Judul di atas tidak harus dimaknai bahwa pada akhirnya saya buka bersama juga dengan teman-teman di Bagian Prokopim Setda Kota Sukabumi. Secara kasat mata, hampir setiap bulan puasa kita memang selalu buka bersama, jika tidak dengan keluarga, dengan teman, bahkan dengan diri sendiri pun sebenarnya kita sedang berbuka bersama.
Mana ada buka puasa dilakukan benar-benar mandiri, misalnya lebih awal dari orang pada umumnya, kecuali bagi para mokeller. Jadi ketika kita berbuka sendirian di sebuah gubuk pun, pada hakikatnya kita tetap berbuka bersama umat muslim lainnya yang berada dalam satu waktu dengan kita.
Hanya saja, istilah buka bersama kini telah menjadi semacam tradisi yang mengalami penyempitan makna. Buka bersama sering dimaknai sebagai kegiatan berbuka puasa yang dilakukan secara serentak dalam satu ruangan, satu meja makan, dengan sajian makanan dan minuman yang sama.
Padahal, secara makna kita sebenarnya dituntut untuk tidak egois dan memaknai kebersamaan secara lebih luas. Meski begitu, tidak ada salahnya juga mengikuti pemahaman kebanyakan orang bahwa buka bersama adalah berbuka di satu tempat bersama orang-orang terdekat.
Atas alasan itulah, hampir setiap pertengahan hingga akhir bulan puasa, kedai dan pusat kuliner ramai sesak oleh berbagai komunitas dan perkumpulan. Dari generasi milenial hingga angkatan sebelumnya tumplek blek melakukan buka bersama di sana.
Fenomena ini bukanlah kemunduran peradaban, melainkan bentuk pergeseran tren. Jika beberapa dekade lalu buka bersama sering dilakukan di rumah atau sekolah, kini tradisi itu bergeser ke rumah makan, pusat kuliner, hingga kedai kopi.
Walakin, di lembaga-lembaga tertentu, seperti partai politik, buka bersama kerap dilakukan di kantor atau sekretariat sambil membahas strategi tahunan, bahkan terkadang diselingi harapan akan distribusi THR dari ketua partai kepada pengurus pusat hingga tingkat ranting segera diimplementasikan.
Begitu juga di lembaga resmi pemerintahan. Misalnya beberapa waktu lalu anggota DPR RI melakukan safari Ramadan ke Gedung Pakuan dan berbuka puasa bersama para kepala daerah se-Jawa Barat. Kendati berlabel buka puasa bersama, momentum seperti itu tetap dimanfaatkan untuk membicarakan strategi pembangunan dan upaya mewujudkan Jabar Istimewa.
Tak ingin kalah, Bagian Prokopim juga telah menjadwalkan acara buka bersama para pegawainya jauh-jauh hari. Bahkan ada semacam instruksi: semua pegawai diharapkan ikut serta dalam kegiatan ini. Tidak wajib, namun harus.
Intinya bukan hanya mengisi perut saat waktu berbuka, melainkan mempererat silaturahmi. Sebab jika dihitung dalam satu tahun, teman-teman di Bagian Prokopim, termasuk saya, mungkin jarang sekali berkumpul dengan kualitas kebersamaan yang benar-benar utuh.
Maka pada pukul 15.30 WIB, sesuai undangan virtual melalui WAG, saya pun berangkat ke Setda Kota Sukabumi. Hujan masih turun, bahkan sejak dini hari atau mungkin sejak hari sebelumnya hujan telah mengguyur dengan curah yang tidak terlalu tinggi namun cukup sering.
Mengenai jadwal dan ketepatannya, untuk ukuran orang Indonesia jangan terlalu ditanya. Jika dalam undangan dijadwalkan pukul 13.00, biasanya acara baru benar-benar dimulai sekitar pukul 14.00 atau molor satu jam.
Namun untuk acara buka bersama, saya kira ini menjadi pengecualian. Acara utama yaitu berbuka puasa, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Waktu berbuka selalu tepat, sementara jadwal yang dibuat panitia, karena bukan aturan Tuhan, bisa saja berubah.
Acara pengisi buka bersama sendiri baru dimulai sekitar pukul lima sore. Diawali dengan sambutan dari Pak Kabag Prokopim yang menekankan pentingnya pertemuan seperti ini. Selain jarang terjadi, momentum ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan di antara para pegawai.
Selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga jarang melihat dan memerhatikan diri sendiri. Maka melalui momen buka bersama ini, Bagian Prokopim diharapkan bisa sejenak melihat ke dalam diri, dalam arti memanjakan diri sendiri setelah rutinitas yang padat.
