Hari kemarin, terjadi dua peristiwa yang, meskipun tidak besar, memiliki makna yang cukup berarti untuk diceritakan kembali. Sayangnya, saya tidak sempat mengambil dokumentasi visual, sehingga satu-satunya cara untuk mengabadikannya adalah melalui tulisan ini. Harapannya, orang lain dapat mengambil manfaat dari cerita ini, atau setidaknya tersenyum kala membacanya.
Peristiwa pertama adalah unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukabumi di depan Balai Kota Sukabumi. Saya tidak akan membahas panjang lebar perihal aksi ini.
Namun, perlu dicatat bahwa mahasiswa era kini memiliki sensitivitas tinggi terhadap kebijakan publik. Mereka cepat bereaksi terhadap dinamika yang muncul, khususnya jika kebijakan pemerintah dinilai menimbulkan kegaduhan atau “noise” di masyarakat.
Aksi mahasiswa seringkali dianggap sebagai cerminan suara rakyat. Mereka berteriak, mengangkat spanduk, dan menyuarakan aspirasi, mengklaim bahwa mereka bertindak mewakili masyarakat. Terlepas dari perdebatan mengenai representasi ini, keberanian mereka tetap patut diapresiasi.
Namun, perhatian utama dalam tulisan ini akan difokuskan pada peristiwa kedua. Peristiwa yang lebih kecil dalam skala, namun tidak kalah dramatis—yakni kejadian tikus masuk ke ruangan Dokumentasi Pimpinan.
Saat itu saya sedang asyik mengetik di meja kerja. Tiba-tiba, saya melihat sosok kecil berwarna gelap bergerak cepat di bawah meja. Awalnya saya mengira itu hanyalah bayangan kaki rekan kerja. Tapi setelah saya amati lebih saksama, ternyata seekor tikus berukuran cukup besar sedang mondar-mandir dengan lincah.
Refleks, saya berseru kaget, bukan karena ketakutan, melainkan terkejut melihat ukuran tikus yang tidak biasa. Tikus itu lebih besar dari tikus sawah yang sering saya lihat di kebun atau saluran air.
Ibu Esti, yang mendengar teriakan saya, segera bertanya dengan nada penasaran. Setelah saya jelaskan bahwa ada tikus di ruangan, beliau langsung berpindah duduk karena mendengar bahwa tikus tersebut bergerak ke arah bawah meja kerjanya.
Saya mencoba mengusir tikus dengan gerakan tangan, berharap binatang itu pergi begitu saja. Namun, tikus tersebut seolah tidak gentar. Ia justru bersembunyi di balik pintu, seolah menantang saya untuk berduel. Dalam hati, saya membayangkan tikus itu berkata: “Manusia, mari bertarung secara adil!”
Kebisingan pun bertambah ketika Bu Ochi masuk ke ruangan. Kami segera memperingatkannya bahwa ada tikus. Namun, beliau malah lebih terkejut karena mengira kami berkata “ular”, bukan tikus.
Situasi menjadi semakin kacau. Tiga orang dewasa dan satu ekor tikus berada dalam satu ruangan sempit. Saya mencoba mengambil raket bulutangkis yang tersimpan, berharap alat itu bisa membantu menghalau si tikus. Aneh memang, raket yang seharusnya digunakan untuk bulutangkis kini dijadikan alat pengusir binatang pengerat.
Kami berharap akan ada pahlawan yang datang menyelamatkan kami dari kekacauan ini. Harapan itu sempat tertuju pada Mang Qori, namun ternyata belum muncul juga. Lalu muncullah Iki dari Bagian Kesra. Ia menawarkan bantuan, namun ketika melihat ukuran tikus, ia justru mundur dan menjerit keluar ruangan.
Keadaan menjadi semakin dramatis ketika Mang Husen tiba dengan ekspresi serius, membawa sapu dan beberapa lembar koran. “Ini, pegang korannya, Mang!” ujarnya dengan tegas kepada saya. Saya sempat kebingungan, apakah saya diminta mengusir tikus dengan koran?
Secara simbolis, penggunaan koran sebagai alat pengusir tikus terasa ironis. Mengingat bahwa di dunia jurnalistik, tikus kerap menjadi metafora bagi koruptor atau perusak bangsa.
Mang Husen, tanpa gentar, mulai menghalau tikus tersebut. Tikus itu berlari ke sana kemari, kadang menabrak kaki meja, kadang berputar arah dengan panik. Sementara itu, kami semua menahan tawa dan kekhawatiran bersamaan.
