Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 4)




Desas-desus mengenai ketertarikan Batara Guru terhadap kecantikan anak angkatnya, Pohaci, mulai menyebar di Kahyangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan dewa-dewi. Secara pakem, seorang ayah, baik kandung maupun angkat, terikat aturan kosmik untuk tidak mencintai anaknya sendiri. Aturan ini bersifat mutlak; jika dilanggar, keseimbangan alam semesta akan terancam oleh ketidakteraturan kosmik.

Kecurigaan para dewa semakin menguat setelah Batara Guru mengusir Ragen secara halus ke Bumi. Karena Ragen dipercaya sebagai sumber informasi utama, para penghuni langit semakin meyakini kebenaran kabar tersebut. Jika Batara Guru benar-benar terperosok ke dalam lembah hitam itu, para dewa dan dewi wajib bertindak untuk mencegahnya. Tugas ini serupa dengan upaya mereka menggagalkan hasrat Sangkuriang yang mencintai ibu kandungnya, Sumbi, ratusan tahun sebelum muncul isu tentang Batara Guru yang menyukai Pohaci.

Dahulu, Surya dan Candra terlibat langsung dalam menggagalkan ambisi Sangkuriang untuk memersunting Sumbi. Sebagai dewa pengetahuan, Surya membantu Sumbi mewujudkan syarat mustahil bagi Sangkuriang, yakni membangun bendungan dan perahu sebelum fajar. Surya menjelma menjadi matahari di waktu dini hari, memicu ayam jantan berkokok sebagai pertanda pagi telah tiba. Akibatnya, Sangkuriang gagal memenuhi syarat tersebut dan batal menikahi ibunya. Surya dan Candra melakukan intervensi ini semata-mata demi menjaga keteraturan kosmik agar tidak hancur akibat pelanggaran tatanan alam.

Demi menghindari pelanggaran kosmik yang mungkin dilakukan langsung oleh Batara Guru sebagai dewa tertinggi, para batara mulai menyusun siasat. Mereka sadar bahwa memperingatkan Batara Guru secara langsung sama saja dengan menyadarkan orang yang sedang dimabuk cinta; peluang keberhasilannya sangatlah kecil. Bahkan meminta Sanghyang Narada untuk memberi nasihat pun dianggap tak akan mempan bagi hati yang sedang terbuai. Maka, keputusan mereka bulat, satu-satunya jalan adalah menjauhkan Pohaci dari Batara Guru, meski harus mengorbankannya.

“Namun, dengan cara apa kita menyingkirkan Pohaci, perempuan yang begitu disayangi ayah angkatnya itu?” tanya Batara Indra retoris. Matanya berkaca-kaca; ada sesak yang menghimpit dada karena harus menjauhkan sosok sebaik Pohaci. Dulu, ia pernah bertempur hebat dan membunuh Writra, ular raksasa yang menyumbat aliran sungai di Bumi. Namun, itu perkara lain karena Writra adalah makhluk makar yang jahat. Menyingkirkan Pohaci terasa seperti menyakiti jiwanya sendiri.

“Ini adalah pilihan terbaik. Kendati kita harus merendahkan diri menjadi pelaku kejahatan, dampaknya adalah kebaikan bagi siklus kehidupan dan keteraturan kosmik. Usia jagat ini harus berjalan sesuai dengan kalpa dan kala yang ada,” gumam Batara Wisnu.

Hari itu juga diputuskan bahwa Pohaci akan disingkirkan secara halus dari kahyangan. Batara Indra, sebagai dewa terdekat, mengajak Pohaci turun ke buana panca-tengah dengan alasan melihat keasrian alam marcapada yang mulai ditumbuhi pepohonan dan dihuni satwa-satwa lucu. Pohaci tertarik. Tanpa sepengetahuannya, saat mereka turun dari kahyangan, tiga batara lainnya membuntuti diam-diam dari belakang.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Batara Indra saat mereka tiba di permukaan bumi. Indra menunjuk bentang alam yang luas, di mana tanah masih diselimuti aneka tumbuhan. Berdasarkan kisah para sesepuh kahyangan, Sanghyang Keresa menciptakan keindahan ini sebagai tempat persinggahan bagi makhluk baru bernama Manusha, makhluk yang menggantikan posisi Purusha yang sebelumnya merusak tatanan alam.

