
Waktu bergulir kian cepat sejak pengorbanan suci Pohaci. Di Buana Panca Tengah, takhta kepemimpinan pun telah berganti; mendiang Raja Is kini digantikan oleh putranya, Pangeran Ja. Suksesi ini berlangsung tepat lima dasawarsa setelah Pohaci meleburkan raga ke rahim bumi pertiwi.
Semula, rakyat menaruh harap bahwa di bawah naungan Pangeran Ja, Buana Panca Tengah akan tetap bertahan dalam puncak kejayaan. Namun, harapan itu segera berbenturan dengan kenyataan pahit. Di awal masa jabatannya, Pangeran Ja justru menetapkan kebijakan kontroversial yang meresahkan rakyat; sebuah mandat yang mewajibkan setiap penduduk menyerahkan hasil panen dan ternak kepada istana sebagai bentuk pengabdian. Alasannya klise; lumbung kerajaan mulai menyusut, dan kini dianggap sebagai saat yang tepat bagi rakyat untuk membuktikan loyalitas mereka kepada kerajaan.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan era Raja Is, ayahnya. Kala itu, aturan yang membebani rakyat tak pernah ada. Baginya, kerajaan adalah pelindung yang bertugas menjamin kesejahteraan, bukan pemungut hasil jerih payah. Lumbung istana selalu melimpah berkat dedikasi pasukan khusus yang bergerak di bidang agrikultur dan peternakan. Raja Is memandang rakyat sebagai anak-anaknya sendiri, sosok yang wajib dilindungi, baik martabat maupun kelangsungan hidupnya.
Urusan birokrasi sepenuhnya dikelola oleh para abdi kerajaan yang kompeten. Rakyat tak diperkenankan mencampuri urusan politik kerajaan tanpa bekal pemahaman yang mumpuni. Jika ingin memberi masukan kepada kerajaan, ada syarat mutlak; jadilah orang yang berilmu. Melalui pengetahuan, strata sosial seseorang akan terangkat, membukakan jalan bagi mereka untuk menjadi bagian dari lingkar kekuasaan. Sementara bagi rakyat biasa, tugas utama mereka adalah menekuni dan menguasai bidangnya masing-masing.
Hasilnya nyata. Di bawah kepemimpinan Raja Is, kerajaan mencapai masa keemasan yang paripurna. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Pada masa itu, konsep pendidikan dirancang dengan apik oleh para pandita. Selain ilmu pengetahuan, masyarakat dibekali dengan kaweruh; sebuah kearifan batin agar manusia senantiasa beretika, memahami jati diri, serta perannya di dunia.
Raja Is bersama para cendekiawan istana membangun sistem pendidikan di padepokan dan padukuhan yang inklusif bagi siapa saja. Tak heran, rahim pendidikan ini melahirkan insan-insan unggul yang menciptakan peradaban luhur, termasuk sistem penanggalan candrakala, tata bahasa, hingga aksara yang menjadi warisan abadi bagi anak cucu mereka.
Di masa kepemimpinan Pangeran Ja, bencana alam mulai melanda. Pada tahun keempatnya bertakhta, kemarau panjang terjadi selama lebih dari satu tahun hingga menyebabkan gagal panen massal. Meski para petani mengeluh, pihak kerajaan tetap bersikukuh menagih setoran musiman. Bagi kerajaan, gagal panen bukanlah kegagalan total; mereka yakin pasti ada sedikit hasil bumi yang terselamatkan.
“Setengah dari yang terselamatkan itulah yang harus kamu serahkan kepada kerajaan!” seru seorang abdi kerajaan kepada temannya yang seorang petani.
“Gagal panen itu artinya tidak ada hasil sama sekali!” balas si petani sengit. Ia menegaskan bahwa gagal panen tidak boleh dimaknai lain. Gagal berarti nihil; tak ada satu biji palawija pun yang bisa dipanen karena tanah pecah merekah. “Kemarau panjang ini tanpa hujan, dan parit-parit kita kering kerontang. Bagaimana mungkin kami menanam sayur-mayur?”
Abdi kerajaan itu mendengus. “Itu alasan saja. Baiklah, bisa diterima. Tapi pasti masih ada cadangan hasil panen musim sebelumnya, kan? Saya yakin kamu menyimpannya untuk kerajaan.” Ia tetap bergeming bahwa petani wajib menyetor. “Kudengar, orang-orang di belahan dunia Barat benar-benar mengabdikan hidup bagi kerajaan mereka. Masa baru diminta sebagian hasil panen saja sudah begini!” Sebagai abdi kerajaan, ia merasa bertanggung jawab memberikan 'pemahaman' kepada temannya itu.
