Empat Pelajaran dari Perjalanan ke Lembur Pakuan

Hari kemarin, Selasa 29 Juli 2025 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan tugas saya sebagai perilis kegiatan pimpinan. Saya bertugas meliput kunjungan Wali Kota Sukabumi, Bapak Ayep Zaki, ke Lembur Pakuan, Subang, kediaman Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.

Dari perjalanan ini, saya memetik empat pelajaran berharga:

1. Mendengarkan Insting, Namun Tetap Menghargai Keputusan Eksternal

Sebelum berangkat, saya seharusnya menjalani pemeriksaan echo jantung. Namun, setelah mendapat kabar dari rekan di Dokumentasi Pimpinan (Kang Desol) bahwa tim protokol akan berangkat pukul 10.00, saya memutuskan menunda pemeriksaan atas saran dokter. 

Meskipun insting saya mengatakan bahwa keberangkatan kemungkinan besar baru terjadi sekitar pukul 11.30, dan ternyata benar, saya memilih mengikuti arahan eksternal.

Pelajaran yang saya ambil yaitu perasaan dan insting seringkali menjadi panduan baik, tetapi kita juga harus bijak menghargai faktor eksternal. 

Terkadang, mengalah bukan berarti kalah, melainkan bentuk penghormatan terhadap situasi dan orang lain. 

Prinsip saya sederhana, yang terpenting, orang lain tidak merasa kecewa berlebihan karena keputusan kita.

2. Kendali Terbatas, Kita Hanya Bisa Mengatur Pikiran Sendiri

Perjalanan menuju Subang melalui Tol Bocimi berjalan lancar, meskipun sebenarnya rute lain bisa lebih cepat. Namun, di tengah perjalanan, rombongan singgah di Warung Sop Haji Mamad di Cibadak. 

Saya ikut makan, sampai lupa sebelum berangkat Bu Ochi memberikan satu kotak makanan ringan dan terus terang makanan ringan ini saya makan di Mc Donald saat tiba di Subang.

Saya menyadari bahwa meskipun perhitungan logis dan prediksi pribadi bisa akurat, keinginan orang lain (dalam hal ini, pimpinan) tetaplah di luar kendali kita.

Ini mengingatkan saya pada filosofi Stoik dari Seneca yang menyebutkan dalam hidup, hanya pikiran dan reaksi kita yang bisa sepenuhnya dikendalikan, sedangkan hal eksternal, termasuk keinginan orang lain, tidak. Pelajaran ini mengajarkan kesabaran dan penerimaan.

3. Kesalahan Bisa Terjadi pada Siapa Saja, dan Kita Tidak Perlu Menghakimi

Di pintu tol Cikampek, mobil pengawal (patwal) hampir menabrak portal tol, sehingga sistem tol sempat error di pintu tol berikutnya, dan mobil yang kami tumpangi harus tertahan di pintu tol.  Kami harus menunggu petugas memperbaiki masalah tersebut.

Pelajaran penting di sini, kesalahan bisa datang dari mana saja, bahkan dari pihak yang seharusnya paling terlatih. 

Daripada membicarakan kekeliruan orang lain untuk memuaskan diri, lebih baik merenung mengapa masalah itu justru menghampiri kita yang tidak bersalah. Ini mengajarkan empati dan kesadaran bahwa manusia tak luput dari salah.

4. Hukum Getaran, Alam Merespons Energi yang Kita Pancarkan

Sesampainya di Lembur Pakuan, saya terkesan dengan kebersihan dan penataan lingkungan. 

Saat merekam patung Dwarapala (penjaga gerbang dalam mitologi Hindu), saya berkomentar: ”Penjaga rumah harus berwajah keras agar orang berpikir dua kali sebelum masuk.”

Tanpa diduga, saya justru dicegat oleh petugas keamanan dan tidak diizinkan masuk karena ruangan sudah penuh. Seolah alam merespons komentar saya tadi.

Pelajaran terakhir, hidup bekerja dengan getaran (vibrasi). Apa yang kita ucapkan sekalipun terhadap benda mati, dapat memancarkan energi yang akhirnya kembali kepada kita. 

Jika kita memancarkan kebaikan, alam akan merespons dengan cara yang sama. Kita tidak perlu meminta, cukup menjaga getaran positif, dan semesta akan memberikan balasannya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa dalam setiap momen, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, baik dari insting, keterbatasan kendali, kesalahan orang lain, maupun hukum alam.
Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

Posting Komentar untuk "Empat Pelajaran dari Perjalanan ke Lembur Pakuan"