Cara masyarakat menyambut kedatangan bulan Ramadan berbeda-beda sesuai dengan milieu—kapan dan di mana masyarakat itu berada. Tak mengherankan, generasi Baby Boomers, X, dan Y sering merasakan ada sesuatu yang hilang ketika menghadapi bulan Ramadan hari ini. Perasaan itu muncul karena mereka merasakan perbedaan yang cukup nyata antara suasana Ramadan pada tahun 1980–1990-an dengan alam kontemporer seperti sekarang.
Cara menyambut kedatangan Ramadan pada masa itu ditandai dengan suasana hati yang penuh sukacita, tercermin dari nada bicara sehari-hari: “Tak terasa kita sudah akan sampai Ramadan lagi!” atau “Aroma Ramadan sudah tercium.”
Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kampung benar-benar merasakan kehadiran bulan Ramadan, bukan semata dari angka yang tercantum di kalender, tetapi dari jam biologis dan kepekaan batin kolektif. Ada sesuatu yang berubah pada alam dan perasaan ketika Ramadan semakin dekat.
Penanda kehidupan akan memasuki bulan Ramadan pada tahun 1980–1990-an antara lain adalah samen sekolah agama atau madrasah diniyah, Rajaban, dan Nisfu Sya’ban. Selain itu, entah karena sugesti atau kepercayaan yang diwariskan, menjelang Ramadan sering kali diidentikkan dengan musim kemarau atau setidaknya intensitas hujan yang tiba-tiba menurun meskipun masih berada pada musim hujan.
Aroma Ramadan semakin menguat dengan aktivitas masyarakat membersihkan masjid, menguras kolam masjid, serta melakukan bersih-bersih rumah. Bahkan, tidak sedikit warga yang sengaja mengganti pagar bambu di depan rumah dengan yang baru sebagai simbol kesiapan menyambut bulan suci.
Berbeda dengan beberapa tahun terakhir, samen atau kenaikan kelas sekolah agama di Balandongan dahulu biasanya dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan. Hal ini dimaksudkan agar selama bulan puasa, sekolah agama benar-benar libur total.
Namun, akhir-akhir ini, setelah adanya penyeragaman kurikulum, samen madrasah diniyah waktunya beriringan dengan kenaikan kelas sekolah umum, sekitar bulan Juni. Mau tidak mau, sekolah agama sebagai lembaga pendidikan non-formal berbasis kemasyarakatan harus mengikuti kurikulum yang diterbitkan oleh Kementerian Agama. Pada titik inilah, kearifan lokal perlahan mengalami pengikisan.
Kenaikan kelas sekolah agama biasanya dilakukan dua hingga satu minggu menjelang Ramadan. Ada kebiasaan unik pada tahun 1980–1990-an, yakni kenaikan kelas madrasah diniyah diisi dengan hiburan berupa pementasan tarian anak-anak dan pertunjukan layar tancap. Tarian anak-anak tersebut sering mengadopsi koreografi penyanyi dan penari latar dalam acara Aneka Ria Safari, salah satu program musik TVRI.
Cara tampil pun tidak terlalu memerhatikan apakah para siswi perempuan mengenakan jilbab atau tidak; mereka tampil apa adanya. Barangkali, jika hal serupa terjadi hari ini, penampilan siswa perempuan tanpa jilbab akan mengundang protes yang berlebihan.
Film layar tancap menjadi acara puncak setelah seluruh rangkaian kenaikan kelas selesai. Puncak acara sendiri biasanya diawali dengan pemanggilan siswa-siswi berprestasi—peringkat satu sampai tiga—untuk menerima hadiah dari sekolah.
Hadiahnya tidak besar, umumnya berupa buku yang dibungkus kertas kacang asin, namun memiliki prestise tersendiri bagi para siswa. Di atas panggung, kepala sekolah biasanya menutup acara dengan ucapan selamat menyambut Ramadan dan menunaikan ibadah puasa kepada hadirin.
Penanda lain menjelang Ramadan adalah kegiatan membersihkan masjid dan menguras kolam masjid. Setiap masjid di Balandongan memiliki kolam tempat mandi dan wudu, lantas menjelang puasa kolam tersebut selalu dikuras agar tidak dipenuhi endapan tanah atau lumpur. Setelah kegiatan bersih-bersih, acara dilanjutkan dengan makan nasi liwet bersama. Lauknya berasal dari ikan yang ada di kolam masjid.
Dengan demikian, warga merasa benar-benar siap menyambut bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Aroma Ramadan terasa begitu kuat, bahkan seolah dapat disentuh oleh perasaan sebagai bentuk kenikmatan spiritual yang sederhana namun mendalam.
Fenomena sosial menjelang Ramadan pada tahun 1980–1990-an sejatinya merupakan bentuk kebersamaan yang lahir dari kesadaran kolektif. Ramadan tidak datang sebagai peristiwa individual, tetapi sebagai peristiwa sosial yang dihayati bersama melalui gotong royong, kebersahajaan, dan rasa memiliki terhadap ruang-ruang ibadah serta kehidupan kampung.
Saat ini, ketika Ramadan sering kali datang lewat notifikasi gawai dan kalender digital, barangkali yang paling dirindukan adalah suasana batin yang dulu tumbuh secara alami; rasa menunggu, rasa bersiap, dan rasa menyambut dengan hati yang lapang. Di sanalah Ramadan menjadi ruang perjumpaan manusia dengan sesamanya, dengan kampung halamannya, dan dengan dirinya sendiri.
