” bahkan belum menjadi kata sehari-hari.

Kegelisahan serupa saya rasakan. Desa dan kampung pelan-pelan terdesak oleh logika perkotaan. Dalam situasi itu, saya pernah menulis artikel berjudul “Kembalikan Kampung Halamanku!”, sebuah ekspresi kehilangan, seolah ada sesuatu yang direnggut dari kehidupan: hamparan perkampungan hijau yang pernah begitu akrab beberapa dekade sebelumnya.

Lingkar pertemanan pun menyusut. Teman-teman seangkatan semakin jarang bertemu. Situasi ini terasa beririsan dengan Team, yang merayakan solidaritas dalam lingkar kecil. Lagu ini tidak bercerita tentang mereka yang populer atau kaya, tetapi tentang kebersamaan. Lorde menempatkan dirinya sebagai bagian dari tim itu, bukan sebagai bintang yang berdiri di luar lingkaran.

Alih-alih memuja kesempurnaan, Lorde justru merayakan ketidaksempurnaan: “Dancin' around the lies we tell / Dancin' around big wheels and bells. And you know, we’re on each other’s team.” Kekacauan, kekurangan, dan kebingungan remaja bukan untuk disangkal, melainkan diterima selama ada saling dukung.

Lagu ini juga dibuka dengan baris yang terasa ikonik: “Call all the ladies out, they’re in a world of their own.” yang menyinggung isolasi sosial dan dunia imajiner remaja. Lalu disusul pengakuan kedewasaan yang datang terlalu cepat: “I’m kind of older than I was when I revelled without a care.”

Dalam perjalanan pulang malam itu, saya terus menggumamkan bagian reffrain: “We live in cities you’ll never see on screen.” Bagi saya, orang kampung tetaplah orang kampung, namun bukan berarti harus kehilangan identitas, rasa memiliki, dan kebanggaan akan asal-usul. 

Lorde, melalui Team, mengajak kita berhenti mengejar standar hidup “sempurna” ala selebriti, dan mulai menghargai kota kecil, lingkar pertemanan, serta orang-orang yang hadir di sekitar kita hari ini.

Posting Komentar untuk "Lorde dan Team: Ajakan untuk Kembali ke Identitas dan Lokalitas"