
Jauh sebelum masa Pararaton, Tatar Pasundan masih berupa hamparan rawa berhias kabut yang selalu muncul setiap hari. Udara sejuk mendekap daratan dari fajar hingga fajar kembali. Beraneka ragam satwa hidup harmonis, menjadi penanda struktur kosmik yang teratur.
Di buana panca-tengah inilah, sebuah babak baru dimulai. Ismaya, dewa berparas rupawan, sengaja menanggalkan keagungannya dan turun dari alam kahyangan. Ia jatuh di Tatar Pasundan bagian tengah, tepat di lereng Gunung Gede.
Wujudnya tak lagi sempurna; ia menjelma menjadi sosok manusia berwajah pucat, bertubuh gelap, dan berperut buncit yang kelak dikenal sebagai Semar. Di kesunyian lereng gunung itu, jauh dari segelintir manusia yang mulai menghuni bumi, Ismaya membangun sebuah gubuk sederhana.
Ia turun ke dunia fana bukan karena kutukan Yang Maha Kuasa atas perbuatan tercela. Alasannya jauh lebih membum,: kahyangan telah menjadi tempat yang terlalu ideal dan hampa tanpa kehadiran Ragen, cinta sejatinya.
Dulu, Ragen membersamainya di kahyangan sebelum ditarik paksa ke dalam pusaran karmapala. Bencana itu bermula ketika Ragen tak sengaja bercerita kepada Dewi Pohaci bahwa Batara Guru terpikat oleh kecantikan anak angkatnya sendiri. Kisah ini memicu keresahan para dewa-dewi atas aturan kosmik yang terancam dilanggar oleh penguasa kahyangan.
Desas-desus itu menyebar liar. Celakanya, Ragen dituding sebagai dalang penyebar fitnah tersebut. Tanpa sepengetahuan Ismaya, balatentara Batara Guru menyeret Ragen dan membuangnya secara paksa ke buana panca-tengah.
Kejatuhan perempuan itulah yang memaksa Ismaya menyusul, mewujud menjadi Semar di marcapada. Ia menukar keabadiannya dengan kerentanan absolut; kulitnya yang dulu immortal kini melepuh tersengat panasnya api, dan tubuhnya menggigil hebat saat disiram air pagi.
Menjadi manusia berarti tunduk pada hukum semesta yang fana. Di kahyangan, Ismaya tak butuh makan untuk bertahan. Kini, di alam marcapada, ia adalah makhluk pekerja yang terikat pada siklus lapar dan lelah.
Ia harus menguras keringat hanya untuk menyuap makanan, sebuah keseimbangan mutlak layaknya pergantian siang dan malam. Semar menyadari hal ini sejak awal; ia tahu risiko terburuk menjadi makhluk fana adalah terjebak dalam rutinitas bertahan hidup yang monoton.
Bagi nalar manusia biasa, melepaskan nikmat kahyangan demi cinta yang tak abadi adalah sebuah kebodohan. Mengapa menukar surga dengan dunia yang diikat siksaan sebab-akibat?
Namun, bagi Semar, hidup di mana pun, bahkan di buana larangan sekalipun, adalah kehendak Yang Maha Kuasa yang harus diterima secara utuh. Lagipula, keputusannya turun ke bumi bukan murni ego semata, melainkan tuntunan bisikan halus.
Jika ia bersikeras bertahan di kahyangan, angkara murka terhadap Batara Guru perlahan akan menguasai jiwanya. Kahyangan memang sekadar lapisan terbawah dari buana nyungcung; di alam suci itu, jiwa yang telah moksa pun masih rentan mengalami degradasi, kembali terlempar ke Bumi atau ditarik sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Selama puluhan tahun sejak kakinya menjejak bumi, Semar tak lelah berkelana mencari jejak Ragen. Ia menyusuri setiap jengkal Tatar Pasundan, namun waktu perlahan mengikis harapannya. Dalam sunyi ia kerap bergumam getir, "Jikapun aku berhasil menemukan perempuan yang dititiskan roh Ragen, mungkinkah ia masih mengenali jiwa ini di balik wujudku yang buruk rupa?"
Larut dalam kelelahan dan pencarian tanpa ujung, Semar akhirnya berdamai dengan takdir. Ia kembali ke titik awal kejatuhannya di kaki Gunung Gede. Memilih hidup sebatang kara dan menjauhi peradaban manusia, ia menghabiskan sisa usianya untuk merenung dan menafakuri buana panca-tengah, dunia fana yang kala itu perlahan memasuki masa keemasan di bawah pemerintahan Raja Is.
(Bersambung)
Posting Komentar untuk "Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 2) "