Mengenai sejarah dan peradaban manusia, kita memang sering bersikap naif. Artinya, kita sering mengedepankan ego kekinian dengan cara menarik masa kini ke masa lalu atau sebaliknya, daripada membiarkan dan memberikan penafsiran bahwa masa lalu telah bergerak sebagaimana adanya.
Ada alasan mengapa sejarah dikonstruksi dan terus dihadirkan di masa kini, yaitu adanya kepentingan yang diharapkan sebagai landasan untuk bertindak pada saat ini. Sebagai contoh, narasi tentang tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel terus digemakan, bukan hanya oleh orang Yahudi sendiri, tetapi juga oleh berbagai pihak di belahan dunia manapun. Narasi semacam ini penting mereka lakukan untuk membangun wacana baru bahwa penguasaan Palestina oleh Israel dianggap sah karena didukung oleh wahyu.
Padahal jika kita jeli dalam membaca sejarah dan jejak masa lalu, Yerusalem di masa lampau bukan benar-benar milik satu bangsa secara sah. Perspektif yang dikembangkan oleh Abraham atau Ibrahim tidak secara harfiah merujuk bahwa tanah yang membentang dari Mesir hingga Eufrat mutlak akan menjadi milik keturunannya secara utuh.
Kepemilikan properti yang dimaksud adalah bahwa keturunannya memang akan menempati wilayah tersebut. Hal ini dapat diterima oleh nalar, karena keturunan Ibrahim dengan mobilitas yang terbatas saat itu hanya mampu menempuh wilayah terjauh, misalnya Mesir di Afrika, yang secara geografis juga masih hidup dalam lingkup wilayah Kanaan dan sekitarnya.
Pada rentang waktu 3000 hingga 2000 Sebelum Masehi atau di era perunggu, tidak ditemukan bukti autentik yang menunjukkan bahwa peradaban Mesopotamia melakukan migrasi atau penyeberangan ke wilayah Eropa. Iklim Eropa yang membeku di musim dingin serta jarak geografis menjadi penghalang utama pada masa tersebut.
Interaksi antara penduduk dari wilayah Timur dan pusat Eropa baru terjadi secara masif ribuan tahun kemudian, salah satunya akibat ekspansi Kekaisaran Romawi yang membawa banyak tawanan perang dari berbagai wilayah taklukan ke pusat kekuasaan untuk dijadikan tenaga kerja, budak, dan beberapa di antaranya dijadikan gladiator.
Hal kedua yang sering dinarasikan dan dijadikan alasan oleh bangsa Yahudi untuk melakukan aneksasi wilayah Yerusalem adalah tentang eksistensi kuil atau bait suci yang pernah dibangun oleh Raja Sulaiman dan Herodes. Mereka mengklaim bahwa letak bait suci atau kuil ini berada di kawasan yang saat ini berdiri Masjid Al-Aqsa.
Secara historis, Kuil Sulaiman dibangun pada tahun 1000 SM, kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar II sekitar 500 tahun setelah dibangun. Bahkan, dengan alasan pemurnian ajaran yang dipegang oleh orang-orang Babilonia Baru, justru orang-orang Yahudi lah yang dipandang sebagai penganut ajaran sesat.
Patut diduga, sikap berlebihan Nebukadnezar II juga dipengaruhi oleh kisah dan narasi masa lalu tentang leluhur bangsa Yahudi (Abraham) yang pernah menghancurkan berhala di Babilonia, sebuah peristiwa yang juga sering dinarasikan oleh tiga agama mayor saat Ibrahim berdebat dengan Nimrod.
Meskipun demikian, para ahli sejarah telah menginterpretasikan bahwa Nimrod atau Raja Namrud adalah gelar yang disematkan kepada penguasa yang sezaman dengan Ibrahim. Kemungkinan besar gelar ini merujuk pada Naram-Sin, cucu dari Sargon. Bangsa Yahudi di masa Nebukadnezar II kembali menjadi penyintas, sebuah bangsa yang teraniaya oleh bangsa lain.
Dari beberapa kekejian yang mereka alami, muncul sebuah pertanyaan sederhana; mengapa bangsa lain seperti Mesir dan Babilonia memperlakukan suku bangsa Yahudi ini secara keji dan ingin membumihanguskannya? Dalam kacamata etika komunikasi, ini mengindikasikan ada yang salah dengan cara hidup bangsa Yahudi saat itu yang dinilai terlalu eksklusif, termasuk dalam hal keyakinan yang dianggap hanya diperuntukkan bagi ras dan bangsanya saja.