Si petani tetap menganggap abdi tersebut sebagai teman baik, sehingga ia hanya tersenyum meski pembicaraan ini terus berputar-putar. Apa bedanya petani dan abdi kerajaan? Sama-sama manusia yang butuh makan. “Demi kerajaan, saya akan berikan hasil tani nanti kalau sudah panen. Masalahnya sekarang kami gagal panen, jadi tidak ada yang bisa diberikan,” bujuknya merajuk.
Abdi kerajaan itu menjelaskan lagi, “Upeti itu tidak disia-siakan untuk perang, melainkan untuk kesejahteraan para pejabat tinggi kerajaan agar mereka bekerja maksimal menghasilkan kebijakan terbaik. Ujung-ujungnya untuk rakyat juga, kan?” ucapnya sambil mengelus pipi dan menatap langit yang masih bersih dari awan mendung. Matahari menyengat jutaan hektar tanah yang gersang. “Padahal di laut sana air begitu melimpah!”
“Kerajaan punya banyak pasukan, kan? Bisakah mereka memindahkan air laut ke sini?” tanya si petani.
Bagi si abdi, pertanyaan itu sangat tidak rasional. Ia memaklumi karena menganggap temannya pandir. Mana mungkin ia harus mengangkut air laut? “Itulah kewajiban abdi kerajaan, sedangkan kewajibanmu adalah memberikan setengah hasil tani, benar?”
“Hush, bukan setengah, tapi sebagian. Itu berbeda!” tegur si abdi kerajaan. Baginya, setengah berarti satu dibagi dua (1/2), sementara sebagian bisa berarti satu dibagi enam (1/6) hingga bilangan yang lebih besar. Ia teringat ucapan temannya bahwa kewajiban mereka saling mendukung. Jika dalam kemarau panjang, abdi kerajaan memindahkan air laut, maka petani tidak akan gagal panen. Logis, pikirnya, namun ia merasa kenyataannya tidak semudah itu.
Inilah sekelumit kisah tentang kerajaan ketika idealisme tidak lagi sejalan dengan realitas. Rakyat mulanya berharap mendapatkan kebijaksanaan yang setara dengan pengorbanan mereka. Di masa Raja Is, pameo "jangan tanyakan apa yang telah diberikan kerajaan kepadamu" sama sekali tidak berlaku.
Sebaliknya, dengan dalih apa pun, Raja Is selalu memberikan yang terbaik bagi rakyatnya, tanpa menuntut bakti yang berlebihan. Karena kemuliaan itu sirna di masa kepemimpinan putranya, maka menjadi wajar jika seorang petani kini berani menyela seorang abdi negara.
Sudah setahun lebih tanah di Buana Panca Tengah kering kerontang hingga mendekati tandus, bahkan benar-benar mati. Jelai yang ditanam tidak tumbuh dengan baik; tunas yang baru muncul akan meranggas kering dan mati dalam hitungan minggu. "Memang begitulah, tanpa air, tumbuhan mana mungkin bisa hidup!" ketus seorang tua kepada pemuda yang baru saja mencoba peruntungan sebagai petani.
Konon, atas nasihat seorang maharasyi, kerajaan harus memberikan persembahan kepada dewata agung dengan mengorbankan manusha berkulit merah, sosok yang berbeda dari manusia pada umumnya. Orang-orang tak pernah mendengar cerita dari nenek moyang bahwa kemarau harus ditebus dengan nyawa, kecuali di masa Pangeran Ja ini.
"Ini hanya masalah perputaran musim. Tidak ada sangkut pautnya dengan nyawa atau persembahan. Ada-ada saja orang-orang besar di kerajaan ini. Mana mungkin dengan mengorbankan seseorang, musim akan langsung berganti hujan!" gerutu seseorang kepada teman-temannya di sebuah lepau sambil menikmati kopi.
Namun, sabda raja adalah sabda dewata. Bukannya berpikir dengan nalar yang jernih, pihak kerajaan justru mengumumkan sayembara: siapa pun yang menemukan manusha berkulit merah dalam keadaan hidup akan diberi hadiah besar. Padahal di musim paceklik, orang tidak butuh hadiah megah. Segenggam jelai jauh lebih berharga daripada segundukan intan berlian. Uang tidak bisa dimakan saat pangan menghilang. Jika saku penuh uang pun, apa yang bisa dibeli saat barang-barang langka dan sulit didapat?
Akhirnya, pengumuman itu hanya disambut oleh kaum Tuccha. Mereka adalah kelompok perampok, begal, dan pencuri yang tidak memiliki ruang di masa Raja Is. Dahulu, kaum Tuccha adalah musuh besar kerajaan. Pernah ada seorang Tuccha yang mencoba menerobos istana, dan tanpa ampun, kakinya langsung dipanah oleh pengawal.
(Bersambung)
Posting Komentar untuk "Cerbung: Panggil Aku Persephone dan Pohaci (Bagian 5)"