Ophelia



Sekitar tahun 2016, tanpa sengaja saya mendengar lagu berjudul Ophelia yang dibawakan oleh The Lumineers, dengan aroma indie-folklore yang kental.

Selama lebih dari sebulan, lagu Ophelia saya putar berulang-ulang. Bahkan, lagu-lagu The Lumineers lainnya seperti Cleopatra dan Stubborn Love juga kerap saya dengarkan dan masuk ke dalam daftar putar radio lirutas (streaming) yang saya kelola.

Setiap kali mendengar Ophelia, ingatan saya kembali pada masa duduk di kelas dua SMP. Di sela-sela jam istirahat, salah satu rutinitas yang saya lakukan adalah mengunjungi perpustakaan sekolah.

Saat itu, saya tengah mencari buku klasik, drama karya Shakespeare, Romeo and Juliet. Saya yakin perpustakaan sekolah memilikinya.

Namun buku yang saya cari tidak saya temukan, entah karena memang tidak tersedia atau sedang dipinjam orang lain.

Bagi saya, perpustakaan sekolah kala itu menjadi ruang untuk mengenal dunia masa lalu dan masa kini.

Sebuah ruangan yang mengajak saya berselancar lintas zaman, menelusuri kehidupan dalam berbagai periode.

Di perpustakaan yang sama, saya pertama kali mengenal Thus Spoke Zarathustra karya Nietzsche.

Meskipun demikian, yang akhirnya saya temukan justru sebuah buku kecil, masih karya Shakespeare, berjudul Hamlet.

Dari situlah saya mengenal Ophelia, gadis yang meninggal secara tragis, terseret arus sungai.


Karya-karya Shakespeare memang selalu mampu membuat bulu kuduk merinding. Tragedi menjadi ciri khasnya.

Tak jauh berbeda dengan Romeo and Juliet, Hamlet juga menghadirkan kisah getir yang dipenuhi kepedihan. Hamlet berpura-pura gila demi membalas dendam atas kematian ayahnya.

Dalam kepura-puraan itu, ia tanpa sengaja membunuh Polonius, ayah Ophelia. Kendati Hamlet memiliki dalih bahwa pembunuhan tersebut terjadi akibat kebodohan calon mertuanya, yang ia sebut sebagai “orang tua yang gemar menguping pembicaraan orang lain”, tragedi tetaplah tragedi.

Pada tahun 2021, saya pernah mengulas salah satu novel dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yakni Jentera Bianglala karya Ahmad Tohari. Opini itu saya awali dengan paragraf:
Panggung kehidupan sering—bahkan cenderung—diwarnai oleh tragedi.

Budi Darma menyebutnya sebagai adegan-adegan yang sangat melodramatik.

Tragedi dalam kehidupan tidak dapat dihindari; ia menjelma sebagai piranti lunak dalam kehidupan itu sendiri.

Itulah sebabnya novel, roman, pentas drama, opera, dan film bernuansa tragedi selalu mendapatkan antusiasme lebih dari manusia.

Kehidupan berjalan normal, biasa, hambar, diwarnai sukacita dan nestapa, keceriaan dan kesedihan, namun pada akhirnya tak pernah benar-benar luput dari tragedi, perpisahan, entah karena putus cinta, putus cita, atau kematian.
Di situlah letak alasan mengapa Shakespeare menyulam drama-dramanya dengan tragedi, bahkan menjadikannya fitur utama dalam karyanya.

Ia ingin penonton dan pembaca meninggalkan panggung atau halaman terakhir dengan kesan yang membekas dan tak mudah hilang dari ingatan.

Lantas, apa yang ditampilkan dalam lagu Ophelia versi The Lumineers? Band ini menghadirkan sudut pandang lain tentang Ophelia, meskipun pada dasarnya masih sejalan dengan sosok Ophelia dalam Hamlet.

Ketenaran yang datang tiba-tiba, viralitas dapat membuat seseorang kehilangan jati dirinya.

Seperti Ophelia yang mendadak menjadi kekasih Hamlet, seorang pangeran, namun justru terjerumus ke dalam tragedi hidup yang membuatnya kehilangan akal sehat, hidup di antara batas nyata dan tidak nyata.

Itulah krisis jati diri, ketika seseorang lupa pada dirinya sendiri, ia akan menjelma menjadi sosok yang mengada-ada dan mengambang, dalam tradisi Sunda disebut, “ka handap teu akaran, ka luhur teu sirungan.”


Setahun lalu, pada 2025, Taylor Swift merilis lagu The Fate of Ophelia. Berbeda dengan The Lumineers, lagu ini benar-benar menafsirkan ulang sosok Ophelia.

Hingga kini, lagu tersebut masih viral dan kerap dijadikan backsound berbagai konten media sosial. Bukan karena banyak orang memahami maknanya, barangkali hanya karena terdengar enak di telinga.

Dalam soal musik, seperti dikatakan Harari dalam Nexus, musik bersifat netral. Tidak ada musik yang benar atau salah; yang ada hanyalah musik yang enak didengar atau sebaliknya membuat telinga rusak.

The Fate of Ophelia mengajak pendengarnya untuk tidak terus-menerus terjebak dalam tragedi Ophelia versi lama. Sosok perempuan yang mengalami gangguan jiwa akibat kekerasan psikis Hamlet.

Ophelia yang malang, yang harus meregang nyawa saat memanjat pohon miring ke arah sungai untuk menggantungkan karangan bunganya. Dahan itu patah, dan ia jatuh ke air.

Yang paling tragis, Ophelia tidak berusaha menyelamatkan diri. Ia justru mengapung sejenak karena gaunnya yang lebar, sambil terus menyanyikan potongan lagu-lagu lama seolah tak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya.

Taylor Swift menggambarkan Ophelia di era kini sebagai perempuan yang tidak harus rapuh dan tenggelam dalam kegilaan hanya demi diakui keberadaannya.

Dalam konteks Shakespeare, ia tidak lagi harus menjadi puitis demi pengakuan orang lain.

Lagu ini memang dipengaruhi oleh gagasan post-feminism, di mana perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai subjek pasif. Bahkan ketika rapuh, ia tetap dituntut mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, siapa pun harus bertahan hidup, meskipun kematian adalah sesuatu yang pasti.

Posting Komentar untuk "Ophelia"