Kota Sukabumi tidak hanya menawarkan heritage dan sejarah, tetapi juga menjadi surga bagi pencinta kuliner. Salah satu bukti nyatanya adalah keberadaan Laksa Idrus, kuliner legendaris yang telah menjadi ikon citarasa tradisional di tengah geliat modernisasi.
Berlokasi di Jalan Pemuda II, tak jauh dari Kantor Kecamatan Citamiang, warung sederhana ini menyimpan kisah panjang tentang ketekunan, rasa, dan warisan budaya kuliner yang tak lekang oleh waktu.
Didirikan sejak tahun 1970-an oleh Bapak Idrus, Laksa ini telah bertahan lebih dari empat dekade. Di tengah gelombang kuliner kekinian yang silih berganti, Laksa Idrus tetap berdiri kokoh dengan kesederhanaan dan kekhasan rasa yang menjadikannya magnet bagi warga lokal maupun pelancong dari luar kota.
“Saya mulai berjualan sejak masih bujangan. Resepnya turun-temurun, tapi yang paling penting dalam usaha itu adalah keseriusan dan fokus,” ungkap Bapak Idrus sambil melayani pelanggan yang tak henti berdatangan.
Laksa yang dijajakan Pak Idrus sangat nikmat. Kuahnya yang kuning hasil racikan santan dan rempah-rempah terasa hangat dan menggugah selera.
Di dalamnya berpadu soun, toge, tahu, oncom merah, serta sayur khas laksa yang ditata rapi di atas ketupat, menciptakan kombinasi rasa yang kaya dan mengenyangkan.
Aroma daun kemangi yang khas menambah daya pikat menu ini, membuat siapa pun yang mencicipi sulit melupakan rasanya.
Warung ini biasanya buka sejak pagi hingga sore, atau hingga dagangan habis. Tak jarang, sebelum jam tiga sore, panci besar kuah laksa sudah kosong karena ludes diburu pelanggan.
“Alhamdulillah, dari jualan ini saya bisa menghidupi keluarga,” ujar Pak Idrus, yang kini telah menjadi sosok panutan bagi para pelaku UMKM kuliner tradisional di Sukabumi.
Kehadiran Laksa Idrus menjadi simbol bahwa keaslian rasa dan konsistensi adalah kekuatan utama dalam mempertahankan bisnis kuliner.
Di tengah gempuran tren makanan cepat saji dan waralaba asing, Laksa Idrus tetap menunjukkan bahwa rasa yang jujur dan pelayanan yang hangat akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat.
Tak berlebihan jika kuliner ini dijuluki sebagai rasa yang mengikat lidah dan waktu, sebuah warisan cita rasa yang terus hidup di tengah denyut kota.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sukabumi, mencicipi Laksa Idrus bukan hanya soal mengisi perut, tapi juga merayakan tradisi dan mencicipi sejarah yang diolah dengan sepenuh hati.
Berlokasi di Jalan Pemuda II, tak jauh dari Kantor Kecamatan Citamiang, warung sederhana ini menyimpan kisah panjang tentang ketekunan, rasa, dan warisan budaya kuliner yang tak lekang oleh waktu.
Didirikan sejak tahun 1970-an oleh Bapak Idrus, Laksa ini telah bertahan lebih dari empat dekade. Di tengah gelombang kuliner kekinian yang silih berganti, Laksa Idrus tetap berdiri kokoh dengan kesederhanaan dan kekhasan rasa yang menjadikannya magnet bagi warga lokal maupun pelancong dari luar kota.
“Saya mulai berjualan sejak masih bujangan. Resepnya turun-temurun, tapi yang paling penting dalam usaha itu adalah keseriusan dan fokus,” ungkap Bapak Idrus sambil melayani pelanggan yang tak henti berdatangan.
Laksa yang dijajakan Pak Idrus sangat nikmat. Kuahnya yang kuning hasil racikan santan dan rempah-rempah terasa hangat dan menggugah selera.
Di dalamnya berpadu soun, toge, tahu, oncom merah, serta sayur khas laksa yang ditata rapi di atas ketupat, menciptakan kombinasi rasa yang kaya dan mengenyangkan.
Aroma daun kemangi yang khas menambah daya pikat menu ini, membuat siapa pun yang mencicipi sulit melupakan rasanya.
Warung ini biasanya buka sejak pagi hingga sore, atau hingga dagangan habis. Tak jarang, sebelum jam tiga sore, panci besar kuah laksa sudah kosong karena ludes diburu pelanggan.
“Alhamdulillah, dari jualan ini saya bisa menghidupi keluarga,” ujar Pak Idrus, yang kini telah menjadi sosok panutan bagi para pelaku UMKM kuliner tradisional di Sukabumi.
Kehadiran Laksa Idrus menjadi simbol bahwa keaslian rasa dan konsistensi adalah kekuatan utama dalam mempertahankan bisnis kuliner.
Di tengah gempuran tren makanan cepat saji dan waralaba asing, Laksa Idrus tetap menunjukkan bahwa rasa yang jujur dan pelayanan yang hangat akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat.
Tak berlebihan jika kuliner ini dijuluki sebagai rasa yang mengikat lidah dan waktu, sebuah warisan cita rasa yang terus hidup di tengah denyut kota.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sukabumi, mencicipi Laksa Idrus bukan hanya soal mengisi perut, tapi juga merayakan tradisi dan mencicipi sejarah yang diolah dengan sepenuh hati.

Posting Komentar untuk "Laksa Idrus"