Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan dan Denyut Ekonomi Ramadan di Kota Sukabumi

Kemarin, hari kedua puasa bertepatan dengan genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, bersama Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana. Satu tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan setiap jejak yang telah ditempuh dalam menggerakkan roda pembangunan di Kota Sukabumi.

Secara normatif, tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan kepala daerah melakukan refleksi setiap satu, dua, atau hingga akhir masa jabatan. Evaluasi pemerintahan umumnya dilakukan oleh lembaga lain, meskipun bersifat internal dan bukan oleh diri sendiri.

Namun demikian, pada 20 Februari 2026, Pemerintah Kota Sukabumi menggelar refleksi satu tahun kepemimpinan dengan tajuk “Satu Tahun Pengabdian, Penyiapan Fondasi Pembangunan.” Tajuk ini mengindikasikan bahwa tahun pertama kepemimpinan diisi dengan program dan kegiatan yang berorientasi pada peletakan dasar pembangunan untuk empat tahun ke depan.

Saya tidak hendak mengulas secara mendalam konsep pembangunan yang diusung selama satu tahun terakhir. Dalam pandangan saya, siapa pun kepala daerah yang memimpin Kota Sukabumi tetap terikat oleh aturan perundang-undangan dan kewajiban konstitusional untuk menyejahterakan masyarakat serta membawa kota ke arah yang lebih baik.

Terlepas dari jargon dan janji politik saat kampanye, tanggung jawab utama kepala daerah adalah memastikan pembangunan berjalan dan kesejahteraan masyarakat meningkat, bukan sebaliknya mengalami kemunduran.

Alih-alih membedah strategi teknokratis pemerintah, saya justru lebih menikmati sisi lain dari kegiatan refleksi tersebut, perjumpaan dengan orang-orang lama yang telah saya kenal dari berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.

Untuk ukuran Kota Sukabumi, wajah-wajah yang aktif dalam kegiatan sosial sejak saya mulai terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan cenderung itu-itu saja. Dalam setiap perhelatan pemerintah kota, sering muncul adagium setengah bercanda: “lu lagi, lu lagi.”

Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi relawan atau aktivis sosial memerlukan konsistensi dan keseriusan. Kaderisasi mungkin berjalan, tetapi relatif lambat.

Dua puluh tahun lalu saya kerap bertemu dengan para aktivis dan bahkan politisi yang sama. Dari era almarhum Muslikh Abussyukur hingga masa kepemimpinan Ayep Zaki hari ini, ruang-ruang sosial kemasyarakatan tampak masih didominasi oleh figur-figur lama.

Saya bisa saja menyebutnya sebagai “pemain lama.” Sementara generasi baru, generasi Y atau milenial, lebih banyak hadir sebagai pelapis dan penerus yang tetap fatsun kepada para seniornya.

Selama kurang lebih dua jam dalam suasana refleksi itu, saya lebih banyak bercengkerama dengan para aktivis yang telah lama bergelut di dunia sosial. Percakapan santai tersebut justru menghadirkan banyak informasi yang tidak tertulis dalam laporan resmi.

Dari obrolan ringan itu, saya menyerap berbagai kabar tentang dinamika pergerakan sosial, keresahan di akar rumput, hingga harapan masyarakat terhadap pemerintah saat ini.

Dalam suasana yang tidak terlalu formal dan jauh dari kekakuan birokrasi, informasi penting mengalir begitu saja. Tanpa biaya, tanpa jamuan khusus, namun sarat makna.

Refleksi satu tahun kepemimpinan itu, bagi saya, bukan sekadar panggung capaian kinerja, melainkan juga ruang perjumpaan sosial yang memperlihatkan kesinambungan aktor-aktor lama dalam denyut pembangunan kota.

###

Memasuki hari ketiga puasa, saya bersama rekan kerja menggelar buka bersama. Sebuah kebiasaan yang lumrah di bulan Ramadan, meskipun biasanya dilakukan mendekati Lebaran.

Sore itu, kemacetan terjadi di ruas-ruas jalan utama maupun jalan lingkungan yang dijadikan pusat jajanan takjil oleh panitia setempat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pusat jajanan takjil musiman semakin marak di hampir setiap kampung. Fenomena ini menandakan geliat ekonomi di level entitas terkecil menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan.

Menariknya, kemacetan bukan semata disebabkan oleh warga yang berburu takjil, melainkan oleh arus kendaraan yang melintasi kawasan pasar dadakan tersebut.

Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah, khususnya Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian (Diskumindag), untuk melakukan kajian dan penataan agar kegiatan ekonomi musiman ini lebih terstruktur.

Jalan utama Ciaul Pasir yang saya lalui pada Sabtu sore, 21 Februari 2026, benar-benar menjelma menjadi pasar tumpah yang padat oleh aktivitas dan transaksi ekonomi.

Sepintas, saya memperkirakan perputaran uang di satu lokasi kecil tersebut bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp30 juta per hari. Angka itu baru dari satu titik kegiatan.

Bayangkan jika dikalikan dengan puluhan titik pusat takjil di seluruh Kota Sukabumi. Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi rakyat secara nyata.

Refleksi satu tahun kepemimpinan dan geliat ekonomi Ramadan menghadirkan dua wajah pembangunan: satu yang formal dalam laporan kinerja, dan satu lagi yang hidup dalam percakapan warga serta aktivitas ekonomi sehari-hari.

Posting Komentar untuk "Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan dan Denyut Ekonomi Ramadan di Kota Sukabumi"