Perjalanan hidup manusia dari fase produktif menuju masa pensiun seharusnya dipahami bukan sebagai akhir berkarya, melainkan transisi menuju bentuk produktivitas yang lebih hakiki, sebuah transformasi dari kerja horizontal yang berorientasi pada materi menuju kerja vertikal yang bersifat spiritual dan transendental.
Ketika seseorang melepaskan diri dari belenggu pekerjaan formal di kantor, pabrik, atau sawah, justru terbuka ruang luas untuk penggalian makna eksistensial yang selama ini terabaikan dalam rutinitas duniawi.
Masa pensiun idealnya menjadi periode epifani di mana manusia tidak lagi diukur oleh output materi melainkan oleh kedalaman kontemplasi dan kualitas hubungannya dengan Yang Ilahi sebuah fase dimana laporan kinerja digantikan oleh jurnal syukur, dan target produksi beralih menjadi target pencerahan batin.
Dalam hal ini, tindakan "nonproduktif" seperti merenung, berdoa, atau sekadar menyaksikan matahari terbit bukanlah kemalasan, melainkan bentuk kerja spiritual yang justru membutuhkan disiplin lebih ketat daripada pekerjaan duniawi.
Hubungan vertikal dengan Tuhan yang seharusnya memang dibangun sepanjang hayat, menemukan momentum intensitasnya di masa pensiun ketika berbagai topeng identitas profesional telah dilepas dan manusia berdiri telanjang di hadapan sang Pencipta.
Alam sendiri memberikan contoh sempurna melalui pohon yang semakin tua justru akarnya semakin dalam menembus bumi sementara dahannya semakin tinggi menjangkau langit, metafora indah untuk manusia usia pensiun yang seharusnya semakin membumi dalam kebijaksanaan sekaligus semakin melangit dalam spiritualitas.
Masyarakat modern yang meminggirkan kaum lansia telah kehilangan khazanah kebijaksanaan ini, padahal dalam tradisi Nusantara, masa tua justru dihormati sebagai periode dimana seseorang mencapai puncak kematangan spiritual setelah melewati berbagai ujian kehidupan.
Tantangan terbesar di masa pensiun adalah melawan stigma sosial yang menyamakan produktivitas dengan nilai ekonomi semata, sementara mengabaikan produktivitas jiwa yang justru menentukan kualitas keberadaan kita sebagai manusia.
Jika di masa muda kita belajar untuk melakukan (to do), dan di usia dewasa belajar untuk menjadi (to be), maka di masa pensiun kita diajak untuk belajar melepaskan (to let go) sebuah seni tertinggi dalam menari dengan irama kehidupan yang fana ini.
Pada akhirnya, pensiun yang bermakna adalah ketika seseorang bisa beralih dari definisi "pensiunan pekerja" menjadi "pekerja jiwa" yang terus berkarya dalam taman transendensi, menanam benih-benih kebajikan yang akan terus tumbuh melampaui batas usia biologisnya.
Alam kesementaraan yang dalam kosmologi Sunda disebut marcapada, manusia hidup mengikuti ritme ilahi dimana segala sesuatu tunduk pada hukum silih berganti, kelahiran dan kematian bagai roda yang berputar tanpa henti, sebuah siklus abadi yang dalam tradisi Hindu disebut samsara.
Setiap jiwa yang lahir ke dunia ibarat pengembara (atma) yang sedang menempuh perjalanan panjang penyucian diri melalui berbagai lapisan ujian di penjara ruang-waktu, dimana setiap pilihan dan perbuatan menjadi batu ujian apakah sang jiwa akan terjerembab ke buana larangan (alam bawah), terlahir kembali di dunia, atau mencapai pembebasan (moksa) untuk menyatu dengan nirwana.
Konsep marcapada dalam Budaya Sunda dan samsara dalam Hinduisme ini sesungguhnya mencerminkan kebijaksanaan universal tentang sifat fana eksistensi duniawi, bagai air di daun talas yang sebentar menggenang lalu menguap, atau seperti bayangan yang muncul dan lenyap bergantung pada sang surya.