Dengan sapu di tangan, Mang Husen mencoba memukul arah gerakan tikus, namun binatang itu tetap lincah. Adegan kejar-kejaran antara manusia dan tikus itu lebih menyerupai komedi situasi ketimbang penanganan darurat.
Saya membuka pintu ruangan, berharap tikus keluar dengan sendirinya. Kami semua membuat celah, menciptakan jalur agar tikus merasa jalan keluarnya jelas.
Akhirnya, setelah cukup lama aksi pengejaran berlangsung, tikus itu berlari menuju pintu dan kabur keluar ruangan. Apakah dia diusir? Atau ia sendiri yang bosan bermain di dalam? Tidak ada yang tahu pasti.
Namun yang jelas, setelah keluar, ruangan kembali tenang. Kami semua menarik napas lega. Mang Husen menjadi pahlawan hari itu, meskipun kemenangan ini mungkin lebih karena keberuntungan dan insting bertahan hidup si tikus.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di kantor, bukan hanya dokumen, liputan, rilis berita, dan agenda penting yang bisa menjadi sorotan. Kadang, hal-hal kecil seperti insiden tikus pun layak menjadi catatan sejarah.
Lebih jauh lagi, kisah ini mengajarkan pentingnya kerja sama, spontanitas, dan keberanian dalam menghadapi hal-hal tak terduga di lingkungan kerja.
Dalam organisasi sekecil apa pun, peran individu tetap penting. Terkadang, pahlawan tidak datang dengan seragam atau jubah kebesaran, melainkan dengan sapu dan koran di tangan.
Dokumentasi Pimpinan, kini punya satu cerita yang bisa dikenang bersama: hari ketika seekor tikus membuat ruangan heboh, dan seorang Mang Husen menjadi pahlawan.
Jika satu tikus saja bisa mengubah suasana ruangan, bagaimana dengan satu ide atau semangat kecil yang muncul dalam rapat besar? Hal kecil bisa berdampak besar jika dihadapi bersama.
Begitulah kisah hari itu ditutup. Sebuah hari yang dimulai dengan ketikan naskah, dan diakhiri dengan drama tikus keluar ruangan. Sederhana, namun tak terlupakan.
Dan di balik semua itu, saya tetap percaya bahwa setiap ruang kerja menyimpan cerita. Bukan hanya tentang program dan dokumen, tetapi juga tentang manusia dan tikus.
Peristiwa pertama adalah unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukabumi di depan Balai Kota Sukabumi. Saya tidak akan membahas panjang lebar perihal aksi ini.
Namun, perlu dicatat bahwa mahasiswa era kini memiliki sensitivitas tinggi terhadap kebijakan publik. Mereka cepat bereaksi terhadap dinamika yang muncul, khususnya jika kebijakan pemerintah dinilai menimbulkan kegaduhan atau “noise” di masyarakat.
Aksi mahasiswa seringkali dianggap sebagai cerminan suara rakyat. Mereka berteriak, mengangkat spanduk, dan menyuarakan aspirasi, mengklaim bahwa mereka bertindak mewakili masyarakat. Terlepas dari perdebatan mengenai representasi ini, keberanian mereka tetap patut diapresiasi.
Namun, perhatian utama dalam tulisan ini akan difokuskan pada peristiwa kedua. Peristiwa yang lebih kecil dalam skala, namun tidak kalah dramatis—yakni kejadian tikus masuk ke ruangan Dokumentasi Pimpinan.
Saat itu saya sedang asyik mengetik di meja kerja. Tiba-tiba, saya melihat sosok kecil berwarna gelap bergerak cepat di bawah meja. Awalnya saya mengira itu hanyalah bayangan kaki rekan kerja. Tapi setelah saya amati lebih saksama, ternyata seekor tikus berukuran cukup besar sedang mondar-mandir dengan lincah.
Refleks, saya berseru kaget, bukan karena ketakutan, melainkan terkejut melihat ukuran tikus yang tidak biasa. Tikus itu lebih besar dari tikus sawah yang sering saya lihat di kebun atau saluran air.
Ibu Esti, yang mendengar teriakan saya, segera bertanya dengan nada penasaran. Setelah saya jelaskan bahwa ada tikus di ruangan, beliau langsung berpindah duduk karena mendengar bahwa tikus tersebut bergerak ke arah bawah meja kerjanya.
