Dalam tradisi umat Islam di Nusantara, bulan Ruwah (Sunda: Rewah) diibaratkan sebuah portal yang menjembatani manusia memasuki Puasa, bulan ketika spiritual ditempa agar terlatih dan terbiasa lebih dekat pada dimensi tak tersentuh. Dimensi tak tersentuh ini dapat dimaknai sebagai sisi kehidupan manusia yang jarang dikunjungi, yaitu rohani.
Konon, kata Ruwah merupakan bentuk vernakularisasi dari kata arwah (roh) dalam bahasa Arab. Sesuatu yang tidak terjangkau ini bahkan mendapatkan perhatian khusus di dalam al-Quran, bahwa persoalan "ruh" merupakan urusan prerogatif Allah Swt.
Hanya saja, sisi rohani manusia adalah hal lain yang perlu mendapatkan kajian serius, terlebih kita sering mengungkapkan kalimat sederhana; jasmani dan rohani. Sisi terdalam manusia ini jarang dibahas karena kita memang terlalu sering bermain-main di wilayah permukaan.
Sebelum memasuki bulan Puasa, momentum ini digunakan umat Islam untuk menumbuhkan kesadaran (shadrun: lapang dada) guna menengok kembali sisi rohani kita, seberapa bernas dan bening jika dibandingkan dengan alam materil yang acap mengecoh diri dalam melihat kebenaran dan kebaikan.
Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, bulan Ruwah, terutama pada tanggal empat belas, diisi dengan membaca Yasinan di mesjid dan surau dalam bingkai Nishfu Sya'ban.
Pandangan yang berkembang di masyarakat menyebutkan, di pertengahan bulan Ruwah inilah catatan amal manusia diberikan oleh malaikat kepada Allah Swt.
Jika dicerna secara jernih, simbolisme semacam ini adalah pengingat agar manusia bermuhasabah dan berintrospeksi terhadap dirinya sendiri.
Selama satu tahun, berapa perbandingan komposisi antara kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan? Bulan Ruwah, dalam konteks ini, lebih dapat dikatakan sebagai bulan penghakiman tahunan terhadap jalan kehidupan yang telah dilalui.
Tidak perlu persembahan khusus saat umat Islam memenuhi mesjid. Mereka hanya membawa air bening dalam botol atau teko, kemudian diletakkan di tengah-tengah mesjid. Proses ini dipandang sebagai transfer energi kebaikan kepada air yang kemudian dianggap oleh masyarakat tradisional sebagai air berkah.
Nampak tidak masuk akal, namun penelitian telah membuktikan bahwa partikel air yang dikelilingi oleh energi kebaikan menjadi lebih hidup dibandingkan partikel air yang disesaki oleh sumpah serapah dan keburukan.
Di masyarakat sebelum memasuki milenium kedua, anak-anak akan berebut air Nishfu Sya'ban, karena mereka yakin dengan meminum air ini, pikiran mereka akan menjadi lebih bersih dan cerdas.
Kebiasaan (al-'urf) mengisi pertengahan bulan Ruwah dengan membaca Yasin bersama-sama adalah bentuk manifestasi dari penyatuan jasmani dan rohani, penyatuan antara diri manusia yang berada di jagat alit (dunia kecil) dengan kedalaman dirinya yang tertanam dalam alam rohani.
Saat penyatuan ini berhasil, dampaknya adalah tetes air mata dan pengakuan bahwa diri yang selama ini berkelana di jagat alit (marcapada) masih terlalu jauh dari alam rohani yang suci murni tanpa pragmatisme sesaat.
Saat portal menuju alam rohani terbuka, diri akan melebur dalam kebeningan jiwa, kemudian benar-benar terjebak dalam pengakuan bahwa selama ini kita terlalu angkuh kepada sesama, gemar bermain dengan kesombongan, dan tekun dalam kegaduhan.
Namun, jika jasmani dan rohani tidak pernah mau bersatu seperti air dengan minyak; jagat alit alam material akan tetap disesaki oleh kepongahan dan keculasan; di tempat ibadah kita bersimpuh menyembah Yang Maha Kuasa, namun di ruang sosial kita sibuk mengaktifkan kembali keburukan.
Menjelang bulan Puasa, ketika portal rohani benar-benar terbuka, tubuh kasar manusia akan mampu membaca pertanda alam.
Dulu, banyak masyarakat yang dapat membaca pertanda dengan ungkapan: "udara bulan Puasa benar-benar sudah mulai terasa!".
Kearifan yang sudah mulai luntur saat ini, terlebih ketika diri masih benar-benar sibuk memoles atribut luar dan bungkus jasmani.
