Pada tahun 2017, saya pernah menulis sebuah opini tentang gempa besar tahun 1699 sebagai akibat dari pergerakan Sesar Cimandiri. Dalam beberapa tulisan lain, saya juga menyinggung Lembursitu pada masa purba sebagai kawasan yang diduga merupakan danau luas. Karena bukan penelitian ilmiah, pandangan tersebut tentu hanya merupakan sintesis dari pengalaman lapangan, penuturan masyarakat, serta pembacaan atas sejumlah sumber yang tersedia.
Lima tahun kemudian, terjadi gempa besar yang guncangannya terasa hingga ke Kota Sukabumi. Peristiwa di Cianjur yang kemudian diketahui berkaitan dengan aktivitas Sesar Cugenang menjadi momentum penting. Dampak yang dahsyat, termasuk korban jiwa, mendorong para ahli geologi turun langsung ke lapangan meneliti hingga ke lapisan terdalam bumi.
Penulis buku yang akan saya ulas ini, Kang Sukahar Eka, bahkan sempat menghubungi saya terkait opini tentang Lembursitu yang pernah saya bahas sebelumnya. Dalam konteks itulah, bencana Cianjur dapat dibaca sebagai titik balik bagi para pemangku kepentingan untuk menata ulang cara manusia memahami dan menghadapi risiko kebencanaan, termasuk melalui edukasi berbasis buku dan media pengetahuan.
Memasuki Realitas yang Lama Tersembunyi
Membaca buku Sesar Cimandiri: Teror Gempa Tersembunyi, Memahami Potensi Sesar Aktif, Membangun Kesiapsiagaan karya Sukahar Eka Adi Saputra dan tim terasa seperti memasuki realitas yang selama ini terbungkus sunyi di bawah Sukabumi. Ia mengingatkan saya pada lautan luas, di permukaan hanya tampak riak gelombang, tetapi ketika diselami, terbuka bentang alam yang jauh lebih kompleks.
Buku ini tidak hanya menghadirkan pengetahuan geologi, tetapi juga membunyikan alarm kesadaran bahwa pembangunan wilayah selalu berjalan berdampingan dengan risiko kebumian. Kesadaran ini kerap tertutup oleh lapisan sosial-kultural yang tampak tenang dan lanskap hijau yang menenteramkan. Padahal, sesekali ketika sesar bergerak, ia mampu menghapus keceriaan permukaan dalam sekejap.
Dalam konteks Jawa Barat bagian selatan, terutama Kota Sukabumi, kehadiran buku ini menjadi strategis karena berhasil menjembatani dunia sains dengan kebutuhan praktis mitigasi bencana. Kita memang sering tidak menyadari bahwa ruang hidup kita berada dalam kerentanan. Pengingat dari para ahli kerap dianggap sambil lalu, padahal jika dijadikan fondasi berpikir, dampak kerugian bencana setidaknya dapat ditekan.
Sejak bagian awal, buku ini menegaskan bahwa keberadaan Sesar Cimandiri bukanlah ancaman imajiner. Ia adalah struktur aktif yang terus mengumpulkan energi. Penegasan ini penting karena selama bertahun-tahun diskursus tentang sesar lebih banyak beredar di ruang akademik dan belum sepenuhnya masuk ke kesadaran publik.
Dengan merujuk pada mandat mitigasi kebencanaan nasional, penulis menempatkan literasi geologi sebagai bagian dari fondasi keamanan pembangunan. Perspektif ini sangat relevan bagi kota berkembang seperti Sukabumi yang tengah menghadapi tekanan urbanisasi dan pertumbuhan permukiman.
Dari sisi akademik, buku ini memiliki fondasi teoretis yang kokoh. Penjelasan mengenai deformasi batuan, relastis, duktil, dan rapuh disusun sistematis dengan rujukan ilmiah yang kredibel. Pembaca diajak memahami bahwa gempa bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi proses panjang di dalam kerak bumi.
