Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 3)




Matahari belum menampakkan diri, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang di lereng Gunung Gede. Dedaunan basah meneteskan embun satu per satu ke hamparan rumput pelataran. Kabut tebal masih setia menyelimuti bentang semesta, diiringi paduan suara satwa hutan yang menciptakan harmoni alam yang merdu. Di ufuk timur, cakrawala mulai menguning, sepintas menyerupai swastamita. Bedanya, pagi ini tak membawa kehangatan, melainkan hawa dingin yang menggigit.

Senyum tipis mulai tersungging di bibir Semar. Semalaman, lelaki paruh baya itu merenung, mendekatkan diri pada Yang Maha Agung. Meski sepi dan rindu akan sosok Ragen masih membekas, senyum pias itu menjadi pertanda baik. Sebuah petunjuk gaib, layaknya wahyu cakraningrat seolah menaunginya malam tadi. Tangan kanannya menepis pelan kuncung putih di kepalanya. Ia sempat cemberut sejenak, lalu kembali tersenyum simpul.

Ia beringsut, bersiap menuruni lereng gunung. Sadarlah ia bahwa sejak jatuh dari kahyangan, ia benar-benar sebatang kara. Jangankan berbaur, niat untuk sekadar mengenal manusia lain pun belum pernah terbersit. Ia lebih suka menyendiri. Namun, tubuh fananya kini menuntut kompromi. Di kahyangan ia bisa tidak makan berbulan-bulan, tetapi di buana panca-tengah, menahan lapar dua hari saja sudah membuat persendiannya lemas tak berdaya.

Seiring mentari yang mulai menyembul dari timur, Semar melangkah turun dengan ritme santai. Hamparan rumput yang diinjaknya sangat basah, seolah baru saja disiram air satu tempurung kelapa utuh. Pada zaman sebelum Pararaton, ada sebuah keyakinan bahwa embun pagi yang menyentuh telapak kaki mampu menghantarkan memori masa lalu yang diserap semalaman.

Orang-orang meyakini bahwa kondensasi bukan hanya mengubah uap menjadi air, melainkan sebuah proses mistis, pemindahan dan perekaman jejak semesta ke dalam bulir embun. Tak heran jika kelak, banyak orangtua yang sengaja menyentuhkan kaki bayi mereka ke rumput berembun agar jiwa sang anak terhubung dengan kebijaksanaan alam.

Langkah Semar terhenti. Ia terkekeh pelan melihat bayang-bayangnya sendiri di tanah; siluet kepalanya dengan jelas menonjolkan kuncung yang menggulung. Mengamati bayangan itu saksama, sang dewa fana akhirnya menyerah pada kodrat, hidup menyendiri bukanlah pilihan terbaik. Munajatnya semalam rupanya membawa pesan bahwa hari ini ia akan mendapat tiga anak angkat, bukan dari benih biologis, melainkan transformasi dari jiwanya sendiri.

Puluhan tahun berdialog dengan batin, mengobrol dengan embusan angin dan dedaunan bisu telah membuatnya jengah. "Bukan, aku bukan menghardik kalian," gumamnya pelan sambil menatap daun yang bergesekan. "Aku hanya memerlukan makhluk sejenisku..."

Kerinduan batin yang terus terhubung dengan Yang Maha Agung itu perlahan memadat. Di atas tanah, bayangan Semar tiba-tiba bergetar, terbelah menjadi tiga, dan perlahan bangkit membentuk tiga sosok asing yang naif. Rupa mereka sungguh di luar kelaziman manusia, selaras dengan wujud Semar yang juga tak biasa.

Dari belahan bayangan paling kanan, mewujudlah sosok konyol berwajah merah, berhidung pesek, dengan senyum lebar yang memamerkan giginya yang tinggal satu. Ia cengar-cengir sejak detik pertama tercipta. Sosok ini adalah manifestasi dari jiwa Semar yang terus memberontak; Semar memberinya nama Sastrajingga.

Dari bayangan tengah, bangkit sosok jangkung kurus dengan hidung luar biasa panjang. Pembawaannya tenang, berbeda jauh dari sosok di sebelahnya yang tak henti cengar-cengir. Ia adalah manifestasi dari nalar dan logika Semar yang dingin dalam menghadapi masalah. Semar menamainya Udawala.

Terakhir, dari bayangan sebelah kiri, muncul sosok bertubuh pepat, berhidung bulat, dengan tangan sedikit bengkok dan bibir yang mencibir sinis. Sosok ini merupakan wujud dari kelemahan dan kecacatan takdir Semar. Ia memberinya nama Nala Gareng.

"Kalian kuanggap anakku sendiri, meskipun kalian lahir tidak seperti manusia pada umumnya. Ayo, sini... sini!" panggil Semar melambaikan tangan.

Ketiga sosok itu menghampiri Semar bersamaan. Mengamati bapak angkatnya, Sastrajingga langsung berulah. Tangannya yang jahil mengusap perut buncit Semar, lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya sendiri. Belum puas, ia menoleh pada Udawala. Tawanya makin pecah melihat hidung saudaranya yang sangat panjang. Sastrajingga mengelus-elus hidung Udawala, lalu mengukur hidungnya sendiri, seolah membandingkan keadilan semesta. "Hihihihi...!" tunjuknya geli ke wajah Udawala.

Udawala tetap bersikap tenang. Saat hidungnya diusap-usap, ia hanya membenarkan letak penutup kepalanya dengan elegan, enggan merespons kelakuan kurang ajar Sastrajingga. Sebaliknya, Nala Gareng yang terus cemberut makin menunjukkan ketidaksukaannya melihat tingkah dua saudaranya itu. Dengan tangannya yang bengkok, Gareng menoyor kepala Sastrajingga dan Udawala sekaligus. Tentu saja, Sastrajingga tak terima dan membalas dengan menoyor Gareng lebih keras.

"Heuppp! Sudah, sudah! Hahahahaha!" Semar terbahak lepas. Sejak turun dari kahyangan, barulah kali ini ia bisa tertawa selebar itu, menertawakan kepingan jiwanya sendiri yang bertingkah konyol. "Kalian ini anak-anakku... Oh, iya, belum bisa bicara ya? Hahaha!"

Semar memejamkan mata, memanjatkan munajat singkat agar ketiga makhluk ini dikaruniai kemampuan bertutur kata sepertinya. "Nah, ayo bicara!" titah Semar kepada Sastrajingga.

"Monyeeeett!!!" seru Sastrajingga lantang sambil menunjuk seekor kera yang sedang bergelantungan di dahan pohon.

Semar sontak meledak dalam tawa. Keheningan pagi itu seketika pecah. Ketiga sosok itu silih berganti saling bersahut dengan suara riuh. Ada yang sesekali melolong mirip serigala, bersorak, bersiul, sementara Nala Gareng dengan suara paraunya terus saja membentak-bentak tak karuan. Dengan hati yang kini terasa lapang, Semar menuntun ketiga anak barunya melangkah turun dari lereng Gunung Gede.

(Bersambung)

Posting Komentar untuk "Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 3) "