Narasi yang dikembangkan tentang Kuil Sulaiman pun baru menguat kembali akhir-akhir ini, setelah kisahnya terkubur sejak abad pertengahan. Kuil Sulaiman di masa lalu hanya dijadikan alasan oleh kelompok Zionis, peranakan Yahudi dari Eropa agar mereka mendapatkan simpati dari kaum Yahudi ortodoks dan penganut keyakinan lain yang memiliki akar sejarah keyakinan yang sama berasal dari Yudea.
Melalui narasi semacam ini, muncul dua kubu besar. Banyak dari kalangan Kristen membela Yahudi karena alasan akar sejarah, meskipun sama sekali tidak memiliki ikatan organik (misalnya, antara bangsa Yahudi dengan orang-orang Kristen di Nusantara). Namun, melalui kisah yang dibangun ini, tercipta kesepakatan seolah-olah umat di manapun memiliki ikatan emosional dan wajib mendukung berdirinya kembali Kuil Sulaiman, kendati hal itu menuntut penghancuran Masjid Al-Aqsa.
Padahal, dalam tradisi Muslim, justru di titik itulah letak kuil peninggalan Nabi Sulaiman yang sebenarnya. Dari sejarah ini, harus ditarik benang merah agar ketiga keyakinan yang memuliakan Sulaiman dapat hidup waras dan selaras. Caranya adalah dengan mengakui secara jujur fakta sejarah bahwa Kuil Sulaiman telah dimusnahkan oleh Nebukadnezar II; kemudian oleh umat Islam, Khalifah Umar menginisiasi pembangunan sebuah masjid dan baru diwujudkan di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada 690 M sebagai bentuk penghormatan kepada Sulaiman dan rujukan pada peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Kuil Sulaiman memang pernah didirikan kembali oleh Herodes, raja yang hidup sezaman dengan Nabi Zakaria. Kuil ini diperluas seiring dengan bangsa Yahudi yang mengalami sensasi kemerdekaan setelah melewati masa pembuangan dari Babilonia. Namun riwayatnya tidak berhenti di sana. Karena bangsa Yahudi kembali melakukan pergolakan, invasi Kekaisaran Romawi mengharuskan mereka kembali menjadi pesakitan.
Kuil suci kedua yang dibangun Herodes akhirnya dihancurkan oleh Titus, komandan Romawi saat itu. Penting untuk kita ketahui, di dalam lingkup internal Yahudi sendiri sering terjadi percekcokan mendasar. Sebagai contoh, Herodes membunuh Zakaria dan mengecam Yohanes, yang pada akhirnya berujung pada orang-orang Yahudi sendiri yang memusuhi Yesus.
Menghadirkan kisah masa lalu di masa kini memiliki maksud dan tujuan spesifik, yaitu agar sikap dan tindakan kelompok tertentu seolah-olah mendapatkan restu dari masa lalu dan diamini oleh masyarakat yang ahistoris melalui perdebatan yang menyeret-nyeret sentimen keyakinan dari berbagai sudut.
Jika pun harus benar-benar meluapkan amarah serta dendam, bangsa Yahudi seharusnya melampiaskan dendam mereka kepada entitas bangsa yang mewarisi Kekaisaran Romawi yang secara nyata telah menghancurkan kuil mereka di masa lalu. Bukan malah membenci bangsa Palestina (Filistin) dan Persia yang tidak memiliki sangkut paut sama sekali dengan peristiwa penghancuran bait suci di masa lampau.
Sumber Rujukan:
- Van De Mieroop, Marc. (2003). A History of the Ancient Near East, ca. 3000-323 BC.
- Kriwaczek, Paul. (2010). Babylon: Mesopotamia and the Birth of Civilization.
- Finkelstein, Israel & Silberman, Neil Asher. (2001). The Bible Unearthed: Archaeology's New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its Sacred Texts.
- Johnson, Paul. (1987). A History of the Jews.
- Montefiore, Simon Sebag. (2011). Jerusalem: The Biography.
- Beard, Mary. (2015). SPQR: A History of Ancient Rome.
