Senja Itu: Sejumput Kisah Masa Lalu, Aku dan Kampung Halamanku (Bag 28)

Selain sepak bola dan bulu tangkis, olahraga bola voli menjadi salah satu yang paling digemari oleh para pemuda perkampungan pada era 1980–1990-an. Di wilayah “Pajampangan”, saking populernya dan begitu digandrungi, olahraga ini bahkan kerap dijadikan ajang kompetisi, termasuk ketika digelar dalam rangkaian hiburan acara pernikahan. Hal ini karena, bola voli telah menjadi ruang berkumpul dan bersilaturahmi warga kampung.

Pada medio 1980-an, para pemuda di Balandongan berinisiatif membuat lapangan bola voli. Saat itu saya masih kanak-kanak. Lokasi strategis yang dipilih berada di samping madrasah diniyah atau sekolah agama. Para pemuda terlebih dahulu meminta izin kepada ajengan setempat sebagai pengelola lokasi tersebut. Dengan dalih bahwa kegiatan ini bersifat positif dan dapat menguras energi pemuda agar terhindar dari perbuatan negatif, inisiatif pembuatan lapangan bola voli pun mendapat restu dari sang ajengan.

Setiap sore, lapangan bola voli selalu dipadati oleh para muda-mudi, anak-anak, hingga orang tua yang ingin menyaksikan pertandingan. Terlebih ketika cuaca cerah, jalanan yang masih berupa susunan batu di sekitar lapangan menjadi penuh sesak oleh warga. Di pinggir lapangan, saat itu masih berdiri pohon belimbing. Beberapa anak memanjatnya agar bisa menyaksikan pertandingan tanpa perlu berjinjit, sebuah pemandangan khas kampung yang kini tinggal kenangan.

Di wilayah perkampungan seperti Balandongan, alam seolah berkonspirasi mendukung harapan para penghuninya. Situasi semacam ini terasa sangat berarti, terutama bagi para muda-mudi yang sedang memasuki gerbang pubertas. Remaja yang baru meninggalkan masa kanak-kanaknya mulai memiliki pesona sekaligus terpesona oleh lawan jenis. Banyak di antara para mudi yang menyaksikan pertandingan bola voli bukan karena memahami teknik permainannya, melainkan untuk mencuri dan mencari perhatian para atlet kampung.

Sementara itu, bagi anak-anak dan orang tua, pertandingan bola voli dipandang sebagai hiburan sore hari pelepas penat. Apalagi bagi anak-anak, apa pun yang berada di luar dunia mereka hampir selalu dipersepsikan sebagai permainan. Sebagai homo ludens, makhluk yang gemar bermain, manusia memang dikondisikan untuk menyukai aktivitas semacam ini. Menariknya, pertandingan bola voli, entah sudah ada pemenang atau belum, harus dihentikan ketika dari masjid terdengar lantunan puji-pujian. Kesepakatan tak tertulis dengan ajengan berlaku tanpa tawar-menawar.

Tim bola voli kampung terus memaksimalkan performanya, salah satunya dengan mendatangkan atlet dari daerah lain. Sebut saja Kang Dudi, adik ipar Kang Tatang (alm.). Tanpa perlu seremonial, karena kepiawaiannya dalam olahraga ini serta ditunjang tinggi badan ideal, Kang Dudi otomatis didaulat menjadi pelatih tim bola voli kampung. Pertandingan tidak hanya digelar di kandang; sebulan sekali tim ini melakukan tandang ke kampung lain untuk mengasah kemampuan sekaligus menumbuhkan keberanian tampil di luar lingkungan sendiri.

Keberadaan lapangan bola voli di samping madrasah diniyah hanya bertahan kurang dari dua tahun. Dengan alasan lahan akan ditanami agar lebih produktif, masa keberadaan lapangan tersebut pun berakhir. Para pemuda penggemar bola voli kemudian kembali membuat lapangan baru di dekat lapangan sepak bola, yang kini berada di kawasan Jalan Lingkar Selatan. Lapangan di lokasi ini terasa lebih nyaman karena dilapisi rumput alami, namun sepi penonton karena tidak tersedia tempat yang memadai bagi warga untuk menyaksikan pertandingan.

Memasuki awal 1990-an, para pemuda kembali memanfaatkan lahan tidak produktif yang kini menjadi warung milik Agus Abdulazis, untuk dijadikan lapangan bola voli. Minat terhadap bola voli pun kembali meningkat, seiring tumbuhnya kesadaran persatuan di kalangan pemuda Balandongan Kidul, Kaler, dan Wetan. Sebelumnya, entah karena gengsi atau sekat wilayah RW, para pemuda sulit untuk bersatu. Faktor lain yang mendorong persatuan adalah pengukuhan organisasi Karang Taruna oleh Kantor Desa, sebagai wadah pemuda untuk berkiprah dan mengenal dunia organisasi. Salah seorang guru agama SDN Sudajayahilir, Pak Ois, juga turut terlibat aktif dalam kegiatan bola voli saat itu.

Namun, kegiatan kepemudaan, sebagaimana denyut kehidupan lainnya, mengalami fase pertumbuhan, kejayaan, hingga stagnasi. Pasang surut ini juga menyertai olahraga bola voli. Lapangan yang pernah ramai perlahan dibiarkan tanpa aktivitas, hanya sesekali diisi permainan anak-anak. Selama kurun waktu hampir satu dekade, lapangan bola voli terus berpindah-pindah. Beruntung, saat itu masih tersedia lahan kosong di Balandongan. Lapangan pernah berpindah ke belakang Madrasah (tepat di belakang rumah Kang Mamad, alm.), lalu berpindah lagi ke lahan milik Mang Jai (alm.).

Memasuki era 2000-an, olahraga bola voli benar-benar mengalami stagnasi di Balandongan. Lahan-lahan mulai dialihfungsikan, regenerasi pemuda pun terjadi. Pemuda generasi baru mulai berpikir lebih rasional, lelah membuka lahan untuk lapangan voli, namun dalam satu hingga dua tahun kemudian lahan tersebut dibangun rumah atau dijual.

Lapangan bola voli baru sempat muncul kembali di Balandongan RT 04 pada tahun 2014. Artinya, hampir lebih dari satu dekade generasi Y dan Z tidak mengenal permainan bola voli di kampungnya sendiri. Mereka mungkin mengenalnya di sekolah, tetapi tidak memiliki ruang untuk mempraktikkannya di kampung halaman. Keberadaan lapangan baru itu pun tidak bertahan lama; selain penggagasnya pindah kampung, lahannya kembali dialihfungsikan menjadi perumahan.

Kini, ketika senja jatuh perlahan di atas kampung yang semakin padat oleh bangunan, ingatan tentang lapangan bola voli itu hadir seperti sejumput cahaya dari masa lalu. Ia adalah hamparan tanah dan ruang belajar tentang kebersamaan, disiplin, dan batas-batas nilai yang dijaga bersama, antara gairah muda dan tuntunan ajengan. Hilangnya lapangan-lapangan itu menandai perubahan zaman, ketika ruang komunal perlahan tergeser oleh kepentingan individual dan nilai guna ekonomi. Namun kenangan itu tetap hidup, menjadi pengingat bahwa kampung pernah memiliki cara sendiri untuk membesarkan anak-anaknya; dengan permainan, kebersamaan, dan kearifan yang tak tertulis.

Posting Komentar untuk "Senja Itu: Sejumput Kisah Masa Lalu, Aku dan Kampung Halamanku (Bag 28)"