Masyarakat Nusantara juga biasa melakukan 'nyadran', yaitu aktivitas berziarah ke makam leluhur, membersihkannya, dan berdoa bersama menjelang puasa.
Kegiatan ini merupakan akulturasi antara tradisi pra-Islam dengan ajaran Islam yang tetap dilestarikan sebagai bentuk akomodatif cara dakwah para penyebar Islam di Nusantara terhadap budaya yang telah lama berkembang. Ini menjadi cikal bakal 'Pribumisasi Islam' yang pernah digagas oleh mendiang Gus Dur.
Nyadran adalah penyadaran terhadap kohesi sosial masyarakat dengan tradisi mereka, hingga penyatuan spiritual dengan leluhur yang mewariskan keberlangsungan masyarakat hingga saat ini.
Penutup tradisi menjelang puasa adalah "kuramas" atau "keramas" membersihkan diri. Penyucian diri ini sebetulnya lebih dari sekadar fisik, juga menyangkut rohani dan batin.
Bulan Puasa sebagai bulan yang disucikan harus dihadapi dengan kesucian jasmani dan rohani. Beberapa masyarakat mengembangkan kebiasaan saling memaafkan menjelang puasa yang kemudian juga dilakukan saat bulan puasa berakhir di hari raya.
Bulan Ruwah, dengan seluruh tradisi dan ritus yang mengiringinya, pada hakikatnya adalah ruang penyadaran kolektif.
Ia mengajak kita untuk sejenak meninggalkan hiruk-pikuk jagat kecil (jagat alit) yang materialistik dan kembali menyelami jagat immateril yang sunyi namun penuh makna.
Melalui ziarah, doa bersama, pembagian air berkah, hingga saling memaafkan, Ruwah menjadi pintu gerbang menuju Ramadan dan cermin bagi setiap insan untuk mengevaluasi sejauh mana kehidupan duniawi telah menyimpang atau selaras dengan panggilan ruhani.
Dalam harmoni antara tradisi lokal seperti nyadran dan ajaran universal Islam, tersimpan kearifan bahwa spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan fondasi untuk membangun realitas yang lebih manusiawi, penuh kesadaran, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Ruwah mengingatkan kita bahwa perjalanan terpenting bukanlah mengejar yang ada di luar, tetapi pulang ke dalam yaitu kembali kepada kesucian diri dan kebersamaan sebagai umat.
Konon, kata Ruwah merupakan bentuk vernakularisasi dari kata arwah (roh) dalam bahasa Arab. Sesuatu yang tidak terjangkau ini bahkan mendapatkan perhatian khusus di dalam al-Quran, bahwa persoalan "ruh" merupakan urusan prerogatif Allah Swt.
Hanya saja, sisi rohani manusia adalah hal lain yang perlu mendapatkan kajian serius, terlebih kita sering mengungkapkan kalimat sederhana; jasmani dan rohani. Sisi terdalam manusia ini jarang dibahas karena kita memang terlalu sering bermain-main di wilayah permukaan.
Sebelum memasuki bulan Puasa, momentum ini digunakan umat Islam untuk menumbuhkan kesadaran (shadrun: lapang dada) guna menengok kembali sisi rohani kita, seberapa bernas dan bening jika dibandingkan dengan alam materil yang acap mengecoh diri dalam melihat kebenaran dan kebaikan.
Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, bulan Ruwah, terutama pada tanggal empat belas, diisi dengan membaca Yasinan di mesjid dan surau dalam bingkai Nishfu Sya'ban.
Pandangan yang berkembang di masyarakat menyebutkan, di pertengahan bulan Ruwah inilah catatan amal manusia diberikan oleh malaikat kepada Allah Swt.
Jika dicerna secara jernih, simbolisme semacam ini adalah pengingat agar manusia bermuhasabah dan berintrospeksi terhadap dirinya sendiri.
Selama satu tahun, berapa perbandingan komposisi antara kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan? Bulan Ruwah, dalam konteks ini, lebih dapat dikatakan sebagai bulan penghakiman tahunan terhadap jalan kehidupan yang telah dilalui.
Tidak perlu persembahan khusus saat umat Islam memenuhi mesjid. Mereka hanya membawa air bening dalam botol atau teko, kemudian diletakkan di tengah-tengah mesjid. Proses ini dipandang sebagai transfer energi kebaikan kepada air yang kemudian dianggap oleh masyarakat tradisional sebagai air berkah.
