Saya Membaca, Maka Saya Merasa Tidak Ada (Mumkinul Wujud)

Hari ini saya meliput Musyawarah Kerja Daerah dan Halalbihalal MUI Kota Sukabumi yang digelar di Pusat Kajian Islam. Gedung ini menyimpan kenangan kolektif bagi saya dan umat Islam di kota ini.

Dulu, tahun 1998, menjelang lulus SMA, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan kajian Islam ini untuk membaca dan meminjam buku-buku keislaman. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan rural perdesaan, tempat inilah yang membuka wawasan saya tentang berbagai pemikiran Islam, mulai dari tradisional hingga kontemporer.

Di rak-rak buku Pusat Kajian Islam itulah saya pertama kali berkenalan dengan pemikir-pemikir besar, dari Al-Biruni hingga Ali Syariati. Kebiasaan saya saat itu adalah merangkum setiap buku yang dibaca dengan mencatat poin-poin penting di buku catatan khusus. Proses ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga melatih saya untuk berpikir kritis terhadap setiap teks yang dibaca.

Minat baca saya sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil, menjelang usia 4 tahun saya sudah mampu mengeja Quran, alfabet, dan membaca koran PR. Tentu saja, saya belum memahami apa yang saya baca saat itu.

Kemudian, saat duduk di bangku SMP, saya termasuk anak yang tidak membatasi diri pada satu jenis literatur saja. Bahkan, di kelas 5 SD, saya pernah diberi pinjam dua versi Alkitab : Perjanjian Lama dan Baru serta Injil Barnabas, oleh seorang ajengan. Meski tentu saja dua literatur ini sangat sedikit dibandingkan koleksi manuskrip yang tersimpan di Vatikan.

Di bangku SMP itu juga, minat baca saya semakin meluas. Saya mulai membaca karya-karya filosofis seperti "Thus Spoke Zarathustra" karya Nietzsche, meski harus diakui saat itu lebih banyak terpikat oleh petualangan Winnetou karya Karl May. Bacaan harian wajib saya adalah ensiklopedia, sementara kisah-kisah inspiratif tentang orang sukses dan penemu menjadi santapan rutin.

Kebiasaan membaca ini seolah mengalir dalam darah saya. Sejak kecil, setiap melihat koran bekas, majalah usang, atau bahkan sobekan kertas berisi tulisan, saya selalu mengambilnya untuk dibaca. Uniknya, setelah membaca, saya sering menuliskan ulang isinya dengan jari di udara, membentuk aksara Latin bersambung yang hanya bisa saya rasakan.

Sebagai muslim, saya selalu memandang perintah "Iqra" (bacalah) dalam wahyu pertama sebagai sesuatu yang sangat personal. Perintah ini saya tafsirkan sebagai kewajiban individu yang tidak harus terlembagakan. Setiap orang bebas menafsirkan makna "membaca" secara luas, termasuk membaca tanda-tanda alam maupun "membaca" diri sendiri.

Kitab diri manusia ini menyimpan banyak algoritma dan rumus kehidupan yang harus kita pecahkan secara mandiri. Proses membaca diri ini penting untuk memahami hakikat keberadaan kita. Apakah kita benar-benar ada sebagaimana yang kita rasakan, ataukah, seperti dalam teori fisika kontemporer, kita hanyalah proyeksi hologram semata?

Ketidaksadaran kita lah yang sering membuat kita menganggap diri sebagai entitas fisik yang pasti (maujud). Padahal dalam konsep filsafat Islam, kita adalah "mumkinul wujud" , makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin, bisa saja kita hanya bayangan dari Wujud Mutlak (wajibul wujud). Pemikiran semacam inilah yang sering muncul setelah membaca berbagai literatur di Pusat Kajian Islam dulu.

Posting Komentar untuk "Saya Membaca, Maka Saya Merasa Tidak Ada (Mumkinul Wujud)"