OPINI: UANG RAKYAT



Ada yang seharusnya diketahui oleh kita sebagai rakyat. Namun jarang sekali hal ini dibicarakan, bahkan diwacanakan pun akan menjadi hal yang tabu, dibuatlah kesan menakutkan, mengerikan, ketika memberitakan dan memberitahukan tentang ini tingkat kesadaran kita sebagai rakyat seolah ada di tengah-tengah. Sama halnya dengan sebuah mitos, percaya atau tidak. Padahal faktanya adalah demikian. Seolah ada hal-hal yang menuntut Negara untuk menutupinya.

Salah satunya tentu saja tentang uang Negara. Kita sering menonton iklan pajak di televisi. Dibumbui dengan kalimat sederhana namun penekanannya cukup kuat:Orang Bijak Taat Pajak. Jika diperjelas dengan menyentuh ranah substansi, lantas diajukan satu pertanyaan awal dan begitu sederhana, kenapa Negara memungut pajak dari rakyatnya? Maka jawaban sederhana pun akan mengalir dengan jelas, ini bukan masalah hak dan kewajiban semata, masalah hak dan kewajiban sudah masuk ke dalam ranah awang-uwung. Negara memungut pajak dari rakyat karena pada hakikatnya Negara memang tidak memiliki uang. Rakyatlah sebagai pememilik uang.


Negara hanya memiliki kekuasaan. Maka ketika kekuasaan tidak didukung oleh finansial dari rakyat, yang akan terjadi adalah kebangkrutan sebuah Negara. Solusi Negara bangkrut adalah dengan meminjam uang kesana-sini, menunggu kebaikan hati Negara pendonor. Hal lainnya, dengan menjual aset-aset Negara kepada Negara lain. Nah, seperti itulah ketika sebuah Negara telah jatuh ke dalam jurang kebangkrutan.

Maka, dengan kekuasaannya, Negara memiliki paksaan mengikat namun tidak terlihat, untuk meminta uang dari rakyatnya. Ini adalah sebuah hukum jernih sebenarnya, bangkrut dan majunya sebuah Negara ditentukan oleh rakyatnya , bukan oleh siapa-siapa. Hanya pada tahap ketidak sadaran, memanfaatkan ketidak tahuan rakyat, uang Negara yang berasal dari rakyat tersebut toh secara halus dianggap sebagai uang Negara, digunakan oleh pegawai Negara. Lebih celaka lagi, uang Negara dari rakyat tersebut disulap agar masuk ke dalam rekening-rekening pribadi.

Kondisi di atas, ketika uang Negara dari rakyat telah masuk ke dalam rekening-rekening pribadi, masuk ke dalam brankas-brankas pribadi, ini menjadi penyebab semakin parahnya kebangkrutan sebuah Negara. Rumus sederhana dalam matematika, 7-9 sudah pasti minus 2. Jika Negara mendapatkan uang dari rakyat sebanyak 7 lantas 7 digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas-fasilitas umum, lantas nilai 2 masuk ke dalam rekening-rekening pribadi, sudah bisa ditaksir Negara akan minus 2.

Masih belum cukup, penyebab lain kebangkrutan sebuah Negara, dalam pandangan John Maynard Keynes adalah ketika konsumsi pemerintah lebih banyak daripada apa yang harus dinikmati oleh rakyat, maka akan muncul nilai-nilai deficit, Negara akan serba kekurangan. Ada fakta sejarah tentang ini, Marie Antoinette, sebelum revolusi Prancis, mengkonsumsi secara berlebihan uang kerajaan yang dipungut dari rakyat, Prancis bangkrut, lantas revolusi mudah disulut. Buah yang diraih dari revolusi apa pun adalah kerugian besar bagi rakyat sebuah Negara.

Ketidak percayaan rakyat akan meluas jika mereka telah sadar bahwa Negara sama sekali tidak memiliki uang, Negara hanya memiliki kekuasaan, dan ketika uang dari rakyat disalah gunakan oleh para pemilik kekuasaan untuk mempertebal kantong-kantong pribadi, ada semacam keinginan untuk menghentikan pemberian kepada Negara. Tapi, rakyat di Negara ini memang merupakan kumpulan orang-orang bijak, semangat antipati untuk tidak memberikan uang kepada Negara pun sama sekali tidak mereka lakukan. Sebab rakyat bijak sadar, hancur dan bangkrutnya sebuah Negara disebabkan oleh minimnya anggaran yang dimiliki oleh Negara, uang rakyat tentu saja. Jika kebijaksanaan rakyat seperti ini masih tidak berbanding lurus dengan kebijakan-kebijakan pemilik kekuasaan dalam hal ini pemerintah, maka… kerugian terbesar akan ditanggung oleh Negara. Negara akan jatuh ke dalam kebangkrutan. Benih-benih revolusi mudah tumbuh dalam lahan seperti ini. Arahnya jelas, menuntut perbaikan, namun realisasinya begitu samar.

KANG WARSA

Posting Komentar untuk "OPINI: UANG RAKYAT"