Kibitay merupakan sebuah kampung di wilayah selatan Lembursitu yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi. Pada era 1990-an, wilayah ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Sukabumi. Secara etimologis, nama Kibitay diyakini berasal dari kata Kempetai, yaitu polisi militer Jepang pada masa pendudukan. Dalam pelafalan masyarakat Sunda, kata Kempetai lambat laun berubah menjadi Kibitay karena lebih mudah diucapkan. Hingga kini, kawasan yang masih dipenuhi pepohonan rindang tersebut tetap dikenal dengan nama Kibitay.
Sebagai bagian dari Kecamatan Baros pada masa itu, Lapang Kibitay menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat, terutama olahraga, kegiatan sekolah, dan kepramukaan. Lapangan yang cukup luas itu hampir setiap tahun dimanfaatkan sekolah-sekolah dasar di bawah Sub-rayon Baros sebagai lokasi perkemahan menjelang Hari Pramuka pada bulan Agustus. Seluruh sekolah dasar di Kecamatan Baros mengirimkan regu terbaiknya untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Perkemahan biasanya berlangsung pada 12–14 Agustus sebagai bagian dari peringatan Hari Pramuka. Tenda-tenda didirikan secara mandiri oleh para peserta dengan arahan sederhana dari para pembina. Semangat gotong royong begitu terasa. Para siswa memahami bahwa mendirikan tenda bukanlah pekerjaan yang dilakukan sendiri, melainkan hasil kerja sama seluruh anggota regu. Para pembina hanya mengawasi dan memberikan petunjuk seperlunya tanpa harus turun tangan secara langsung.
Setelah seluruh tenda berdiri, para peserta beristirahat sebelum mengikuti apel pembukaan pada sore harinya. Dalam dunia kepramukaan, para pembina akrab disapa "kakak". Mereka terdiri atas guru-guru yang aktif membina Pramuka serta pengurus Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Baros. Petugas upacara umumnya berasal dari Pramuka Penggalang SMP Negeri Baros, yang kini bernama SMP Negeri 13 Kota Sukabumi. Selama tiga hari perkemahan, mereka bertugas mengatur jalannya berbagai kegiatan kepanduan.
Lapang Kibitay juga menyimpan jejak sejarah. Di bagian depan lapangan, tepat di tepi jalan dekat SDN Kibitay, terdapat sebuah goa peninggalan Jepang. Masyarakat setempat meyakini goa tersebut dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata pada masa pendudukan Jepang di Sukabumi. Namun, karena tidak terawat dan kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis, goa itu lambat laun dijauhi dan diabaikan. Mulut goa dipenuhi rumput liar sehingga semakin memperkuat kesan angker. Berbagai cerita tentang penampakan maupun kesurupan turut berkembang di tengah masyarakat, meskipun semuanya hidup sebagai bagian dari cerita tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sebelah barat Lapang Kibitay juga masih terdapat sisa fondasi bangunan peninggalan Jepang. Meskipun sebagian besar telah tertutup rerumputan, jejak konstruksi tersebut masih dapat dikenali hingga sekarang. Fondasi itu diduga bukan hanya bagian dari bangunan, tetapi juga berfungsi sebagai talud penahan tanah agar kawasan lapangan yang berada di dataran lebih tinggi tidak mengalami longsor ke bantaran Sungai Cimandiri.
Pada masa itu, jalan dari Perempatan Bojongloa menuju Kibitay masih berupa jalan berbatu dan belum beraspal. Kondisi tersebut justru menambah keseruan kegiatan Pramuka, terutama saat karnaval. Pada hari kedua atau ketiga perkemahan, para peserta selalu mengikuti pawai keliling kampung dengan mengenakan kostum sekreatif mungkin. Wajah dicoret-coret, mengenakan sarung atau pakaian seadanya menjadi pemandangan yang biasa. Karnaval menempuh rute Lapang Kibitay, Tegal Jambu, Pertigaan Santiong, Pangkalan Kulon, Jeruk Nyelap, Cipanengah Hilir, Bojongloa, kemudian kembali lagi ke Lapang Kibitay. Kehadiran para peserta menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.
Di sekitar lapangan juga terdapat MCK umum yang dikenal dengan nama Ci-Ibu. Airnya sangat jernih karena berasal dari mata air alami. Agar tidak mengantre panjang, para peserta biasanya bangun sebelum subuh untuk mandi. Bagi peserta putra, mandi bersama menjadi hal yang lumrah demi menghemat waktu. Sementara itu, jika terlambat, sebagian memilih mandi di Sungai Cimandiri yang mengalir tidak jauh dari lokasi perkemahan.
Selain menjadi lokasi kegiatan Pramuka, Lapang Kibitay juga menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat, terutama sepak bola. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lapangan ini rutin menjadi arena turnamen antarkampung yang diikuti tim-tim dari sekitar Kibitay maupun wilayah Kabupaten Sukabumi yang berbatasan langsung. Pertandingan final hampir selalu berlangsung dengan tensi tinggi. Sorak-sorai penonton sering berubah menjadi saling ejek antarsuporter yang kemudian memengaruhi panasnya pertandingan. Tidak jarang keributan terjadi setelah pertandingan usai. Meski demikian, perkelahian pada masa itu umumnya berlangsung dengan tangan kosong tanpa melibatkan senjata tajam.
Waktu terus berjalan. Kibitay mungkin telah mengalami banyak perubahan, tetapi jejak kenangan yang ditinggalkannya tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Lapang Kibitay masih berdiri, begitu pula sebagian vegetasi yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. Walaupun beberapa lanskap alam telah berubah mengikuti perkembangan zaman, bagi generasi X dan Y, Kibitay tetap menjadi ruang memori yang menyimpan kisah masa kecil, persahabatan, semangat gotong royong, dan pengalaman yang sesekali kembali hadir, menghadirkan senyum tipis setiap kali namanya disebut.