- Dalley, Stephanie. (1989). Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others.
Ada alasan mengapa sejarah dikonstruksi dan terus dihadirkan di masa kini, yaitu adanya kepentingan yang diharapkan sebagai landasan untuk bertindak pada saat ini. Sebagai contoh, narasi tentang tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel terus digemakan, bukan hanya oleh orang Yahudi sendiri, tetapi juga oleh berbagai pihak di belahan dunia manapun. Narasi semacam ini penting mereka lakukan untuk membangun wacana baru bahwa penguasaan Palestina oleh Israel dianggap sah karena didukung oleh wahyu.
Padahal jika kita jeli dalam membaca sejarah dan jejak masa lalu, Yerusalem di masa lampau bukan benar-benar milik satu bangsa secara sah. Perspektif yang dikembangkan oleh Abraham atau Ibrahim tidak secara harfiah merujuk bahwa tanah yang membentang dari Mesir hingga Eufrat mutlak akan menjadi milik keturunannya secara utuh.
Kepemilikan properti yang dimaksud adalah bahwa keturunannya memang akan menempati wilayah tersebut. Hal ini dapat diterima oleh nalar, karena keturunan Ibrahim dengan mobilitas yang terbatas saat itu hanya mampu menempuh wilayah terjauh, misalnya Mesir di Afrika, yang secara geografis juga masih hidup dalam lingkup wilayah Kanaan dan sekitarnya.
Pada rentang waktu 3000 hingga 2000 Sebelum Masehi atau di era perunggu, tidak ditemukan bukti autentik yang menunjukkan bahwa peradaban Mesopotamia melakukan migrasi atau penyeberangan ke wilayah Eropa. Iklim Eropa yang membeku di musim dingin serta jarak geografis menjadi penghalang utama pada masa tersebut.
Interaksi antara penduduk dari wilayah Timur dan pusat Eropa baru terjadi secara masif ribuan tahun kemudian, salah satunya akibat ekspansi Kekaisaran Romawi yang membawa banyak tawanan perang dari berbagai wilayah taklukan ke pusat kekuasaan untuk dijadikan tenaga kerja, budak, dan beberapa di antaranya dijadikan gladiator.
Hal kedua yang sering dinarasikan dan dijadikan alasan oleh bangsa Yahudi untuk melakukan aneksasi wilayah Yerusalem adalah tentang eksistensi kuil atau bait suci yang pernah dibangun oleh Raja Sulaiman dan Herodes. Mereka mengklaim bahwa letak bait suci atau kuil ini berada di kawasan yang saat ini berdiri Masjid Al-Aqsa.
Secara historis, Kuil Sulaiman dibangun pada tahun 1000 SM, kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar II sekitar 500 tahun setelah dibangun. Bahkan, dengan alasan pemurnian ajaran yang dipegang oleh orang-orang Babilonia Baru, justru orang-orang Yahudi lah yang dipandang sebagai penganut ajaran sesat.
Patut diduga, sikap berlebihan Nebukadnezar II juga dipengaruhi oleh kisah dan narasi masa lalu tentang leluhur bangsa Yahudi (Abraham) yang pernah menghancurkan berhala di Babilonia, sebuah peristiwa yang juga sering dinarasikan oleh tiga agama mayor saat Ibrahim berdebat dengan Nimrod.
Meskipun demikian, para ahli sejarah telah menginterpretasikan bahwa Nimrod atau Raja Namrud adalah gelar yang disematkan kepada penguasa yang sezaman dengan Ibrahim. Kemungkinan besar gelar ini merujuk pada Naram-Sin, cucu dari Sargon. Bangsa Yahudi di masa Nebukadnezar II kembali menjadi penyintas, sebuah bangsa yang teraniaya oleh bangsa lain.
Dari beberapa kekejian yang mereka alami, muncul sebuah pertanyaan sederhana; mengapa bangsa lain seperti Mesir dan Babilonia memperlakukan suku bangsa Yahudi ini secara keji dan ingin membumihanguskannya? Dalam kacamata etika komunikasi, ini mengindikasikan ada yang salah dengan cara hidup bangsa Yahudi saat itu yang dinilai terlalu eksklusif, termasuk dalam hal keyakinan yang dianggap hanya diperuntukkan bagi ras dan bangsanya saja.