Namun pada titik ini pula terasa bahwa buku masih membawa “bahasa ruang kuliah”. Kepadatan terminologi geologi berpotensi menjadi hambatan bagi pembaca umum. Meski demikian, bagi kalangan teknis dan perencana wilayah, justru di sinilah kekuatan buku karena ia menyediakan kerangka analitis yang solid.
Kekuatan Buku
Kekuatan buku semakin tampak ketika memasuki pembahasan klasifikasi sesar. Para penulis tidak berhenti pada definisi, tetapi mengaitkannya dengan implikasi bahaya. Sesar normal, naik, geser, dan miring dijelaskan dengan alur logika yang mudah diikuti.
Pendekatan ini penting karena banyak literatur geologi berhenti pada deskripsi morfologi tanpa menjembatani ke mitigasi praktis. Dalam konteks perencanaan daerah, bagian ini layak menjadi bacaan wajib bagi perencana tata ruang dan pengembang kawasan.
Bagian paling strategis dari buku ini adalah pemetaan Sesar Cimandiri sebagai sesar geser miring yang mengikuti alur Sungai Cimandiri. Penjelasan bahwa struktur ini secara visual membelah Sukabumi menjadi blok utara dan selatan memberi gambaran spasial yang konkret bagi pembaca lokal.
Segmentasi yang mencakup Segmen Lembursitu menunjukkan kedalaman riset penulis. Dukungan teknologi InSAR/DInSAR mempertegas bahwa buku ini berdiri di atas metodologi mutakhir, bukan berisi kompilasi data lama semata. Bagi pembaca di Sukabumi, bagian ini terasa paling “membumi” sekaligus paling menggelisahkan.
Membaca Gempa 1699 dalam Perspektif Sosial-Kultural
Nilai penting buku ini tidak berhenti pada aspek teknis. Ketika membaca bagian sejarah kegempaan, terutama peristiwa 1699, terbuka ruang refleksi yang lebih luas. Buku mencatat gempa tersebut sebagai salah satu peristiwa merusak awal di wilayah Sukabumi, yang secara geologis menegaskan keaktifan Sesar Cimandiri sejak lama.
Namun dari sudut sosial-kultural, dampak peristiwa itu sebenarnya dapat ditafsirkan lebih dalam. Pada akhir abad ke-17, masyarakat Sunda selatan masih sangat agraris dan bergantung pada stabilitas alam. Gempa besar hampir pasti meninggalkan jejak kolektif, meskipun tidak seluruhnya tercatat dalam arsip kolonial.
Dalam tradisi Sunda, memori bencana sering mengendap dalam toponimi, cerita lisan, dan mitos lokal. Nama Lembursitu, yang berarti “kampung danau”, menjadi petunjuk penting adanya memori ekologis masa lalu. Di sinilah buku sebenarnya membuka pintu, meski belum sepenuhnya masuk ke ruang antropologis.
Jika ditarik lebih jauh, gempa besar 1699 kemungkinan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga konfigurasi sosial masyarakat di kawasan yang kini dikenal sebagai Lembursitu. Bila benar wilayah ini pernah memiliki cekungan danau yang kemudian mengalami perubahan akibat aktivitas tektonik, maka transformasi ekologis tersebut hampir pasti diikuti perubahan pola hidup.
Masyarakat yang semula mungkin memanfaatkan sumber daya perairan berangsur menyesuaikan diri dengan lanskap daratan baru. Pola permukiman bisa bergeser, struktur ekonomi berubah, bahkan kosmologi lokal ikut beradaptasi. Dalam banyak komunitas Sunda, perubahan lanskap kerap melahirkan narasi baru tentang ruang dan keselamatan.
Sayangnya, dimensi antropologis ini belum digarap mendalam dalam buku. Padahal, pengayaan perspektif sosial-kultural akan sangat membantu menjembatani sains kebumian dengan kesadaran masyarakat akar rumput.
Dalam konteks kekinian, Lembursitu telah berkembang menjadi kawasan permukiman padat. Di sinilah paradoks modernitas muncul, urbanisasi berlangsung cepat di atas wilayah yang secara geologis dinamis. Memori kolektif tentang risiko gempa cenderung memudar, sementara tekanan pembangunan terus meningkat. Buku ini sebenarnya telah membuka pintu kesadaran, tetapi belum sepenuhnya menjembatani data geologi dengan realitas sosial perkotaan hari ini.