Kehidupan di dunia ini memang seperti sangkar emas bagi sang jiwa, indah namun membatasi, memberi kesenangan semu namun sekaligus menjadi medan tempaan untuk menguji kemurnian spiritual.
Dalam falsafah Sunda tritangtu di buana (tiga ketentuan alam), manusia diajarkan untuk menyelaraskan diri dengan hukum alam ini, menerima dengan ikhlas bahwa segala yang memiliki awal pasti memiliki akhir, bahwa setiap pertemuan mengandung perpisahan, dan setiap kebahagiaan duniawi bersifat sementara.
Teman-teman Hindu saya sering mengingatkan bahwa samsara bukanlah kutukan melainkan sekolah ilahi, setiap kelahiran kembali adalah kesempatan baru untuk memperbaiki karma, menyempurnakan dharma, dan pada akhirnya memutus rantai reinkarnasi.
Persinggungan antara konsep Sunda marcapada dengan Hindu samsara ini menunjukkan betapa kebijaksanaan tradisional Nusantara telah memahami hakikat transenden kehidupan manusia jauh sebelum ilmu pengetahuan modern membahas tentang entropi dan hukum termodinamika.
Dalam pusaran samsara atau putaran waktu marcapada ini, kematian fisik hanyalah pintu gerbang, bisa menjadi jalan menuju pembebasan jika sang jiwa telah mencapai pencerahan, atau perangkap baru jika masih terbelenggu oleh ikatan duniawi.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari alam kesementaraan, bahwa kita bukanlah tubuh yang memiliki jiwa, melainkan jiwa yang sementara mengenakan jubah tubuh, sedang dalam perjalanan panjang pulang kepada Sang Pencipta, melewati berbagai terminal ujian yang disebut kehidupan.
Seperti kata bijak Sunda, "hirup kawas cai ibun" (hidup itu seperti embun), sebentar bersinar indah diterpa matahari pagi, lalu menyatu kembali dengan alam raya.
Ketika seseorang melepaskan diri dari belenggu pekerjaan formal di kantor, pabrik, atau sawah, justru terbuka ruang luas untuk penggalian makna eksistensial yang selama ini terabaikan dalam rutinitas duniawi.
Masa pensiun idealnya menjadi periode epifani di mana manusia tidak lagi diukur oleh output materi melainkan oleh kedalaman kontemplasi dan kualitas hubungannya dengan Yang Ilahi sebuah fase dimana laporan kinerja digantikan oleh jurnal syukur, dan target produksi beralih menjadi target pencerahan batin.
Dalam hal ini, tindakan "nonproduktif" seperti merenung, berdoa, atau sekadar menyaksikan matahari terbit bukanlah kemalasan, melainkan bentuk kerja spiritual yang justru membutuhkan disiplin lebih ketat daripada pekerjaan duniawi.
Hubungan vertikal dengan Tuhan yang seharusnya memang dibangun sepanjang hayat, menemukan momentum intensitasnya di masa pensiun ketika berbagai topeng identitas profesional telah dilepas dan manusia berdiri telanjang di hadapan sang Pencipta.
Alam sendiri memberikan contoh sempurna melalui pohon yang semakin tua justru akarnya semakin dalam menembus bumi sementara dahannya semakin tinggi menjangkau langit, metafora indah untuk manusia usia pensiun yang seharusnya semakin membumi dalam kebijaksanaan sekaligus semakin melangit dalam spiritualitas.
Masyarakat modern yang meminggirkan kaum lansia telah kehilangan khazanah kebijaksanaan ini, padahal dalam tradisi Nusantara, masa tua justru dihormati sebagai periode dimana seseorang mencapai puncak kematangan spiritual setelah melewati berbagai ujian kehidupan.
