Kata-Kata

Plato mendirikan academia, pusat orang-orang bijak dan yang belajar menjadi bijak berdiskusi. Megikuti jejak gurunya, Socrates, Plato memperbanyak percakapan antara dirinya dengan orang-orang yang ada di dalam academia. Percakapan bukan sebatas pada masalah remeh-temeh, tidak mendasar, dan hanya menghasilkan sarkastik ucapan. Plato dan para muridnya lebih banyak menyoal permasalahan substantive dalam kehidupan.

Ucapan dan kata-kata, saat ini sudah jauh lebih maju dari jaman Yunani, Arab, bahkan Nusantara Kuno. Kemajuan itu terlihat dari semakin banyaknya Bahasa baik verbal maupun tulisan dalam bentuk kata-kata yang dilahirkan oleh peradaban modern. Milyaran kata tertulis hanya dalam beberapa menit dalam media-media sosial – meskipun – kata yang digunakan terbatas pada kata yang sama, namun jumlah kata yang ditulis oleh manusia dalam beberapa menit ini menjadi jawaban: kata-kata saat ini lebih mudah keluar dari era sebelumnya.

Manusia, di era sebelum kemajuan teknologi dan informasi sering melakukan dialog baik vertical atau horizontal, terbatas pada ruang dan waktu yang sempit. Seorang pemuda desa hanya berdialog dengan pemuda desa di kampungnya saja, itu juga ditentukan oleh waktu. Tahun 1940-1990an, waktu berbincang-bincang yang baik bisaanya dilakukan oleh orang-orang pada pagi hari atau sore menjelang matahari terbenam. Jarang sekali monolog dikeluarkan atau diucapkan oleh orang-orang. Monolog yang keluar dari mulut seseorang bisa disalah artikan sebagai bentuk kekesalan, dalam Bahasa Sunda disebut ngarasula.

Setelah berbagai media sosial lahir, kata-kata semakin deras. Monolog-monolog dalam berbagai status di media sosial sudah menjadi rahasia bersama. Dengan sangat mudah, orang menelanjangi diri sendiri dengan menulis status, apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dialami. Apa yang sedang dipikirkan seharunya berupa status-status yang benar-benar telah matang dipikirkan dampak dan akibat dari penulisan status itu. Memikirkan, apa dampak dari menelanjangi diri sendiri hingga diketahui umum.

Kata dan ucap yang keluar di era ini tidak lagi dihasilkan dari proses kontemplatif dan meditative. Kata dan ucap lebih menjurus kepada nilai pragmatis. Apa yang ada dalam pikiran entah benar atau salah langsung dikeluarkan dan dituliskan. Pada sisi lain,memang untuk menuliskan status di dalam media sosial kita tidak perlu banyak berpikir berat, sebab facebook, twitter, dan medsos lainnya bukan persoalan pelik, tinggal digunakan saja. Media sosial bukan ujian atau ulangan, tanpa harus berpikir panjang pun tidak menjadi soal sebuah status langsung ditulis. Padahal ini akan memiliki dampak di kemudian.

Manusia sudah diliputi oleh watak "murah bacot".  Begitu berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh leluhur kita. Di wilayah Sunda, leluhur atau karuhun  tidak banyak mengobral kata, mereka lebih banyak berpikir mandalam dan menyibukkan diri dalam ruang-ruang kontemplatif, hal ini menjadi alasan apa yang diucapkan oleh karuhun Sunda memiliki kemujaraban atau "matih". Mereka akan mengucapkan kata yang dianggap bermanfaat, jika tidak? Mereka akan lebih banyak memegang kening sambil berpikir mendalam.

Dalam tulisan ini pun, Saya telah menggunakan hampir 500 kata. Sebetulnya itu-itu juga, banyak pengulangan, ini yang menjadi penyebab kata dan ucap yang kita keluarkan selalu mandul tidak memiliki kemujaraban atau kematihan. Dari Negara Arab ada kalimat: falyaqul khairon auw liyashmut, berkatalah yang baik, jika tidak bisa maka diamlah. Diam adalah keheningan, bukan kekalahan melainkan satu kondisi untuk menunjukkan kedewasaan manusia. Sebab usia kita tidak  kanak-kanak lagi. [ ]

Kang Warsa

Posting Komentar untuk "Kata-Kata"