Kekurangan Buku
Secara konstruktif, terdapat beberapa catatan yang patut diperhatikan. Bahasa teknis yang cukup padat membuat buku berpotensi lebih banyak diakses kalangan terbatas. Visualisasi data, terutama peta InSAR, meskipun canggih, belum sepenuhnya ramah bagi masyarakat awam.
Selain itu, penyebutan gempa 1699 sebagai peristiwa penting belum diikuti rekonstruksi dampak sosial-ekonomi yang lebih hidup. Padahal, narasi historis yang kuat justru dapat menjadi jembatan efektif antara sains dan kesadaran publik. Di sisi lain, tawaran pendekatan pentahelix sudah tepat, tetapi masih dominan pada tataran konseptual. Panduan operasional yang sangat membumi, misalnya retrofit rumah sederhana atau komunikasi risiko berbasis budaya lokal masih bisa diperdalam.
Menumbuhkan Kesadaran Kolektif
Meski memiliki sejumlah keterbatasan, buku ini tetap merupakan kontribusi penting bagi literasi kebencanaan di Jawa Barat. Ia berhasil menegaskan bahwa ancaman gempa di Sukabumi bukan spekulasi, melainkan realitas geologi yang terukur.
Bagi pengambil kebijakan, buku ini adalah peringatan dini yang serius. Bagi akademisi, ia menyediakan fondasi riset lanjutan. Dan bagi masyarakat Sukabumi terutama yang berada di kawasan seperti Lembursitu, buku ini menjadi pengingat bahwa kehidupan modern tetap berdiri di atas bumi yang terus bergerak.
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya membuka fakta yang lama sunyi. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi sosial yang nyata. Sebab di wilayah rawan sesar, kesadaran kolektif adalah benteng pertama keselamatan. Pengetahuan geologi hanya akan bermakna ketika ia hidup dalam kebijakan, tata ruang, dan perilaku masyarakat sehari-hari.
Dimuat Sukabumisatu.Com
Identitas Buku:
Lima tahun kemudian, terjadi gempa besar yang guncangannya terasa hingga ke Kota Sukabumi. Peristiwa di Cianjur yang kemudian diketahui berkaitan dengan aktivitas Sesar Cugenang menjadi momentum penting. Dampak yang dahsyat, termasuk korban jiwa, mendorong para ahli geologi turun langsung ke lapangan meneliti hingga ke lapisan terdalam bumi.
Penulis buku yang akan saya ulas ini, Kang Sukahar Eka, bahkan sempat menghubungi saya terkait opini tentang Lembursitu yang pernah saya bahas sebelumnya. Dalam konteks itulah, bencana Cianjur dapat dibaca sebagai titik balik bagi para pemangku kepentingan untuk menata ulang cara manusia memahami dan menghadapi risiko kebencanaan, termasuk melalui edukasi berbasis buku dan media pengetahuan.
Memasuki Realitas yang Lama Tersembunyi
Membaca buku Sesar Cimandiri: Teror Gempa Tersembunyi, Memahami Potensi Sesar Aktif, Membangun Kesiapsiagaan karya Sukahar Eka Adi Saputra dan tim terasa seperti memasuki realitas yang selama ini terbungkus sunyi di bawah Sukabumi. Ia mengingatkan saya pada lautan luas, di permukaan hanya tampak riak gelombang, tetapi ketika diselami, terbuka bentang alam yang jauh lebih kompleks.
Buku ini tidak hanya menghadirkan pengetahuan geologi, tetapi juga membunyikan alarm kesadaran bahwa pembangunan wilayah selalu berjalan berdampingan dengan risiko kebumian. Kesadaran ini kerap tertutup oleh lapisan sosial-kultural yang tampak tenang dan lanskap hijau yang menenteramkan. Padahal, sesekali ketika sesar bergerak, ia mampu menghapus keceriaan permukaan dalam sekejap.