“Indah. Jika boleh memilih, aku ingin tinggal di sini beberapa hari saja. Aku ingin mewarnai tempat persembahan agung Sang Keresa ini dengan caraku, agar menjadi lebih indah,” bisik Pohaci.

Mendengar itu, Indra merasa mendapat peluang. Ia berpikir akan lebih mudah memperdaya Pohaci agar tinggal selamanya di bumi bersama Manusha, makhluk rapuh yang butuh pertolongan dewa-dewi bahkan untuk urusan paling mendasar sekalipun.

“Indra,” Pohaci kembali bergumam. “Aku sudah tahu. Desas-desus tentang ketertarikan Batara Guru padaku telah memicu kekhawatiran seluruh penghuni kahyangan. Keteraturan kosmik memang akan terganggu jika ayah angkatku bersikeras mempersuntingku. Aku juga tahu bahwa kalian para batara ingin menjauhkanku dari kahyangan agar aku tak terjangkau olehnya. Kalian tak perlu sembunyi-sembunyi lagi,” tuturnya tetap lembut.

Wisnu, Surya, dan Candra akhirnya menampakkan diri. Ketiganya terdiam seribu bahasa. Batara Candra teringat pada kutukan mertuanya, Daksha, yang membuat kekuatannya mengeropos. Dulu, cahayanya adalah yang paling terang di cakrawala, namun kini meredup dan pucat pasi. Semua itu terjadi karena cinta yang pilih kasih terhadap Rohini, yang memicu kecemburuan 26 putri Daksha lainnya.

“Kalian tidak perlu melakukan tindakan apa pun yang akan mengotori kesucian kalian. Aku sendiri yang akan melakukannya. Aku akan menghancurkan diriku dan menghujani marcapada dengan kepingan tubuh ini, agar kelak aku tumbuh menjadi pohon yang membangkitkan energi bagi Manusha,” ucap Pohaci sambil memejamkan mata. Tubuhnya tiba-tiba memancarkan cahaya yang kian berkilau, lalu pecah menjadi butiran cahaya yang beterbangan dan meresap ke dalam bumi.

Para batara menarik napas panjang. Wisnu kemudian membuka telapak tangannya, mengeluarkan pendar cahaya suci. “Kelak, cahaya ini akan melindungi Pohaci selama berabad-abad, hingga ia muncul kembali dalam wujud bulir-bulir keemasan yang menjadi penyambung hidup utama bagi makhluk bernama Manusha,” tutur Wisnu.

Di tempat lain, langit sore dihiasi lembayung indah di atas Gunung Gede yang berdiri gagah. Semar dan ketiga anaknya tengah dalam perjalanan pulang. Di ufuk barat, mereka menyaksikan butiran cahaya yang jatuh ke bumi layaknya hujan bintang. Peristiwa itu membuat ketiga anaknya takjub. Bagi Semar, cahaya itu terasa seperti pembawa berkah, namun mata batinnya melihat lebih dalam; ia menyaksikan pengorbanan agung seorang perempuan demi menjaga hukum semesta. Pikirannya pun kembali terbang pada Ragen, yang kini entah telah menitis menjadi siapa.

“Heuheuheu... Bapak, ada apa? Ada apa, Bapak?” Sastrajingga bertanya dengan gaya khasnya yang cengengesan.

“Hahahaha... nanti Bapak ceritakan kalau sudah tiba di rumah, ya,” jawab Semar lembut.

Mereka berempat melanjutkan perjalanan, menembus hutan lebat dan sesekali melintasi padang rumput luas. Sastrajingga dan adik-adiknya mengikuti dari belakang dengan riang. Sastrajingga tak henti berjoget sepanjang jalan, meski sesekali kepalanya harus kena jitak Nala Gareng yang merasa terganggu.

(Bersambung)

Posting Komentar untuk "Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 4)"