
Malam tadi Saya berpikir keras, mencoba mengkoneksikan alam pikiran dengan alam semesta. Tidak berujung, kerapatan massa di alam ini begitu menakjubkan sampai tidak terukur. Para penganut positivisme memiliki alasan, hal-hal yang harus dipikirkan haruslah hal-hal positif, terukur, dan bisa dihitung. Hanya saja, telaah baru terhadap konsep theo-fisika semakin menegaskan betapa rapat dan pepatnya materi di alam semesta ini.
Memikirkan hal seperti ini merupakan babak baru bagi kehidupan manusia dalam menguak tabir ke-Maha Kuasaan Alloh. Konsep dalam setiap agama dan keyakinan memiliki pandangan sama, Tuhan tidak berawal, tidak memiliki titik nol, sejak kapan Tuhan ada? Berapa tahun lalu Tuhan lahir? Sama sekali tidak terjangkau oleh akal pikiran, sebab Tuhan tidak menempati ruang dan waktu, bukan materi.
Artinya, dengan menafakuri keagungan-Nya ini bisa ditarik sebuah simpulan besar; kehidupan kita sebagai manusia di alam semesta ini hanya secuil dari kehidupan triliunan, ratusan triliun, bahkan entah berapa juta dan milyar triliun tahun lalu. Sama sekali tidak terbatas dan terjangkau. Keangkuhan manusia adalah saat mereka merasa paling benar dengan keyakinan yang dianutnya. Bukan lagi mengagungkan Kemaha kuasaan Alloh, manusia malah saling berjibaku dalam menasbihkan dan menyucikan keyakinan masing-masing.
Manusia merasa paling benar dengan apa yang mereka yakini sebagai jalan Tuhan, tanpa mau berpikir keras terhadap hakikat eksistensi diri dan semesta ini. Manusia tersangkut di peradaban sekarang, artinya mereka lebih banyak mengingkari terhadap keagungan Tuhan dengan mengedepankan sikap antrophosentrisnya semata.
Jika dipikir lebih mendalam, keyakinan atau agama seharusnya (das sollen) bisa membawa manusia kepada kehidupan tenteram, damai, saling menghargai, merasa cukup, dan menemui kebahagiaan. Namun pada tataran 'das sein' justru sebaliknya, agama dan pengatasnamaan Tuhan dijadikan tameng juga senjata mematikan untuk menggapai alasan-alasan politis, penguasaan wilayah, perang dengan sesama, saling tikam, berdebat argumen dan dalil, mengumpat kehidupan dengan dalil berisi ancaman Tuhan yang dikutip dari Kitab Suci. Manusia merasa sangat yakin akan mendapat sorga dengan membunuh sesama yang dianggap 'berada di luar keyakinan'.
Tugas utama manusia adalah menjalankan aturan-aturan semesta yang telah diciptakan oleh Alloh. Aturan-aturan semesta sebagai kitab suci dan pedoman dalam hidup. Jika dipukul sakit, maka janganlah memukul orang lain. Saat dihina atau dipermalukan oleh orang lain kita merasa minder, maka jangan sekali-sekali kita melakukan penghinaan kepada orang lain. Manusia sering menuhankan 'kitab suci'nya lebih diagungkan dari Tuhan. Padahal keberadaan kitab suci tidak lepas dari proses 'sababiyyah', segala hal yang lahir karena disebabkan oleh hal lain merupakan mahluk, memiliki sifat fana.
Kitab suci tidak diposisikan sebagai petunjuk jalan suci, namun telah ditafsirkan sebagai pedoman untuk meraih segala kehendak dan keinginan. Tidak lagi dijadikan pedoman berlaku suci, namun lebih dijadikan buku saku dengan berbagai argumen agar setiap tujuan menjadi halal. Bahkan, disalah gunakan untuk saling bertikai. Kitab suci-kitab suci diperdebatkan, diperbandingkan keorisinilannya, untuk apa? Agar penganut agama merasa bangga jika kitab-nya lah yang terbaik dan terjaga? Fahamilah, innaa nahnu nazzalnadz-dzikro, adalah 'hukum semesta', sunnatulloh yang terjaga. Pengingat yang ada dalam diri manusia sendiri. Sebab Tuhan tidak perlu meyakinkan kepada manusia jika kitab suci atau wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi akan tetap terjaga. Pantaskah Tuhan meyakinkan kepada manusia bahwa diri-Nya sebagai Tuhan? Manusialah yang harus meyakinkan hal itu, bukan malah memosisikan Tuhan sebagai hal yang ingin diyakini oleh manusia.
Posting Komentar untuk "Luas Semesta"