Cara menyambut kedatangan Ramadan pada masa itu ditandai dengan suasana hati yang penuh sukacita, tercermin dari nada bicara sehari-hari: “Tak terasa kita sudah akan sampai Ramadan lagi!” atau “Aroma Ramadan sudah tercium.”
Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kampung benar-benar merasakan kehadiran bulan Ramadan, bukan semata dari angka yang tercantum di kalender, tetapi dari jam biologis dan kepekaan batin kolektif. Ada sesuatu yang berubah pada alam dan perasaan ketika Ramadan semakin dekat.
Penanda kehidupan akan memasuki bulan Ramadan pada tahun 1980–1990-an antara lain adalah samen sekolah agama atau madrasah diniyah, Rajaban, dan Nisfu Sya’ban. Selain itu, entah karena sugesti atau kepercayaan yang diwariskan, menjelang Ramadan sering kali diidentikkan dengan musim kemarau atau setidaknya intensitas hujan yang tiba-tiba menurun meskipun masih berada pada musim hujan.
Aroma Ramadan semakin menguat dengan aktivitas masyarakat membersihkan masjid, menguras kolam masjid, serta melakukan bersih-bersih rumah. Bahkan, tidak sedikit warga yang sengaja mengganti pagar bambu di depan rumah dengan yang baru sebagai simbol kesiapan menyambut bulan suci.
Berbeda dengan beberapa tahun terakhir, samen atau kenaikan kelas sekolah agama di Balandongan dahulu biasanya dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan. Hal ini dimaksudkan agar selama bulan puasa, sekolah agama benar-benar libur total.
Namun, akhir-akhir ini, setelah adanya penyeragaman kurikulum, samen madrasah diniyah waktunya beriringan dengan kenaikan kelas sekolah umum, sekitar bulan Juni. Mau tidak mau, sekolah agama sebagai lembaga pendidikan non-formal berbasis kemasyarakatan harus mengikuti kurikulum yang diterbitkan oleh Kementerian Agama. Pada titik inilah, kearifan lokal perlahan mengalami pengikisan.
Kenaikan kelas sekolah agama biasanya dilakukan dua hingga satu minggu menjelang Ramadan. Ada kebiasaan unik pada tahun 1980–1990-an, yakni kenaikan kelas madrasah diniyah diisi dengan hiburan berupa pementasan tarian anak-anak dan pertunjukan layar tancap. Tarian anak-anak tersebut sering mengadopsi koreografi penyanyi dan penari latar dalam acara Aneka Ria Safari, salah satu program musik TVRI.
Cara tampil pun tidak terlalu memerhatikan apakah para siswi perempuan mengenakan jilbab atau tidak; mereka tampil apa adanya. Barangkali, jika hal serupa terjadi hari ini, penampilan siswa perempuan tanpa jilbab akan mengundang protes yang berlebihan.
Film layar tancap menjadi acara puncak setelah seluruh rangkaian kenaikan kelas selesai. Puncak acara sendiri biasanya diawali dengan pemanggilan siswa-siswi berprestasi—peringkat satu sampai tiga—untuk menerima hadiah dari sekolah.
Hadiahnya tidak besar, umumnya berupa buku yang dibungkus kertas kacang asin, namun memiliki prestise tersendiri bagi para siswa. Di atas panggung, kepala sekolah biasanya menutup acara dengan ucapan selamat menyambut Ramadan dan menunaikan ibadah puasa kepada hadirin.
Penanda lain menjelang Ramadan adalah kegiatan membersihkan masjid dan menguras kolam masjid. Setiap masjid di Balandongan memiliki kolam tempat mandi dan wudu, lantas menjelang puasa kolam tersebut selalu dikuras agar tidak dipenuhi endapan tanah atau lumpur. Setelah kegiatan bersih-bersih, acara dilanjutkan dengan makan nasi liwet bersama. Lauknya berasal dari ikan yang ada di kolam masjid.
Dengan demikian, warga merasa benar-benar siap menyambut bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Aroma Ramadan terasa begitu kuat, bahkan seolah dapat disentuh oleh perasaan sebagai bentuk kenikmatan spiritual yang sederhana namun mendalam.
Fenomena sosial menjelang Ramadan pada tahun 1980–1990-an sejatinya merupakan bentuk kebersamaan yang lahir dari kesadaran kolektif. Ramadan tidak datang sebagai peristiwa individual, tetapi sebagai peristiwa sosial yang dihayati bersama melalui gotong royong, kebersahajaan, dan rasa memiliki terhadap ruang-ruang ibadah serta kehidupan kampung.
Saat ini, ketika Ramadan sering kali datang lewat notifikasi gawai dan kalender digital, barangkali yang paling dirindukan adalah suasana batin yang dulu tumbuh secara alami; rasa menunggu, rasa bersiap, dan rasa menyambut dengan hati yang lapang. Di sanalah Ramadan menjadi ruang perjumpaan manusia dengan sesamanya, dengan kampung halamannya, dan dengan dirinya sendiri.

Posting Komentar untuk "Senja Itu: Sejumput Kisah Masa Lalu, Aku dan Kampung Halamanku (Bag 29)"