Sekecil apa pun momentum, selalu tak luput dari jepretan seorang juru kamera. Dunia dokumentasi adalah dunia yang penuh kepekaan, karena tak semua orang bisa melihat sesuatu sebagai "layak dokumentasi", kecuali mereka yang memang terbiasa memandang dunia dari balik lensa.
Di lingkup Pemerintah Kota Sukabumi, khususnya di lingkungan Pimpinan Setda, dokumentasi bukan sekadar pelengkap acara. Kami memiliki tenaga profesional yang sehari-harinya bertugas sebagai tukang potret dan tukang video.
Namun, untuk menunjukkan kehormatan profesi ini di era teknologi, saya lebih senang menyebut mereka sebagai photografer dan videografer. Sebab, dalam pekerjaan ini benar-benar harus dilengkapi kemampuan menangkap makna, menyimpan sejarah, dan menyusun narasi visual bagi generasi yang akan datang.
Hari ini, saya ditugaskan meliput kegiatan pengerukan Sungai Cisuda. Sungai ini sudah lama dipandang mengalami pendangkalan, sehingga harus segera dinormalisasi. Panjang sungai yang harus dikeruk dalam waktu dua minggu ini sekitar satu kilometer.
Pengerukan tidak mungkin hanya mengandalkan tenaga manusia, dibutuhkan alat berat seperti escavator (yang dalam bahasa lokal akrab disebut “beko”) untuk mengangkat endapan dari dasar sungai yang telah menumpuk bertahun-tahun.
Saya berdiri di atas jembatan, sementara Kang Desol dan Kang Ikbal, dua rekan sejawat dalam dokumentasi berdiri di tepi sungai. Mereka tidak hanya memotret alat berat, tapi mencoba menangkap nuansa, pergerakan, dan kesan.
Saya lihat, tak jarang mereka menunggu momen saat beko menyendok lumpur, dan air memercik. Karena bagi mereka, momentum itu sesuatu yang hidup, dan kamera adalah saksi bisu yang menyimpannya untuk masa depan.
Kegiatan pengerukan sungai ini terpantau langsung oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi. Maka, semua unsur, dari tingkat kota hingga RT dan RW, turut hadir dan terlibat. Pengerukan sungai ini bentuk nyata dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi.
Tiga tahun lalu, banjir di kampung Tugu sempat merenggut nyawa. Maka, normalisasi sungai ini punya makna penting bagi keselamatan warga.
Saya sempat tersenyum ketika melihat rekan di Kelurahan, sambil berbisik, “Lihat itu, pak. Beko saja dipotret.” Kami tertawa kecil. Sekilas memang terdengar lucu, seolah-olah tidak ada kerjaan lebih penting daripada memotret alat berat.
Tapi sebenarnya, yang kami dokumentasikan bukanlah bekonya, melainkan apa yang dilakukan beko itu, konteksnya, dan pesan di baliknya.
Fotografi bukan tentang objek besar atau kecil, melainkan tentang cerita yang dikandungnya. Anda mungkin pernah melihat fotografer alam liar rela berbulan-bulan hanya demi satu foto lebah hinggap di bunga. Bagi sebagian orang itu mungkin "tidak penting", tapi bagi yang mengerti, itu adalah nilai, dedikasi, bahkan seni.
Begitu pula tim dokumentasi yang kami miliki. Tugas mereka bukan hanya memotret, tapi mencatat sejarah dalam bentuk visual. Karena barangkali, lima atau sepuluh tahun ke depan, saat orang mencari tahu kapan Sungai Cisuda dikeruk dan siapa saja yang terlibat, maka foto-foto yang mereka ambil hari ini akan menjadi bukti otentik bahwa peristiwa itu benar terjadi.
Bahwa kota ini pernah bergerak demi keselamatan warganya. Bahwa pernah ada tukang potret yang memotret beko, dan itu bukan pekerjaan yang remeh.
Di lingkup Pemerintah Kota Sukabumi, khususnya di lingkungan Pimpinan Setda, dokumentasi bukan sekadar pelengkap acara. Kami memiliki tenaga profesional yang sehari-harinya bertugas sebagai tukang potret dan tukang video.
Namun, untuk menunjukkan kehormatan profesi ini di era teknologi, saya lebih senang menyebut mereka sebagai photografer dan videografer. Sebab, dalam pekerjaan ini benar-benar harus dilengkapi kemampuan menangkap makna, menyimpan sejarah, dan menyusun narasi visual bagi generasi yang akan datang.
Hari ini, saya ditugaskan meliput kegiatan pengerukan Sungai Cisuda. Sungai ini sudah lama dipandang mengalami pendangkalan, sehingga harus segera dinormalisasi. Panjang sungai yang harus dikeruk dalam waktu dua minggu ini sekitar satu kilometer.
Pengerukan tidak mungkin hanya mengandalkan tenaga manusia, dibutuhkan alat berat seperti escavator (yang dalam bahasa lokal akrab disebut “beko”) untuk mengangkat endapan dari dasar sungai yang telah menumpuk bertahun-tahun.
Saya berdiri di atas jembatan, sementara Kang Desol dan Kang Ikbal, dua rekan sejawat dalam dokumentasi berdiri di tepi sungai. Mereka tidak hanya memotret alat berat, tapi mencoba menangkap nuansa, pergerakan, dan kesan.
Saya lihat, tak jarang mereka menunggu momen saat beko menyendok lumpur, dan air memercik. Karena bagi mereka, momentum itu sesuatu yang hidup, dan kamera adalah saksi bisu yang menyimpannya untuk masa depan.
Kegiatan pengerukan sungai ini terpantau langsung oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi. Maka, semua unsur, dari tingkat kota hingga RT dan RW, turut hadir dan terlibat. Pengerukan sungai ini bentuk nyata dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi.
Tiga tahun lalu, banjir di kampung Tugu sempat merenggut nyawa. Maka, normalisasi sungai ini punya makna penting bagi keselamatan warga.
Saya sempat tersenyum ketika melihat rekan di Kelurahan, sambil berbisik, “Lihat itu, pak. Beko saja dipotret.” Kami tertawa kecil. Sekilas memang terdengar lucu, seolah-olah tidak ada kerjaan lebih penting daripada memotret alat berat.
Tapi sebenarnya, yang kami dokumentasikan bukanlah bekonya, melainkan apa yang dilakukan beko itu, konteksnya, dan pesan di baliknya.
Fotografi bukan tentang objek besar atau kecil, melainkan tentang cerita yang dikandungnya. Anda mungkin pernah melihat fotografer alam liar rela berbulan-bulan hanya demi satu foto lebah hinggap di bunga. Bagi sebagian orang itu mungkin "tidak penting", tapi bagi yang mengerti, itu adalah nilai, dedikasi, bahkan seni.
Begitu pula tim dokumentasi yang kami miliki. Tugas mereka bukan hanya memotret, tapi mencatat sejarah dalam bentuk visual. Karena barangkali, lima atau sepuluh tahun ke depan, saat orang mencari tahu kapan Sungai Cisuda dikeruk dan siapa saja yang terlibat, maka foto-foto yang mereka ambil hari ini akan menjadi bukti otentik bahwa peristiwa itu benar terjadi.
Bahwa kota ini pernah bergerak demi keselamatan warganya. Bahwa pernah ada tukang potret yang memotret beko, dan itu bukan pekerjaan yang remeh.

Posting Komentar untuk "Tukang Potret Memotret Beko"