Tantangan terbesar di masa pensiun adalah melawan stigma sosial yang menyamakan produktivitas dengan nilai ekonomi semata, sementara mengabaikan produktivitas jiwa yang justru menentukan kualitas keberadaan kita sebagai manusia.
Jika di masa muda kita belajar untuk melakukan (to do), dan di usia dewasa belajar untuk menjadi (to be), maka di masa pensiun kita diajak untuk belajar melepaskan (to let go) sebuah seni tertinggi dalam menari dengan irama kehidupan yang fana ini.
Pada akhirnya, pensiun yang bermakna adalah ketika seseorang bisa beralih dari definisi "pensiunan pekerja" menjadi "pekerja jiwa" yang terus berkarya dalam taman transendensi, menanam benih-benih kebajikan yang akan terus tumbuh melampaui batas usia biologisnya.
Alam kesementaraan yang dalam kosmologi Sunda disebut marcapada, manusia hidup mengikuti ritme ilahi dimana segala sesuatu tunduk pada hukum silih berganti, kelahiran dan kematian bagai roda yang berputar tanpa henti, sebuah siklus abadi yang dalam tradisi Hindu disebut samsara.
Setiap jiwa yang lahir ke dunia ibarat pengembara (atma) yang sedang menempuh perjalanan panjang penyucian diri melalui berbagai lapisan ujian di penjara ruang-waktu, dimana setiap pilihan dan perbuatan menjadi batu ujian apakah sang jiwa akan terjerembab ke buana larangan (alam bawah), terlahir kembali di dunia, atau mencapai pembebasan (moksa) untuk menyatu dengan nirwana.
Konsep marcapada dalam Budaya Sunda dan samsara dalam Hinduisme ini sesungguhnya mencerminkan kebijaksanaan universal tentang sifat fana eksistensi duniawi, bagai air di daun talas yang sebentar menggenang lalu menguap, atau seperti bayangan yang muncul dan lenyap bergantung pada sang surya.
Kehidupan di dunia ini memang seperti sangkar emas bagi sang jiwa, indah namun membatasi, memberi kesenangan semu namun sekaligus menjadi medan tempaan untuk menguji kemurnian spiritual.
Dalam falsafah Sunda tritangtu di buana (tiga ketentuan alam), manusia diajarkan untuk menyelaraskan diri dengan hukum alam ini, menerima dengan ikhlas bahwa segala yang memiliki awal pasti memiliki akhir, bahwa setiap pertemuan mengandung perpisahan, dan setiap kebahagiaan duniawi bersifat sementara.
Teman-teman Hindu saya sering mengingatkan bahwa samsara bukanlah kutukan melainkan sekolah ilahi, setiap kelahiran kembali adalah kesempatan baru untuk memperbaiki karma, menyempurnakan dharma, dan pada akhirnya memutus rantai reinkarnasi.
Persinggungan antara konsep Sunda marcapada dengan Hindu samsara ini menunjukkan betapa kebijaksanaan tradisional Nusantara telah memahami hakikat transenden kehidupan manusia jauh sebelum ilmu pengetahuan modern membahas tentang entropi dan hukum termodinamika.
Dalam pusaran samsara atau putaran waktu marcapada ini, kematian fisik hanyalah pintu gerbang, bisa menjadi jalan menuju pembebasan jika sang jiwa telah mencapai pencerahan, atau perangkap baru jika masih terbelenggu oleh ikatan duniawi.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari alam kesementaraan, bahwa kita bukanlah tubuh yang memiliki jiwa, melainkan jiwa yang sementara mengenakan jubah tubuh, sedang dalam perjalanan panjang pulang kepada Sang Pencipta, melewati berbagai terminal ujian yang disebut kehidupan.
Seperti kata bijak Sunda, "hirup kawas cai ibun" (hidup itu seperti embun), sebentar bersinar indah diterpa matahari pagi, lalu menyatu kembali dengan alam raya.
Posting Komentar untuk "Memahami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi: Prolog (5)"