Dalam konteks Jawa Barat bagian selatan, terutama Kota Sukabumi, kehadiran buku ini menjadi strategis karena berhasil menjembatani dunia sains dengan kebutuhan praktis mitigasi bencana. Kita memang sering tidak menyadari bahwa ruang hidup kita berada dalam kerentanan. Pengingat dari para ahli kerap dianggap sambil lalu, padahal jika dijadikan fondasi berpikir, dampak kerugian bencana setidaknya dapat ditekan.
Sejak bagian awal, buku ini menegaskan bahwa keberadaan Sesar Cimandiri bukanlah ancaman imajiner. Ia adalah struktur aktif yang terus mengumpulkan energi. Penegasan ini penting karena selama bertahun-tahun diskursus tentang sesar lebih banyak beredar di ruang akademik dan belum sepenuhnya masuk ke kesadaran publik.
Dengan merujuk pada mandat mitigasi kebencanaan nasional, penulis menempatkan literasi geologi sebagai bagian dari fondasi keamanan pembangunan. Perspektif ini sangat relevan bagi kota berkembang seperti Sukabumi yang tengah menghadapi tekanan urbanisasi dan pertumbuhan permukiman.
Dari sisi akademik, buku ini memiliki fondasi teoretis yang kokoh. Penjelasan mengenai deformasi batuan, relastis, duktil, dan rapuh disusun sistematis dengan rujukan ilmiah yang kredibel. Pembaca diajak memahami bahwa gempa bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi proses panjang di dalam kerak bumi.
Namun pada titik ini pula terasa bahwa buku masih membawa “bahasa ruang kuliah”. Kepadatan terminologi geologi berpotensi menjadi hambatan bagi pembaca umum. Meski demikian, bagi kalangan teknis dan perencana wilayah, justru di sinilah kekuatan buku karena ia menyediakan kerangka analitis yang solid.
Kekuatan Buku
Kekuatan buku semakin tampak ketika memasuki pembahasan klasifikasi sesar. Para penulis tidak berhenti pada definisi, tetapi mengaitkannya dengan implikasi bahaya. Sesar normal, naik, geser, dan miring dijelaskan dengan alur logika yang mudah diikuti.
Pendekatan ini penting karena banyak literatur geologi berhenti pada deskripsi morfologi tanpa menjembatani ke mitigasi praktis. Dalam konteks perencanaan daerah, bagian ini layak menjadi bacaan wajib bagi perencana tata ruang dan pengembang kawasan.
Bagian paling strategis dari buku ini adalah pemetaan Sesar Cimandiri sebagai sesar geser miring yang mengikuti alur Sungai Cimandiri. Penjelasan bahwa struktur ini secara visual membelah Sukabumi menjadi blok utara dan selatan memberi gambaran spasial yang konkret bagi pembaca lokal.
Segmentasi yang mencakup Segmen Lembursitu menunjukkan kedalaman riset penulis. Dukungan teknologi InSAR/DInSAR mempertegas bahwa buku ini berdiri di atas metodologi mutakhir, bukan berisi kompilasi data lama semata. Bagi pembaca di Sukabumi, bagian ini terasa paling “membumi” sekaligus paling menggelisahkan.
Membaca Gempa 1699 dalam Perspektif Sosial-Kultural
Nilai penting buku ini tidak berhenti pada aspek teknis. Ketika membaca bagian sejarah kegempaan, terutama peristiwa 1699, terbuka ruang refleksi yang lebih luas. Buku mencatat gempa tersebut sebagai salah satu peristiwa merusak awal di wilayah Sukabumi, yang secara geologis menegaskan keaktifan Sesar Cimandiri sejak lama.
Namun dari sudut sosial-kultural, dampak peristiwa itu sebenarnya dapat ditafsirkan lebih dalam. Pada akhir abad ke-17, masyarakat Sunda selatan masih sangat agraris dan bergantung pada stabilitas alam. Gempa besar hampir pasti meninggalkan jejak kolektif, meskipun tidak seluruhnya tercatat dalam arsip kolonial.
