Bebek Goreng Tanpa Nasi

Solidaritas dan kebaikan rekan satu pekerjaan di Dokumentasi Pimpinan Pemkot Sukabumi, bagi saya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan itu sendiri. 

Lebih jauh, kebaikan yang diperlihatkan oleh tim dan rekan kerja bukan sekadar wacana atau, dalam istilah anak muda sekarang, “bukan cuma omon-omon”, melainkan benar-benar hadir dalam keseharian.

Saat meliput kegiatan Hari Jadi Tatar Sunda di Bandung, saya kembali merasakan hal tersebut. 

Ketika tiba di lokasi acara bertepatan dengan kirab budaya yang sedang berlangsung, Kang Fadhil langsung mengirim pesan melalui WhatsApp agar saya beristirahat terlebih dahulu setelah menempuh perjalanan hampir empat jam dari Sukabumi menuju Bandung.

Kebaikan semacam itu tentu tidak lahir dari sikap basa-basi atau sekadar “nyungkun” dalam istilah Sunda. Perhatian itu muncul secara tulus dari sesama rekan kerja. 

Terlebih, Kang Fadhil dan beberapa rekan lain memahami kondisi kesehatan saya sejak serangan jantung satu tahun lalu tentu telah jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya.

Namun malam itu saya tidak langsung menuju hotel. Waktu istirahat yang dianjurkan dokter, sekitar pukul 10 hingga 11 malam, belum tiba. 

Karena itu saya tetap bertahan di lokasi kegiatan, menikmati dan menyimak kirab budaya dengan penuh antusias. Baru sekitar pukul 22.30 saya bergegas menuju hotel untuk beristirahat.

Kebaikan Kang Fadhil rupanya tidak berhenti sampai di sana. Pada malam kedua, ia kembali menawarkan makan malam dengan memesankan makanan untuk saya. Pilihan saya jatuh pada paket bebek goreng. 

Karena ia langsung menuju lokasi pertunjukan Drama Musikal Kolosal di Gedung Sate, makanan itu dikirim ke hotel menggunakan jasa pengiriman.

Tak lama kemudian, paket bebek goreng pun tiba. Saya segera membuka bungkusannya. Di dalamnya tampak bebek goreng lengkap dengan sambal dan lalapan. Hanya ada satu kekurangan: paket itu ternyata tidak disertai nasi.

Bagi sebagian besar masyarakat kita, makan tanpa nasi mungkin terasa belum lengkap. Namun bagi saya malam itu tidak demikian. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyantap bebek goreng tersebut dengan lahap. Rasanya tetap nikmat.

Barangkali karena malam itu saya sebenarnya tidak hanya sedang menikmati bebek goreng tanpa nasi, melainkan juga sedang merasakan kebaikan-kebaikan yang diperlihatkan langsung oleh sesama manusia. 

Dan dari hal sederhana itulah saya belajar bahwa kebaikan yang tulus kadang jauh lebih mengenyangkan daripada makanan itu sendiri.

Posting Komentar untuk "Bebek Goreng Tanpa Nasi"