Acara kemudian diisi dengan dua jenis permainan. Manusia memang makhluk yang senang bermain. Seorang filsuf awal abad ke-20, Johan Huizinga, bahkan menyebut manusia sebagai homo ludens, yakni makhluk yang gemar bermain.
Dalam tradisi Sunda sendiri ada ungkapan “kurang ulin” atau “ulinna kurang jauh” bagi seseorang yang dianggap kurang bergaul atau kurang peka terhadap perubahan. Tidak heran jika dalam berbagai acara formal, bahkan dalam kegiatan peningkatan kapasitas, sesi permainan sering menjadi bagian yang paling digemari oleh para peserta.
Namun, bagian yang paling menggembirakan bagi saya dan mungkin juga dirasakan oleh teman-teman lain adalah sambutan dari Pak Sekda yang menyinggung tentang cara berhitung yang tepat dan benar mengenai angka-angka. Kendati disampaikan dengan gaya kelakar, pesannya terasa mengena dan menusuk sanubari. Kelakar seperti ini memang menghibur, tetapi akan lebih bermakna jika benar-benar dipahami dan diimplementasikan.
Mengapa demikian? Karena dalam pandangan para filsuf, dunia ini diciptakan secara matematis, di dalamnya terdapat angka-angka yang presisi dan teratur. Jika perhitungan itu tidak tepat, mungkin sejak zaman dahulu dunia ini sudah hancur. Maka wajar jika manusia hingga kini begitu akrab dengan angka: dari nominal uang, takaran beras, hingga berbagai ukuran lainnya.
Saya bahkan pernah berkelakar kepada orang terkasih: uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan—kalau jumlahnya sedikit. Bukan berarti saya mata duitan, tetapi realitas zaman memang sering berbicara demikian.
Menariknya, orang yang bertuhan maupun ateis bisa saja berbeda pandangan tentang siapa yang menciptakan dunia, tetapi ketika menafsirkan nilai uang satu dolar Amerika, biasanya mereka sepakat.
Bagian yang paling dinantikan oleh seluruh jamaah buka bersama adalah saat-saat menjelang magrib. Setelah pembacaan doa menjelang berbuka, teman-teman menunjuk Mang Den sebagai pembaca doa. Seluruh pegawai tampak khusyuk mengamini doa yang dipanjatkan.
Namun tiba-tiba, entah mengapa, Mang Den sempat terhenti sejenak ketika membaca doa: “Allahumma laka shumtu wabika amantu...” Ada jeda sekitar setengah menit. Terus terang saya tidak tahu alasannya, apakah lupa atau sekadar jeda sejenak. Mungkin setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menanyakannya langsung kepada Mang Dens (hehe).
Mana ada buka puasa dilakukan benar-benar mandiri, misalnya lebih awal dari orang pada umumnya, kecuali bagi para mokeller. Jadi ketika kita berbuka sendirian di sebuah gubuk pun, pada hakikatnya kita tetap berbuka bersama umat muslim lainnya yang berada dalam satu waktu dengan kita.
Hanya saja, istilah buka bersama kini telah menjadi semacam tradisi yang mengalami penyempitan makna. Buka bersama sering dimaknai sebagai kegiatan berbuka puasa yang dilakukan secara serentak dalam satu ruangan, satu meja makan, dengan sajian makanan dan minuman yang sama.
Padahal, secara makna kita sebenarnya dituntut untuk tidak egois dan memaknai kebersamaan secara lebih luas. Meski begitu, tidak ada salahnya juga mengikuti pemahaman kebanyakan orang bahwa buka bersama adalah berbuka di satu tempat bersama orang-orang terdekat.
Atas alasan itulah, hampir setiap pertengahan hingga akhir bulan puasa, kedai dan pusat kuliner ramai sesak oleh berbagai komunitas dan perkumpulan. Dari generasi milenial hingga angkatan sebelumnya tumplek blek melakukan buka bersama di sana.
Fenomena ini bukanlah kemunduran peradaban, melainkan bentuk pergeseran tren. Jika beberapa dekade lalu buka bersama sering dilakukan di rumah atau sekolah, kini tradisi itu bergeser ke rumah makan, pusat kuliner, hingga kedai kopi.
Walakin, di lembaga-lembaga tertentu, seperti partai politik, buka bersama kerap dilakukan di kantor atau sekretariat sambil membahas strategi tahunan, bahkan terkadang diselingi harapan akan distribusi THR dari ketua partai kepada pengurus pusat hingga tingkat ranting segera diimplementasikan.
Begitu juga di lembaga resmi pemerintahan. Misalnya beberapa waktu lalu anggota DPR RI melakukan safari Ramadan ke Gedung Pakuan dan berbuka puasa bersama para kepala daerah se-Jawa Barat. Kendati berlabel buka puasa bersama, momentum seperti itu tetap dimanfaatkan untuk membicarakan strategi pembangunan dan upaya mewujudkan Jabar Istimewa.
