Ulang Tahun, Misteri Kosmik dan Pesta Kecil di Bumi

Manusia selalu menarik. Di satu sisi kita disebut sebagai makhluk paling rasional, tapi di sisi lain tak henti-hentinya dikepung oleh misteri, mitos, dan hal paralogis yang bahkan kadang tak kita mengerti sepenuhnya. Salah satu contohnya adalah tradisi merayakan ulang tahun atau dalam bahasa Sunda disebut milangkala.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, dan tetap bertahan hingga zaman digital saat ini, saat manusia bisa membuat berita tentang dirinya sendiri dan menyebarkannya ke seluruh dunia tanpa perlu meja redaksi atau studio.

Padahal secara ilmiah, ulang tahun hanyalah hitungan relatif dalam tata semesta. Ia bergantung pada fakta bahwa kita hidup di planet Bumi, yang mengitari Matahari dalam waktu sekitar 365 hari.

Di tataran galaksi, perayaan satu tahun manusia itu barangkali hanya sekilas debu kosmik. Namun justru di situlah letak keunikan manusia, momen sekecil apapun, asal menyentuh batin dan sarat makna, akan selalu dicari, disusun, dan dirayakan.

Lalu muncul pertanyaan sederhana, sejak kapan manusia yang sadar bahwa usia hanyalah angka dan waktu bersifat relatif ini mulai merayakan ulang tahun? Untuk apa?

Bahkan hingga hari ini, kita masih merayakan ulang tahun kemerdekaan negara yang telah memasuki usia ke-80, dan saya pribadi juga hari ini sedang berulang tahun. Apa sebenarnya makna di balik ritual pengulangan hari kelahiran ini?

Sejarah menyebutkan, tradisi ulang tahun bermula dari Mesir Kuno. Namun bukan ulang tahun rakyat biasa. Yang dirayakan adalah kelahiran raja, lebih tepatnya, hari penobatan Firaun sebagai titisan Amun Ra.

Dalam mitologi Mesir, raja bukan sekadar pemimpin politik, tetapi juga perwujudan dewa di dunia fana. Maka ulang tahun Firaun adalah ulang tahun perwujudan Tuhan di bumi. Perayaan biasanya dilakukan di tepian Sungai Nil, bukan di piramida yang justru adalah makam agung bagi para penguasa yang telah wafat.

Yunani Kuno pun tak jauh berbeda. Tradisi ulang tahun di sana berkaitan erat dengan penghormatan kepada para dewa-dewi Olympus. Salah satu yang paling terkenal adalah perayaan untuk Artemis, dewi bulan dan keperawanan, yang dipercaya sebagai putri Zeus.

Orang-orang Yunani membuat kue berbentuk bulan sabit dan menyalakan lilin untuk menghormatinya. Sebuah ritual yang hingga kini masih membekas dalam perayaan ulang tahun modern.

Menariknya, dalam konteks zaman, keyakinan pada dewa-dewi kala itu dianggap sangat wajar. Percaya kepada Zeus adalah kewarasan. Tidak percaya? Maka kita akan dianggap gila.

Tapi di zaman sekarang, keadaannya berbalik. Yang masih percaya kepada Zeus mungkin hanya tersisa di halaman novel atau pameran kostum mitologi. Begitulah struktur teologis selalu mengalami perubahan. Apa yang sakral di masa lalu, bisa jadi mitos belaka di masa kini.

Memasuki era Romawi, tepatnya abad ke-1, perayaan ulang tahun mulai merambah ke rakyat biasa. Namun tetap saja belum inklusif, karena hanya laki-laki yang berhak dirayakan ulang tahunnya. Perempuan baru mendapatkan 'hak' untuk dirayakan jauh belakangan.

Namun makna ulang tahun di masa itu tetap tak jauh dari semangat persembahan. Pesta ulang tahun berarti persembahan kepada para dewa, atau pujian kepada raja. Mirip dengan zaman sekarang, ulang tahun sering jadi ajang “menyogok secara halus”, entah itu dalam bentuk traktiran kepada rekan sejawat, atau bingkisan kepada atasan dengan harapan proyek disetujui. Rupanya, tradisi gratifikasi simbolik ini sudah sangat tua.

Lucunya, agama Kristen awal sempat menolak tradisi ulang tahun karena dianggap praktik pagan. Tapi setelah agama ini menjadi institusi resmi Kekaisaran Romawi, ulang tahun Yesus alias Natal pun dirayakan besar-besaran.

Sama juga dengan Islam, yang mengenal tradisi maulid nabi, meski seringkali dibedakan dengan ulang tahun. Namun esensinya tetap sama: merayakan hari kelahiran sosok yang dianggap penting bagi umat.

Perayaan ulang tahun dalam bentuk modern seperti yang kita kenal hari ini, dengan kue tart, lilin, dan pesta, baru muncul pada abad ke-18 di Jerman. Mereka menyebutnya Kinderfest, pesta ulang tahun untuk anak-anak.

Tradisi ini menyebar dan diadopsi di banyak belahan dunia, dan hingga kini masih menjadi bagian dari perayaan personal yang menyenangkan, bahkan menjadi bahan konten media sosial tahunan.

Dari raja, dewa, anak-anak, hingga negara semuanya dirayakan ulang tahunnya. Bahkan planet Bumi pun punya Hari Bumi. Tentu niatnya baik, agar kehidupan lebih bermakna, berkah, dan terus berkembang, entah dalam angka atau dalam kualitas.

Saya tidak akan masuk dalam ranah teologi, membahas apakah ulang tahun itu boleh atau dilarang. Karena pada akhirnya, semua yang ada di dunia ini bergerak dan berubah. Hanya satu yang tak berubah: Dia yang membuat perubahan.

Kita hidup di dunia yang relatif. Sangat mungkin, suatu saat nanti, manusia justru akan menganggap perayaan ulang tahun sebagai sesuatu yang menjijikkan, mubazir, atau bahkan haram.

Walakin selama masih ada ruang untuk bersyukur, mengenang, dan memaknai waktu yang telah dilalui, ulang tahun, betapapun sederhananya, akan selalu menjadi ritual kecil yang membuat manusia merasa hidup di tengah semesta yang luas dan sunyi.

Posting Komentar untuk "Ulang Tahun, Misteri Kosmik dan Pesta Kecil di Bumi"