Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 1)



Ia terlahir sebagai Cora, seorang bayi perempuan yang dilahirkan di Olympus pada bulan Anthestēriōn, masa ketika bunga-bunga mulai mekar bersemi. Kulitnya bersinar, dihiasi rambut ikalnya yang menawan. Para dewa-dewi terpikat oleh paras cantiknya. Mereka bahkan meramalkan bahwa saat dewasa nanti, Cora akan menjelma menjadi perempuan yang mampu memikat hati siapa saja, termasuk makhluk-makhluk yang disekap di lembah Tartarus. Sejak bayi ia diasuh oleh Demeter dan diawasi oleh para dewa. Aphrodite bahkan mengusapkan telapak tangannya ke wajah Cora, mewariskan kecantikan abadi kepada bayi mungil tersebut.

Masa kanak-kanak Cora berlalu dengan penuh keceriaan. Ia lebih sering duduk di taman, memandangi bunga dan mengejar kupu-kupu. Ia juga diurapi pengetahuan oleh Prometheus, makhluk ajaib yang mengetahui segala hal. Bekal ini menjadi dasar penting bagi pemahaman Cora tentang alam semesta. Saat tumbuh dewasa, ia menjadi gadis cantik yang cerdas namun tetap rendah hati. Kerendahhatian itu tidak hanya membentuk moralitasnya, tetapi juga menjadikannya buah bibir di alam kahyangan.

Namun sayang, ia luput dari perhatian ayahnya, Zeus. Cora yang menawan sama sekali tidak pernah tersentuh oleh tangan kekar sang ayah. Kemungkinan terbesarnya, Zeus adalah sosok otoriter yang gengsi menggendong darah dagingnya sendiri; ia malu jika dewa-dewi lain menganggapnya pilih kasih terhadap anak dari salah satu istrinya. Sebagai ayah dengan otoritas mutlak, Zeus memilih keputusannya sendiri untuk memantau dari jauh. Ia pun lebih sering memanfaatkan orang-orang terdekat demi kepentingan politiknya, sebuah kebiasaan yang terus berlanjut setelah ia berhasil menaklukkan Kronos.

“Ibu, aku sudah tumbuh dewasa. Jangan panggil aku Cora lagi, panggillah aku Persephone!” pinta Cora suatu hari kepada ibunya, Demeter.

Sejak saat itu, orang-orang terdekat mulai memanggilnya Persephone. Nama baru itu sangat pas disandangnya; ibarat musim semi yang semakin merekah, pesonanya mengagumkan siapa saja. Namun, tak satu pun lelaki berani mendekatinya, sebab mereka sadar bahwa ia adalah putri kandung dari penguasa tertinggi Olympus. Hanya satu yang berani mendekati Persephone: Hades, saudara Zeus yang berasal dari Tartarus.

Di kahyangan, Hades dikenal sebagai sosok jahat dari dunia bawah, bahkan makhluk di Bumi mengenalnya sebagai dewa kegelapan yang lekat dengan angkara murka. Namun, cintanya kepada Persephone menyulap Hades menjadi pria yang paling setia jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ia memperlakukan Persephone layaknya bunga rapuh yang harus dijaga agar tak terjatuh. Ia pun berhasil mempersunting dan membawanya ke Tartarus. Hades yang biasanya sedingin es dan jarang tersenyum, berubah menjadi suami yang ramah, hangat, dan selalu menuruti kemauan sang istri. Semua itu bukan karena takut, melainkan murni karena rasa sayangnya yang dalam kepada Persephone.

Legenda tentang kebaikan hati Persephone tersebar ke berbagai penjuru. Dunia bagian Timur pun mendengar kisah ini, meski lambat laun dipandang lalu dan jarang dibicarakan lagi. Di dunia Timur, tepat di atas Gunung Gede, di alam kahyangan yang kerap menampakkan diri di Bumi dalam wujud pelangi atau katumbiri, Batara Guru menuturkan titahnya; membangun istana langit dan memutus hubungan dengan manusia. Perintah itu disambut antusias oleh seluruh makhluk. Hanya Anta, sang ular, yang tampak bersedih.

“Aku tidak memiliki kaki dan tangan, bagaimana mungkin aku bisa membantumu membangun istana?” keluh Anta saat ditanya oleh Narada mengenai kemurungannya.

Narada tersenyum lembut dan memberikan nasihat, “Anta, pengorbanan itu tidak selalu berwujud tenaga fisik. Sumbangsih itu tidak terbatas. Jangan jadikan ketiadaan kaki dan tangan sebagai alasan kelemahanmu. Kamu memiliki kemampuan mengubah air matamu menjadi telur yang bisa dipersembahkan kepada Batara Guru. Sekecil apa pun pengorbananmu, hal itu tetap akan bernilai di matanya. Pengorbanan bukan ajang perbandingan di mana yang memberi banyak akan dipuji, sementara yang perannya kecil tidak layak mendapatkan apa-apa. Tidak seperti itu.”

Mendengar nasihat Narada, Anta menitikkan air mata yang seketika berubah menjadi tiga butir telur bercahaya. Ia yakin, Batara Guru akan bahagia menerima telur-telur tersebut, yang kelak akan menetas menjadi makhluk-makhluk terbaik penyumbang sumbangsih dalam pembangunan istana langit. Narada menyarankan agar telur-telur itu segera diserahkan.

Sayangnya, keberadaan telur bercahaya yang mencolok itu mengundang perhatian seekor burung gagak raksasa. Tiba-tiba, gagak itu menyambar dari atas untuk merebutnya. Kaget mendapat serangan mendadak, dua butir telur terlepas dari mulut Anta dan jatuh ke permukaan Bumi. Beruntung, Anta berhasil menghindari serangan lanjutan dan lolos membawa satu butir telur yang tersisa untuk diserahkan kepada Batara Guru.

Batara Guru sangat bahagia menerima persembahan berupa sebutir telur bercahaya dari Anta. Tak lama, telur itu menetas dan muncullah sosok bayi perempuan mungil. Dengan wajah berseri-seri, Batara Guru mengangkat tinggi-tinggi bayi tersebut.

“Aku beri nama bayi ini Nyai Pohaci Sanghyang Asri. Kelak, bayi mungil ini akan tumbuh menjadi perempuan mulia berhati suci, yang senantiasa melimpahkan kasih sayang kepada siapa pun!” seru Batara Guru.

(Bersambung)

Posting Komentar untuk "Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 1)"