Mehamami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi: Lima Tahun Terakhir (8)

Di salah satu sudut Planet Bumi, sebuah wilayah bernama Kota Sukabumi menjadi bagian dari kehidupan di dunia, menyimpan sejarah panjang yang mungkin belum diketahui bahkan terlupakan oleh banyak orang.

Sampai tahun 2023 (saat buku ini masih ditulis), kota ini telah berusia 109 tahun sejak didirikan sebagai kota praja oleh Pemerintah Hindia Belanda, menandai awal pembentukan identitas administratifnya.

Kendati telah berumur satu abad lebih, angka ini tidak memiliki arti apa pun jika dihadapkan dengan sejarah panjang peradaban manusia yang telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Bahkan dapat saja, sejak semula wilayah ini dihuni oleh manusia, keberadaannya tetap tidak berarti apa-apa dalam skala kosmik yang maha luas.

Jadi, ketika keberadaan sebuah wilayah dilihat berdasarkan Potentia Dei Absoluta, kekuasaan mutlak Tuhan, atau hukum-hukum universal alam semesta, hal kecil seperti Kota Sukabumi ini sama sekali tidak memiliki pengaruh apapun terhadap jagat raya yang luas.

Namun, ketika kita memandang Kota Sukabumi sebagai entitas partikular yang di dalamnya hidup individu-individu dengan kisah, impian, dan perjuangan mereka, wilayah ini tiba-tiba menjadi sangat berarti.

Setiap jalan, bangunan, dan tradisi di kota ini adalah hasil dari interaksi manusia yang memberinya nilai dan makna. 

Hanya dengan membebaskan diri dari perspektif universal yang kaku, hal-hal kecil seperti Kota Sukabumi dapat terlihat besar dan penting dalam konteks lokal.

Di sinilah letak paradoks keberadaan manusia, sesuatu yang tampak remeh dalam skala alam semesta justru menjadi pusat seluruh kehidupan bagi mereka yang tinggal di dalamnya. 

Dengan demikian, meskipun Kota Sukabumi mungkin tidak berarti dalam skala kosmik, bagi warganya, kota ini adalah dunia dan kehidupan mereka.

Tahun 2023 menjadi tahun kelima kepemimpinan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dan Wakil Wali Kota Andri Setiawan Hamami, yang telah membawa beberapa perubahan bagi kota ini.

Sejak dilantik pada tahun 2018, pasangan kepala daerah ini memperkenalkan berbagai inovasi dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan kota. 

Mereka fokus pada pembangunan infrastruktur modern, termasuk perbaikan jalan, sistem drainase, dan fasilitas publik yang lebih baik.

Program smart city mulai diimplementasikan secara bertahap dengan mengoptimalkan teknologi digital untuk pelayanan masyarakat. 

Di bidang ekonomi, pemerintah kota mendorong pengembangan UMKM melalui pelatihan dan akses permodalan yang lebih mudah.

Aspek lingkungan juga menjadi perhatian serius dengan program penghijauan dan pengelolaan sampah yang lebih terpadu. Partisipasi masyarakat ditingkatkan melalui forum warga dan musyawarah perencanaan pembangunan.

Selama lima tahun terakhir, indeks kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah menunjukkan peningkatan yang konsisten.

Berbagai penghargaan tingkat nasional telah diraih sebagai bukti keberhasilan pembangunan yang inklusif. 

Kota Sukabumi terus bergerak maju menuju visi menjadi kota yang lebih sejahtera, modern, dan berkelanjutan di bawah kepemimpinan mereka.

Harus diakui, lima tahun kepemimpinan hanyalah fragmen kecil dalam rencana pembangunan jangka panjang sebuah daerah. Waktu yang singkat ini justru menuntut pemerintah daerah untuk bekerja dengan strategi yang matang dan berorientasi ke masa depan.

Pembangunan holistik harus menjadi landasan utama, melampaui sekadar pencapaian target-target administratif semata. 

Esensinya terletak pada kemampuan memahami kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar memenuhi janji-janji politik yang bersifat temporer.

Yang terpenting adalah konsistensi dalam menerapkan paradigma pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada manusia dan lingkungan.

Setiap kebijakan harus dikaji mendalam, apakah benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi kemajuan daerah. 

Pembangunan infrastruktur fisik saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan penguatan SDM dan kelembagaan yang kokoh.

Prinsip-prinsip good governance harus menjadi kompas dalam setiap pengambilan keputusan. Dengan demikian, pembangunan daerah tidak akan terjebak pada pencitraan sesaat, tetapi benar-benar meninggalkan warisan berharga bagi generasi mendatang.

Pada akhirnya, kesuksesan kepemimpinan daerah diukur dari sejauh mana ia mampu meletakkan fondasi yang kuat untuk kemajuan berkelanjutan.

Paradigma pembangunan di Kota Sukabumi telah bergeser dari sekadar pembangunan fisik menuju pendekatan holistik yang menyentuh seluruh aspek kehidupan warga.

Selama lima tahun terakhir, kepemimpinan Achmad Fahmi dan Andri Setiawan Hamami telah menerapkan konsep pembangunan manusia seutuhnya melalui berbagai program terpadu.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan gang tetap berjalan, namun diimbangi dengan program peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.

Pemerintah kota secara aktif mendorong partisipasi warga dalam proses pembangunan melalui forum musrenbang dan konsultasi publik.

Aspek psikologis warga diperhatikan melalui program kesehatan mental dan pendampingan psikososial di tingkat kelurahan. Pendidikan karakter menjadi prioritas dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum sekolah dan kegiatan masyarakat.

Pembangunan ruang publik dirancang untuk mempromosikan interaksi sosial yang sehat antarwarga. Program "Kota Sukabumi Sehat" menjadi contoh bagaimana pembangunan kesehatan fisik dan mental dijalankan secara terintegrasi. 

Inisiatif ekonomi kreatif digalakkan untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi masyarakat. 

Melalui pendekatan multidimensi ini, pembangunan Kota Sukabumi bertujuan menciptakan masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara material, tetapi juga matang secara psikologis dan sosial..

Pembangunan fisik tetap menjadi fokus utama Pemerintah Kota Sukabumi dengan alasan yang kuat dan terukur. Pertama, kebutuhan mendasar masyarakat akan sarana dan prasarana yang memadai masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. 

Kedua, pembangunan fisik memiliki keunggulan dalam hal perencanaan anggaran yang lebih jelas dan terukur dibandingkan program-program non-fisik. Proses pengerjaan proyek fisik juga lebih mudah dipantau perkembangannya melalui indikator-indikator yang konkret.

Ketiga, hasil dari pembangunan fisik langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam waktu relatif singkat. 

Setiap musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) selalu menempatkan proyek-proyek fisik seperti jalan, posyandu, talud, dan fasilitas publik sebagai prioritas utama. 

Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa infrastruktur yang baik merupakan pondasi bagi pembangunan sektor lainnya.

Namun demikian, pemerintah tetap memastikan bahwa pembangunan fisik ini sejalan dengan kebutuhan riil masyarakat melalui proses perencanaan partisipatif. 

Setiap proyek infrastruktur dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan kota di masa depan. 

Dengan pendekatan ini, pembangunan fisik di Kota Sukabumi diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi peningkatan kualitas hidup warganya.

Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

Posting Komentar untuk "Mehamami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi: Lima Tahun Terakhir (8)"