Dalam tradisi Sunda, memori bencana sering mengendap dalam toponimi, cerita lisan, dan mitos lokal. Nama Lembursitu, yang berarti “kampung danau”, menjadi petunjuk penting adanya memori ekologis masa lalu. Di sinilah buku sebenarnya membuka pintu, meski belum sepenuhnya masuk ke ruang antropologis.
Jika ditarik lebih jauh, gempa besar 1699 kemungkinan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga konfigurasi sosial masyarakat di kawasan yang kini dikenal sebagai Lembursitu. Bila benar wilayah ini pernah memiliki cekungan danau yang kemudian mengalami perubahan akibat aktivitas tektonik, maka transformasi ekologis tersebut hampir pasti diikuti perubahan pola hidup.
Masyarakat yang semula mungkin memanfaatkan sumber daya perairan berangsur menyesuaikan diri dengan lanskap daratan baru. Pola permukiman bisa bergeser, struktur ekonomi berubah, bahkan kosmologi lokal ikut beradaptasi. Dalam banyak komunitas Sunda, perubahan lanskap kerap melahirkan narasi baru tentang ruang dan keselamatan.
Sayangnya, dimensi antropologis ini belum digarap mendalam dalam buku. Padahal, pengayaan perspektif sosial-kultural akan sangat membantu menjembatani sains kebumian dengan kesadaran masyarakat akar rumput.
Dalam konteks kekinian, Lembursitu telah berkembang menjadi kawasan permukiman padat. Di sinilah paradoks modernitas muncul, urbanisasi berlangsung cepat di atas wilayah yang secara geologis dinamis. Memori kolektif tentang risiko gempa cenderung memudar, sementara tekanan pembangunan terus meningkat. Buku ini sebenarnya telah membuka pintu kesadaran, tetapi belum sepenuhnya menjembatani data geologi dengan realitas sosial perkotaan hari ini.
Kekurangan Buku
Secara konstruktif, terdapat beberapa catatan yang patut diperhatikan. Bahasa teknis yang cukup padat membuat buku berpotensi lebih banyak diakses kalangan terbatas. Visualisasi data, terutama peta InSAR, meskipun canggih, belum sepenuhnya ramah bagi masyarakat awam.
Selain itu, penyebutan gempa 1699 sebagai peristiwa penting belum diikuti rekonstruksi dampak sosial-ekonomi yang lebih hidup. Padahal, narasi historis yang kuat justru dapat menjadi jembatan efektif antara sains dan kesadaran publik. Di sisi lain, tawaran pendekatan pentahelix sudah tepat, tetapi masih dominan pada tataran konseptual. Panduan operasional yang sangat membumi, misalnya retrofit rumah sederhana atau komunikasi risiko berbasis budaya lokal masih bisa diperdalam.
Menumbuhkan Kesadaran Kolektif
Meski memiliki sejumlah keterbatasan, buku ini tetap merupakan kontribusi penting bagi literasi kebencanaan di Jawa Barat. Ia berhasil menegaskan bahwa ancaman gempa di Sukabumi bukan spekulasi, melainkan realitas geologi yang terukur.
Bagi pengambil kebijakan, buku ini adalah peringatan dini yang serius. Bagi akademisi, ia menyediakan fondasi riset lanjutan. Dan bagi masyarakat Sukabumi terutama yang berada di kawasan seperti Lembursitu, buku ini menjadi pengingat bahwa kehidupan modern tetap berdiri di atas bumi yang terus bergerak.
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya membuka fakta yang lama sunyi. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi sosial yang nyata. Sebab di wilayah rawan sesar, kesadaran kolektif adalah benteng pertama keselamatan. Pengetahuan geologi hanya akan bermakna ketika ia hidup dalam kebijakan, tata ruang, dan perilaku masyarakat sehari-hari.
Dimuat Sukabumisatu.Com
Identitas Buku:


Posting Komentar untuk "Membaca Ulang “Teror yang Sunyi”, Review atas Buku Sesar Cimandiri: Teror Gempa Tersembunyi"