Nampak tidak masuk akal, namun penelitian telah membuktikan bahwa partikel air yang dikelilingi oleh energi kebaikan menjadi lebih hidup dibandingkan partikel air yang disesaki oleh sumpah serapah dan keburukan.
Di masyarakat sebelum memasuki milenium kedua, anak-anak akan berebut air Nishfu Sya'ban, karena mereka yakin dengan meminum air ini, pikiran mereka akan menjadi lebih bersih dan cerdas.
Kebiasaan (al-'urf) mengisi pertengahan bulan Ruwah dengan membaca Yasin bersama-sama adalah bentuk manifestasi dari penyatuan jasmani dan rohani, penyatuan antara diri manusia yang berada di jagat alit (dunia kecil) dengan kedalaman dirinya yang tertanam dalam alam rohani.
Saat penyatuan ini berhasil, dampaknya adalah tetes air mata dan pengakuan bahwa diri yang selama ini berkelana di jagat alit (marcapada) masih terlalu jauh dari alam rohani yang suci murni tanpa pragmatisme sesaat.
Saat portal menuju alam rohani terbuka, diri akan melebur dalam kebeningan jiwa, kemudian benar-benar terjebak dalam pengakuan bahwa selama ini kita terlalu angkuh kepada sesama, gemar bermain dengan kesombongan, dan tekun dalam kegaduhan.
Namun, jika jasmani dan rohani tidak pernah mau bersatu seperti air dengan minyak; jagat alit alam material akan tetap disesaki oleh kepongahan dan keculasan; di tempat ibadah kita bersimpuh menyembah Yang Maha Kuasa, namun di ruang sosial kita sibuk mengaktifkan kembali keburukan.
Menjelang bulan Puasa, ketika portal rohani benar-benar terbuka, tubuh kasar manusia akan mampu membaca pertanda alam.
Dulu, banyak masyarakat yang dapat membaca pertanda dengan ungkapan: "udara bulan Puasa benar-benar sudah mulai terasa!".
Kearifan yang sudah mulai luntur saat ini, terlebih ketika diri masih benar-benar sibuk memoles atribut luar dan bungkus jasmani.
Masyarakat Nusantara juga biasa melakukan 'nyadran', yaitu aktivitas berziarah ke makam leluhur, membersihkannya, dan berdoa bersama menjelang puasa.
Kegiatan ini merupakan akulturasi antara tradisi pra-Islam dengan ajaran Islam yang tetap dilestarikan sebagai bentuk akomodatif cara dakwah para penyebar Islam di Nusantara terhadap budaya yang telah lama berkembang. Ini menjadi cikal bakal 'Pribumisasi Islam' yang pernah digagas oleh mendiang Gus Dur.
Nyadran adalah penyadaran terhadap kohesi sosial masyarakat dengan tradisi mereka, hingga penyatuan spiritual dengan leluhur yang mewariskan keberlangsungan masyarakat hingga saat ini.
Penutup tradisi menjelang puasa adalah "kuramas" atau "keramas" membersihkan diri. Penyucian diri ini sebetulnya lebih dari sekadar fisik, juga menyangkut rohani dan batin.
Bulan Puasa sebagai bulan yang disucikan harus dihadapi dengan kesucian jasmani dan rohani. Beberapa masyarakat mengembangkan kebiasaan saling memaafkan menjelang puasa yang kemudian juga dilakukan saat bulan puasa berakhir di hari raya.
Bulan Ruwah, dengan seluruh tradisi dan ritus yang mengiringinya, pada hakikatnya adalah ruang penyadaran kolektif.
Ia mengajak kita untuk sejenak meninggalkan hiruk-pikuk jagat kecil (jagat alit) yang materialistik dan kembali menyelami jagat immateril yang sunyi namun penuh makna.
Melalui ziarah, doa bersama, pembagian air berkah, hingga saling memaafkan, Ruwah menjadi pintu gerbang menuju Ramadan dan cermin bagi setiap insan untuk mengevaluasi sejauh mana kehidupan duniawi telah menyimpang atau selaras dengan panggilan ruhani.
Dalam harmoni antara tradisi lokal seperti nyadran dan ajaran universal Islam, tersimpan kearifan bahwa spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan fondasi untuk membangun realitas yang lebih manusiawi, penuh kesadaran, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Ruwah mengingatkan kita bahwa perjalanan terpenting bukanlah mengejar yang ada di luar, tetapi pulang ke dalam yaitu kembali kepada kesucian diri dan kebersamaan sebagai umat.

Posting Komentar untuk "Ruwah: Keterhubungan Jagat Alit dengan Alam Rohani"