Sebagai bagian dari Kecamatan Baros pada masa itu, Lapang Kibitay menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat, terutama olahraga, kegiatan sekolah, dan kepramukaan. Lapangan yang cukup luas itu hampir setiap tahun dimanfaatkan sekolah-sekolah dasar di bawah Sub-rayon Baros sebagai lokasi perkemahan menjelang Hari Pramuka pada bulan Agustus. Seluruh sekolah dasar di Kecamatan Baros mengirimkan regu terbaiknya untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Perkemahan biasanya berlangsung pada 12–14 Agustus sebagai bagian dari peringatan Hari Pramuka. Tenda-tenda didirikan secara mandiri oleh para peserta dengan arahan sederhana dari para pembina. Semangat gotong royong begitu terasa. Para siswa memahami bahwa mendirikan tenda bukanlah pekerjaan yang dilakukan sendiri, melainkan hasil kerja sama seluruh anggota regu. Para pembina hanya mengawasi dan memberikan petunjuk seperlunya tanpa harus turun tangan secara langsung.
Setelah seluruh tenda berdiri, para peserta beristirahat sebelum mengikuti apel pembukaan pada sore harinya. Dalam dunia kepramukaan, para pembina akrab disapa "kakak". Mereka terdiri atas guru-guru yang aktif membina Pramuka serta pengurus Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Baros. Petugas upacara umumnya berasal dari Pramuka Penggalang SMP Negeri Baros, yang kini bernama SMP Negeri 13 Kota Sukabumi. Selama tiga hari perkemahan, mereka bertugas mengatur jalannya berbagai kegiatan kepanduan.
Lapang Kibitay juga menyimpan jejak sejarah. Di bagian depan lapangan, tepat di tepi jalan dekat SDN Kibitay, terdapat sebuah goa peninggalan Jepang. Masyarakat setempat meyakini goa tersebut dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata pada masa pendudukan Jepang di Sukabumi. Namun, karena tidak terawat dan kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis, goa itu lambat laun dijauhi dan diabaikan. Mulut goa dipenuhi rumput liar sehingga semakin memperkuat kesan angker. Berbagai cerita tentang penampakan maupun kesurupan turut berkembang di tengah masyarakat, meskipun semuanya hidup sebagai bagian dari cerita tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sebelah barat Lapang Kibitay juga masih terdapat sisa fondasi bangunan peninggalan Jepang. Meskipun sebagian besar telah tertutup rerumputan, jejak konstruksi tersebut masih dapat dikenali hingga sekarang. Fondasi itu diduga bukan hanya bagian dari bangunan, tetapi juga berfungsi sebagai talud penahan tanah agar kawasan lapangan yang berada di dataran lebih tinggi tidak mengalami longsor ke bantaran Sungai Cimandiri.
Pada masa itu, jalan dari Perempatan Bojongloa menuju Kibitay masih berupa jalan berbatu dan belum beraspal. Kondisi tersebut justru menambah keseruan kegiatan Pramuka, terutama saat karnaval. Pada hari kedua atau ketiga perkemahan, para peserta selalu mengikuti pawai keliling kampung dengan mengenakan kostum sekreatif mungkin. Wajah dicoret-coret, mengenakan sarung atau pakaian seadanya menjadi pemandangan yang biasa. Karnaval menempuh rute Lapang Kibitay, Tegal Jambu, Pertigaan Santiong, Pangkalan Kulon, Jeruk Nyelap, Cipanengah Hilir, Bojongloa, kemudian kembali lagi ke Lapang Kibitay. Kehadiran para peserta menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.
Di sekitar lapangan juga terdapat MCK umum yang dikenal dengan nama Ci-Ibu. Airnya sangat jernih karena berasal dari mata air alami. Agar tidak mengantre panjang, para peserta biasanya bangun sebelum subuh untuk mandi. Bagi peserta putra, mandi bersama menjadi hal yang lumrah demi menghemat waktu. Sementara itu, jika terlambat, sebagian memilih mandi di Sungai Cimandiri yang mengalir tidak jauh dari lokasi perkemahan.
Selain menjadi lokasi kegiatan Pramuka, Lapang Kibitay juga menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat, terutama sepak bola. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lapangan ini rutin menjadi arena turnamen antarkampung yang diikuti tim-tim dari sekitar Kibitay maupun wilayah Kabupaten Sukabumi yang berbatasan langsung. Pertandingan final hampir selalu berlangsung dengan tensi tinggi. Sorak-sorai penonton sering berubah menjadi saling ejek antarsuporter yang kemudian memengaruhi panasnya pertandingan. Tidak jarang keributan terjadi setelah pertandingan usai. Meski demikian, perkelahian pada masa itu umumnya berlangsung dengan tangan kosong tanpa melibatkan senjata tajam.
Waktu terus berjalan. Kibitay mungkin telah mengalami banyak perubahan, tetapi jejak kenangan yang ditinggalkannya tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Lapang Kibitay masih berdiri, begitu pula sebagian vegetasi yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. Walaupun beberapa lanskap alam telah berubah mengikuti perkembangan zaman, bagi generasi X dan Y, Kibitay tetap menjadi ruang memori yang menyimpan kisah masa kecil, persahabatan, semangat gotong royong, dan pengalaman yang sesekali kembali hadir, menghadirkan senyum tipis setiap kali namanya disebut.

Posting Komentar untuk "Sepanjang Jalan Kenangan: Kibitay"