Tak ingin kalah, Bagian Prokopim juga telah menjadwalkan acara buka bersama para pegawainya jauh-jauh hari. Bahkan ada semacam instruksi: semua pegawai diharapkan ikut serta dalam kegiatan ini. Tidak wajib, namun harus.
Intinya bukan hanya mengisi perut saat waktu berbuka, melainkan mempererat silaturahmi. Sebab jika dihitung dalam satu tahun, teman-teman di Bagian Prokopim, termasuk saya, mungkin jarang sekali berkumpul dengan kualitas kebersamaan yang benar-benar utuh.
Maka pada pukul 15.30 WIB, sesuai undangan virtual melalui WAG, saya pun berangkat ke Setda Kota Sukabumi. Hujan masih turun, bahkan sejak dini hari atau mungkin sejak hari sebelumnya hujan telah mengguyur dengan curah yang tidak terlalu tinggi namun cukup sering.
Mengenai jadwal dan ketepatannya, untuk ukuran orang Indonesia jangan terlalu ditanya. Jika dalam undangan dijadwalkan pukul 13.00, biasanya acara baru benar-benar dimulai sekitar pukul 14.00 atau molor satu jam.
Namun untuk acara buka bersama, saya kira ini menjadi pengecualian. Acara utama yaitu berbuka puasa, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Waktu berbuka selalu tepat, sementara jadwal yang dibuat panitia, karena bukan aturan Tuhan, bisa saja berubah.
Acara pengisi buka bersama sendiri baru dimulai sekitar pukul lima sore. Diawali dengan sambutan dari Pak Kabag Prokopim yang menekankan pentingnya pertemuan seperti ini. Selain jarang terjadi, momentum ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan di antara para pegawai.
Selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga jarang melihat dan memerhatikan diri sendiri. Maka melalui momen buka bersama ini, Bagian Prokopim diharapkan bisa sejenak melihat ke dalam diri, dalam arti memanjakan diri sendiri setelah rutinitas yang padat.
Acara kemudian diisi dengan dua jenis permainan. Manusia memang makhluk yang senang bermain. Seorang filsuf awal abad ke-20, Johan Huizinga, bahkan menyebut manusia sebagai homo ludens, yakni makhluk yang gemar bermain.
Dalam tradisi Sunda sendiri ada ungkapan “kurang ulin” atau “ulinna kurang jauh” bagi seseorang yang dianggap kurang bergaul atau kurang peka terhadap perubahan. Tidak heran jika dalam berbagai acara formal, bahkan dalam kegiatan peningkatan kapasitas, sesi permainan sering menjadi bagian yang paling digemari oleh para peserta.
Namun, bagian yang paling menggembirakan bagi saya dan mungkin juga dirasakan oleh teman-teman lain adalah sambutan dari Pak Sekda yang menyinggung tentang cara berhitung yang tepat dan benar mengenai angka-angka. Kendati disampaikan dengan gaya kelakar, pesannya terasa mengena dan menusuk sanubari. Kelakar seperti ini memang menghibur, tetapi akan lebih bermakna jika benar-benar dipahami dan diimplementasikan.
Mengapa demikian? Karena dalam pandangan para filsuf, dunia ini diciptakan secara matematis, di dalamnya terdapat angka-angka yang presisi dan teratur. Jika perhitungan itu tidak tepat, mungkin sejak zaman dahulu dunia ini sudah hancur. Maka wajar jika manusia hingga kini begitu akrab dengan angka: dari nominal uang, takaran beras, hingga berbagai ukuran lainnya.
Saya bahkan pernah berkelakar kepada orang terkasih: uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan—kalau jumlahnya sedikit. Bukan berarti saya mata duitan, tetapi realitas zaman memang sering berbicara demikian.
Menariknya, orang yang bertuhan maupun ateis bisa saja berbeda pandangan tentang siapa yang menciptakan dunia, tetapi ketika menafsirkan nilai uang satu dolar Amerika, biasanya mereka sepakat.
Bagian yang paling dinantikan oleh seluruh jamaah buka bersama adalah saat-saat menjelang magrib. Setelah pembacaan doa menjelang berbuka, teman-teman menunjuk Mang Den sebagai pembaca doa. Seluruh pegawai tampak khusyuk mengamini doa yang dipanjatkan.
Namun tiba-tiba, entah mengapa, Mang Den sempat terhenti sejenak ketika membaca doa: “Allahumma laka shumtu wabika amantu...” Ada jeda sekitar setengah menit. Terus terang saya tidak tahu alasannya, apakah lupa atau sekadar jeda sejenak. Mungkin setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menanyakannya langsung kepada Mang Dens (hehe).

Posting Komentar untuk "Akhirnya, Bukber Juga"