Saya mencoba mengusir tikus dengan gerakan tangan, berharap binatang itu pergi begitu saja. Namun, tikus tersebut seolah tidak gentar. Ia justru bersembunyi di balik pintu, seolah menantang saya untuk berduel. Dalam hati, saya membayangkan tikus itu berkata: “Manusia, mari bertarung secara adil!”
Kebisingan pun bertambah ketika Bu Ochi masuk ke ruangan. Kami segera memperingatkannya bahwa ada tikus. Namun, beliau malah lebih terkejut karena mengira kami berkata “ular”, bukan tikus.
Situasi menjadi semakin kacau. Tiga orang dewasa dan satu ekor tikus berada dalam satu ruangan sempit. Saya mencoba mengambil raket bulutangkis yang tersimpan, berharap alat itu bisa membantu menghalau si tikus. Aneh memang, raket yang seharusnya digunakan untuk bulutangkis kini dijadikan alat pengusir binatang pengerat.
Kami berharap akan ada pahlawan yang datang menyelamatkan kami dari kekacauan ini. Harapan itu sempat tertuju pada Mang Qori, namun ternyata belum muncul juga. Lalu muncullah Iki dari Bagian Kesra. Ia menawarkan bantuan, namun ketika melihat ukuran tikus, ia justru mundur dan menjerit keluar ruangan.
Keadaan menjadi semakin dramatis ketika Mang Husen tiba dengan ekspresi serius, membawa sapu dan beberapa lembar koran. “Ini, pegang korannya, Mang!” ujarnya dengan tegas kepada saya. Saya sempat kebingungan, apakah saya diminta mengusir tikus dengan koran?
Secara simbolis, penggunaan koran sebagai alat pengusir tikus terasa ironis. Mengingat bahwa di dunia jurnalistik, tikus kerap menjadi metafora bagi koruptor atau perusak bangsa.
Mang Husen, tanpa gentar, mulai menghalau tikus tersebut. Tikus itu berlari ke sana kemari, kadang menabrak kaki meja, kadang berputar arah dengan panik. Sementara itu, kami semua menahan tawa dan kekhawatiran bersamaan.
Dengan sapu di tangan, Mang Husen mencoba memukul arah gerakan tikus, namun binatang itu tetap lincah. Adegan kejar-kejaran antara manusia dan tikus itu lebih menyerupai komedi situasi ketimbang penanganan darurat.
Saya membuka pintu ruangan, berharap tikus keluar dengan sendirinya. Kami semua membuat celah, menciptakan jalur agar tikus merasa jalan keluarnya jelas.
Akhirnya, setelah cukup lama aksi pengejaran berlangsung, tikus itu berlari menuju pintu dan kabur keluar ruangan. Apakah dia diusir? Atau ia sendiri yang bosan bermain di dalam? Tidak ada yang tahu pasti.
Namun yang jelas, setelah keluar, ruangan kembali tenang. Kami semua menarik napas lega. Mang Husen menjadi pahlawan hari itu, meskipun kemenangan ini mungkin lebih karena keberuntungan dan insting bertahan hidup si tikus.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di kantor, bukan hanya dokumen, liputan, rilis berita, dan agenda penting yang bisa menjadi sorotan. Kadang, hal-hal kecil seperti insiden tikus pun layak menjadi catatan sejarah.
Lebih jauh lagi, kisah ini mengajarkan pentingnya kerja sama, spontanitas, dan keberanian dalam menghadapi hal-hal tak terduga di lingkungan kerja.
Dalam organisasi sekecil apa pun, peran individu tetap penting. Terkadang, pahlawan tidak datang dengan seragam atau jubah kebesaran, melainkan dengan sapu dan koran di tangan.
Dokumentasi Pimpinan, kini punya satu cerita yang bisa dikenang bersama: hari ketika seekor tikus membuat ruangan heboh, dan seorang Mang Husen menjadi pahlawan.
Jika satu tikus saja bisa mengubah suasana ruangan, bagaimana dengan satu ide atau semangat kecil yang muncul dalam rapat besar? Hal kecil bisa berdampak besar jika dihadapi bersama.
Begitulah kisah hari itu ditutup. Sebuah hari yang dimulai dengan ketikan naskah, dan diakhiri dengan drama tikus keluar ruangan. Sederhana, namun tak terlupakan.
Dan di balik semua itu, saya tetap percaya bahwa setiap ruang kerja menyimpan cerita. Bukan hanya tentang program dan dokumen, tetapi juga tentang manusia dan tikus.

Posting Komentar untuk "Mang Husen Berhasil Mengusir Tikus"