Perubahan Marcapada dan Mayapada

Sampai tiga dekade lalu, definisi marcapada dan mayapada masih ditafsirkan secara harfiah sebagai dunia yang kita tinggali saat ini dan dunia kahyangan yang hanya mampir dicerna oleh alam pikir manusia. Penafsiran yang lugas ini menjadi alasan kedua dunia tersebut dipisahkan oleh jarak yang sangat renggang: dunia nyata dan dunia maya, dunia realitas dan dunia nirrealitas.

Dunia realitas hingga tiga dekade lalu, terutama di wilayah rural perdesaan, adalah dunia yang lekat dengan bentang alam perdesaan. Hamparan persawahan, vegetasi yang melimpah, air bersih yang mengalir di selokan, pola permukiman yang mengelompok, serta kehidupan masyarakat yang memperlihatkan kuatnya nilai-nilai paguyuban menjadi wajah marcapada yang begitu akrab. Alam bukan ruang hidup semata, melainkan bagian dari identitas manusia. Orang mengenali dirinya melalui tanah yang dipijak, sawah yang digarap, dan tetangga yang setiap hari disapa.

Sementara itu, dunia maya bukan seperti yang kita kenal sekarang. Dunia maya adalah dunia atas, alam immaterial yang identik dengan dunia kahyangan. Alam ini lahir sejak revolusi kognitif ketika cara berpikir manusia mulai menyentuh ranah gagasan. Alam para dewa di Olympus berkembang di Yunani sebelum lahirnya logos. Di Tatar Sunda pun berkembang konsep yang serupa, meskipun dengan nama dan kisah yang berbeda. Manusia selalu merasa bahwa kehidupan tidak hanya terdiri atas apa yang dapat disentuh, melainkan juga apa yang dapat dipercaya dan dibayangkan.

Jarak kedua dunia itu seolah sangat jauh, padahal keduanya dibangun oleh kesadaran manusia sendiri. Orang Sunda mengenal sandekala sebagai waktu yang harus dihormati. Larangan anak-anak bermain menjelang malam tidak semata-mata dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan menjadi cara masyarakat menjaga keteraturan hidup. Ketika logos berkembang, penjelasan mitologis perlahan bergeser menjadi penjelasan rasional. Yang semula diterangkan melalui kisah makhluk halus kemudian dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, kesehatan, dan psikologi.

Perubahan itu menunjukkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar meninggalkan mayapada. Yang berubah hanyalah cara memaknainya. Mitos berganti teori, dewa berganti konsep, kahyangan berganti jaringan digital. Hakikatnya tetap sama: manusia selalu membutuhkan ruang yang melampaui kenyataan yang dapat disentuh oleh pancaindra.

Dalam sejarah filsafat, Plato pernah menggambarkan manusia sebagai penghuni gua yang mengira bayang-bayang sebagai kenyataan. Kisah itu sering dipahami sebagai alegori tentang pencarian kebenaran. Bayangan bukanlah kenyataan, tetapi manusia kerap merasa cukup hidup di dalamnya. Anehnya, setelah lebih dari dua ribu tahun berlalu, alegori itu justru menemukan bentuknya yang paling nyata pada abad digital. Layar telepon genggam menjadi dinding gua baru, sementara arus informasi memproyeksikan bayangan yang terus bergerak tanpa henti.

Barangkali kita tidak lagi hidup dalam dua dunia yang terpisah. Marcapada dan mayapada kini saling menembus. Pertemuan keluarga ditentukan oleh pesan di aplikasi percakapan. Persahabatan lahir melalui media sosial. Pertengkaran politik meledak di ruang digital, tetapi dampaknya terasa di jalanan. Dunia maya tidak lagi mencerminkan kenyataan; ia ikut membentuk kenyataan itu sendiri.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Dahulu manusia takut kepada makhluk yang diyakini berdiam di hutan, sungai, atau tempat-tempat sunyi. Kini rasa takut berpindah ke ruang yang tidak memiliki batas geografis. Fitnah dapat datang dari akun anonim. Kebencian menyebar tanpa mengenal wajah. Seseorang dapat dihakimi oleh jutaan orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Mayapada melahirkan makhluk-makhluk baru yang tidak lagi bertubuh, tetapi memiliki daya rusak yang jauh lebih besar daripada cerita-cerita hantu dalam masyarakat tradisional.

Martin Heidegger pernah mengingatkan bahwa teknologi tidak pernah benar-benar netral. Teknologi mengubah cara manusia memandang dunia. Ketika segala sesuatu dinilai berdasarkan kecepatan, efisiensi, dan jumlah perhatian yang diperoleh, manusia perlahan kehilangan kebiasaan untuk berhenti dan merenung. Semua harus segera direspons, segera dinilai, segera dibagikan. Yang lambat dianggap tertinggal, padahal hampir semua kebijaksanaan lahir dari kesediaan untuk memperlambat diri.

Barangkali itu sebabnya kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan peradaban. Pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak otomatis mengikutinya. Informasi melimpah, tetapi kemampuan membedakan yang benar dan yang salah justru semakin diuji. Manusia berhasil menciptakan mesin yang mampu berpikir, sementara dirinya sendiri semakin jarang menggunakan pikirannya secara mendalam.

Dalam pandangan masyarakat Sunda, kehidupan yang baik selalu bertumpu pada keseimbangan. Silih asih, silih asah, dan silih asuh adalah cara menjaga hubungan antarmanusia agar tidak tercerabut dari kemanusiaannya. Nilai itu dahulu dipraktikkan di balai kampung, di saung, di sawah, dan di ruang-ruang perjumpaan. Kini, nilai yang sama ditantang untuk hidup di ruang digital yang nyaris tidak mengenal batas dan tidak pernah benar-benar tidur.

Marcapada telah berubah. Bentang alamnya berganti, ritme hidupnya dipercepat, dan hubungan antarmanusia tidak lagi bergantung pada kedekatan ruang. Mayapada pun mengalami perubahan yang jauh lebih besar. Ia tidak lagi menjadi wilayah mitos, melainkan ruang tempat manusia membangun citra, mempertaruhkan harga diri, mencari pengakuan, bahkan menyusun masa depannya.

Mungkin persoalan terbesar abad ini bukanlah apakah manusia mampu menciptakan teknologi yang lebih canggih. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah manusia masih sanggup mengendalikan dirinya sendiri ketika teknologi telah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Selama manusia masih mampu membedakan antara kebenaran dan popularitas, antara kebijaksanaan dan sensasi, antara pengetahuan dan sekadar informasi, marcapada dan mayapada akan tetap menjadi dua ruang yang saling menguatkan. Namun, ketika batas itu lenyap, yang hilang bukan hanya kenyataan, melainkan juga kemanusiaan itu sendiri.

Posting Komentar untuk "Perubahan Marcapada dan Mayapada"