Narasi yang dikembangkan tentang Kuil Sulaiman pun baru menguat kembali akhir-akhir ini, setelah kisahnya terkubur sejak abad pertengahan. Kuil Sulaiman di masa lalu hanya dijadikan alasan oleh kelompok Zionis, peranakan Yahudi dari Eropa agar mereka mendapatkan simpati dari kaum Yahudi ortodoks dan penganut keyakinan lain yang memiliki akar sejarah keyakinan yang sama berasal dari Yudea.
Melalui narasi semacam ini, muncul dua kubu besar. Banyak dari kalangan Kristen membela Yahudi karena alasan akar sejarah, meskipun sama sekali tidak memiliki ikatan organik (misalnya, antara bangsa Yahudi dengan orang-orang Kristen di Nusantara). Namun, melalui kisah yang dibangun ini, tercipta kesepakatan seolah-olah umat di manapun memiliki ikatan emosional dan wajib mendukung berdirinya kembali Kuil Sulaiman, kendati hal itu menuntut penghancuran Masjid Al-Aqsa.
Padahal, dalam tradisi Muslim, justru di titik itulah letak kuil peninggalan Nabi Sulaiman yang sebenarnya. Dari sejarah ini, harus ditarik benang merah agar ketiga keyakinan yang memuliakan Sulaiman dapat hidup waras dan selaras. Caranya adalah dengan mengakui secara jujur fakta sejarah bahwa Kuil Sulaiman telah dimusnahkan oleh Nebukadnezar II; kemudian oleh umat Islam, Khalifah Umar menginisiasi pembangunan sebuah masjid dan baru diwujudkan di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada 690 M sebagai bentuk penghormatan kepada Sulaiman dan rujukan pada peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Kuil Sulaiman memang pernah didirikan kembali oleh Herodes, raja yang hidup sezaman dengan Nabi Zakaria. Kuil ini diperluas seiring dengan bangsa Yahudi yang mengalami sensasi kemerdekaan setelah melewati masa pembuangan dari Babilonia. Namun riwayatnya tidak berhenti di sana. Karena bangsa Yahudi kembali melakukan pergolakan, invasi Kekaisaran Romawi mengharuskan mereka kembali menjadi pesakitan.
Kuil suci kedua yang dibangun Herodes akhirnya dihancurkan oleh Titus, komandan Romawi saat itu. Penting untuk kita ketahui, di dalam lingkup internal Yahudi sendiri sering terjadi percekcokan mendasar. Sebagai contoh, Herodes membunuh Zakaria dan mengecam Yohanes, yang pada akhirnya berujung pada orang-orang Yahudi sendiri yang memusuhi Yesus.
Menghadirkan kisah masa lalu di masa kini memiliki maksud dan tujuan spesifik, yaitu agar sikap dan tindakan kelompok tertentu seolah-olah mendapatkan restu dari masa lalu dan diamini oleh masyarakat yang ahistoris melalui perdebatan yang menyeret-nyeret sentimen keyakinan dari berbagai sudut.
Jika pun harus benar-benar meluapkan amarah serta dendam, bangsa Yahudi seharusnya melampiaskan dendam mereka kepada entitas bangsa yang mewarisi Kekaisaran Romawi yang secara nyata telah menghancurkan kuil mereka di masa lalu. Bukan malah membenci bangsa Palestina (Filistin) dan Persia yang tidak memiliki sangkut paut sama sekali dengan peristiwa penghancuran bait suci di masa lampau.
Sumber Rujukan:
- Van De Mieroop, Marc. (2003). A History of the Ancient Near East, ca. 3000-323 BC.
- Kriwaczek, Paul. (2010). Babylon: Mesopotamia and the Birth of Civilization.
- Finkelstein, Israel & Silberman, Neil Asher. (2001). The Bible Unearthed: Archaeology's New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its Sacred Texts.
- Johnson, Paul. (1987). A History of the Jews.
- Montefiore, Simon Sebag. (2011). Jerusalem: The Biography.
- Beard, Mary. (2015). SPQR: A History of Ancient Rome.
- Dalley, Stephanie. (1989). Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others.

Posting Komentar untuk "Politisasi Sejarah dan Legitimasi Masa Kini, Mengurai Narasi Konflik Timur Tengah"